Ada sebuah kebenaran pahit yang jarang diakui: sebuah negara tidak akan pernah benar-benar merdeka jika rakyatnya masih terikat oleh rantai ketergantungan yang berlapis-lapis. Kita bergantung pada impor untuk piring makan kita, kita bergantung pada utang luar negeri untuk pembangunan kita, dan kita bergantung pada pusat untuk setiap keputusan kecil di desa kita.
Ketergantungan adalah musuh terbesar demokrasi. Sebab, siapa pun yang mengendalikan sumber daya Anda, dialah yang mengendalikan suara Anda. Jika sebuah komunitas tidak mandiri secara pangan, energi, dan ekonomi, mereka akan selalu menjadi tawanan kepentingan pihak-pihak yang memiliki modal besar. Mereka akan mudah didekte, mudah dibeli, dan mudah diabaikan.
Partai Gema Bangsa hadir untuk memutus rantai itu, satu demi satu.
Strategi kami sederhana namun radikal: Kemandirian negara hanya bisa terjadi jika kemandirian komunitas sudah terbentuk. Kita tidak bisa mengharapkan Indonesia berdaulat di mata dunia jika desa-desa kita masih lumpuh tanpa bantuan pusat. Kita tidak bisa bicara tentang ketahanan nasional jika setiap kali ada krisis global, dapur-dapur di rumah kita langsung berhenti berasap.
Memutus rantai ketergantungan berarti:
-
Mendorong setiap komunitas memiliki Lumbung Pangan sendiri, sehingga kita tidak perlu panik saat harga komoditas dunia dipermainkan spekulan.
-
Membangun kedaulatan Energi Terbarukan di tingkat lokal, sehingga desa-desa bisa menyalakan lampu tanpa harus terus-menerus membebani kas negara dengan subsidi energi fosil yang kotor.
-
Mengembalikan kendali Ekonomi Lokal ke tangan warga, sehingga perputaran uang tidak lari ke gedung-gedung tinggi di Jakarta atau rekening di luar negeri, melainkan tetap tinggal di lingkungan tetangga kita sendiri.
Saat komunitas-komunitas kita kuat dan mandiri, negara akan memiliki fondasi yang tidak tergoyahkan. Kita tidak lagi menjadi negara yang bisa digertak oleh kepentingan asing atau disandera oleh kelompok kepentingan tertentu. Negara yang mandiri adalah negara yang dibangun oleh rakyat yang sudah merdeka di tanahnya sendiri, di komunitasnya sendiri, dan di rumahnya sendiri.
Hari ini, mari kita mulai memutus rantai itu. Mari kita berhenti bertanya, “Apa yang bisa diberikan negara untuk saya?” dan mulai bertanya, “Bagaimana saya dan komunitas saya bisa mandiri agar tidak terus-menerus bergantung pada belas kasihan?”
Karena kemandirian adalah jalan satu-satunya menuju martabat.
