29.9 C
Jakarta

Mengakar di Masyarakat, Cherish Harriette Tekankan Keteladanan Elit dan Keadilan Pembangunan dalam Dialog Kebangsaan

Baca Juga:

KOTAMOBAGU – Anggota MPR RI/DPD RI, Cherish Harriette, B.A(Hons)., M.B.A, melanjutkan rangkaian agenda Dengar Pendapat Masyarakat dengan mengunjungi konstituen di wilayah Kotamobagu Utara, Barat, hingga Selatan pada 13 dan 14 Desember 2025. Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan ini menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan keresahan terkait keteladanan kepemimpinan hingga keadilan sosial.

Rangkaian kegiatan marathon ini diawali pada Sabtu (13/12) pagi di Kediaman Keluarga Gulimat Mokoginta, Desa Bilalang 2, Kotamobagu Utara. Di hadapan 150 peserta, Cherish menyerap aspirasi kritis mengenai pentingnya keteladanan elit politik. Menanggapi keluhan warga soal pejabat yang lebih sibuk melakukan pencitraan di tengah bencana, Cherish menegaskan bahwa pemimpin sejati harus hadir memberikan ketenangan batin bagi rakyatnya. “Pemimpin yang menunjukkan keteladanan saat krisis sedang menjalankan perintah konstitusi yang paling mendasar, yaitu melindungi nyawa rakyatnya,” tuturnya.

Diskusi berlanjut pada siang harinya di Kediaman Keluarga Anasiru-Mokoginta, Kelurahan Kotamobagu, Kotamobagu Barat. Di lokasi ini, Cherish mengajak masyarakat untuk bijak menggunakan media sosial sebagai etalase Bhinneka Tunggal Ika. Terkait gaya komunikasi pejabat publik, ia sepakat bahwa pejabat harus bicara dengan adab karena mereka digaji oleh rakyat melalui pajak. “Mari gunakan jari kita untuk merekatkan persaudaraan, bukan meretakkan. Sesuai prinsip the right man in the right place, kepemimpinan yang berkarakter adalah kunci kemajuan daerah,” jelas senator muda ini.

Puncak rangkaian kegiatan dilaksanakan pada Minggu (14/12) pagi di Kediaman Keluarga A. Setiawan Mokodompit, Kelurahan Pobudayan, Kotamobagu Selatan. Dalam sesi ini, isu keadilan pembangunan menjadi topik utama. Cherish menegaskan komitmennya di DPD RI untuk terus mengawal pergeseran paradigma pembangunan dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris.

“Pancasila adalah working ideology atau ideologi yang bekerja. Keadilan sosial harus dirasakan dari Aceh sampai Papua. Salah satu wujud nyatanya adalah penguatan Dana Desa. Jika desa kuat, maka pondasi NKRI akan kokoh,” tegas Cherish di depan 150 tokoh masyarakat dan pemuda yang hadir.

Di akhir setiap sesi, Cherish senantiasa menekankan bahwa pendidikan karakter (Nation and Character Building) adalah investasi jangka panjang agar bangsa Indonesia tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas Pancasila. Ia berharap nilai-nilai empat pilar tidak hanya dihafal, tetapi menjadi gaya hidup dalam keseharian, mulai dari budaya antre hingga perilaku jujur dan toleran.

Melalui dialog ini, masyarakat Kotamobagu menyampaikan harapan besar agar penegakan hukum di Indonesia tidak lagi “tajam ke bawah tapi tumpul ke atas”, melainkan berdiri tegak secara profesional sebagai perekat utama persatuan nasional.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!