30.1 C
Jakarta

Menyingkap “Kesibukan Semu” di Sekolah Kita: Apa Kata Data?

Baca Juga:

GARUT, MENARA62.COM – Melanjutkan pembahasan kita tentang Prinsip Pareto dan kemungkinan penggunaannya di dunia pendidikan kita, mari kita hadapi sebuah fakta : “Guru adalah salah satu profesi tersibuk di dunia, namun kesibukan itu tidak selalu berbanding lurus dengan hasil belajar siswa”.

Mengapa bisa demikian? Beberapa riset tentang efektifitas pembelajaran pendidikan modern selama dua dekade terakhir telah memberikan jawabannya. Tanpa sadar, sistem pendidikan kita sering kali memaksa guru menghabiskan 80% energinya untuk aktivitas yang terbukti secara ilmiah memiliki dampak minim (The Trivial Many). Mari kita bedah buktinya dalam dua area utama: Kurikulum dan Strategi Mengajar.
1. Mitos Kurikulum: “Satu Meter Lebarnya, Satu centi Dalamnya”
Pernahkah Anda merasa dikejar target untuk “menghabiskan materi” di buku teks sebelum ujian semester? Ini adalah jebakan klasik.

Peneliti pendidikan terkemuka, Robert Marzano , melakukan analisis terhadap standar kurikulum di Amerika Serikat (yang kondisinya sangat mirip dengan banyak negara lain). Temuannya mengejutkan: jika seorang guru ingin mengajarkan semua standar kompetensi yang tertulis dalam dokumen kurikulum dengan kualitas yang baik, siswa harus bersekolah dari TK hingga Kelas 22 (bukan Kelas 12) untuk menyelesaikannya.

Saat ini belum kita peroleh perbandingannya, bagaimana bila penelitian tersebut dilakukan pada kurikulum di negara kita ini. Namun sekarang pun kita bisa menilai, betapa beratnya beban materi yang diberikan kepada siswa siswa didik kita, belum lagi bila mereka dihadapkan pada sekolah khusus, misalkan dengan muatan muatan pelajaran tambahan yang dianggap sebagai suatu kelebihan dari sekolah tersebut.

Karena waktu kita terbatas, guru sering kali terpaksa melakukan pembelajaran yang dangkal, menyentuh semua topik tetapi tidak mendalam. Pembelajaran disampaikan sekedar tuntas mata pelajaran, tanpa memperhatikan dampak pembelajaran tersebut pada siswanya. Inilah inefisiensi terbesar.

Solusi yang ditawarkan Prinsip Pareto di sini adalah konsep ” Power Standards” (Standar Prioritas) . Penelitian prinsip Paretto terhadap hal ini dilakukan Douglas Reeves dan Larry Ainsworth menemukan bahwa tidak semua materi itu setara kepentingannya. Ada sekitar 20% materi “jangkar” yang jika dikuasai siswa, akan memberikan 80% bekal akademis mereka.

Mereka menggunakan analogi “Tiang Pagar dan Rel” (Fence Posts and Rails). Standar Prioritas adalah Tiang Pagar, fondasi yang harus ditanam dalam-dalam. Sedangkan materi lainnya hanyalah Rel, penghubung yang cukup diperkenalkan saja. Untuk memilih “Tiang Pagar” ini, riset menyarankan tiga filter.
• Endurance (Ketahanan): Apakah ilmu ini masih akan diingat dan berguna 5 tahun lagi? (Contoh: Kemampuan menulis argumen vs. Menghafal tahun perang).
• Leverage (Daya Ungkit) : Apakah ilmu ini membantu siswa di mata pelajaran lain? (Contoh: Membaca grafik data di Matematika sangat berguna untuk Sains dan IPS).
• Readiness (Kesiapan) : Apakah ini syarat mutlak untuk jenjang berikutnya?

2. Jebakan Strategi Mengajar: Menghentikan Praktik “Zombie”
Di sisi pengajaran, Profesor John Hattie memberikan bukti yang lebih tak terbantahkan melalui riset Visible Learning-nya, yang merangkum lebih dari 800 meta-analisis. Hattie mengukur setiap strategi mengajar dengan “Effect Size” (Ukuran Dampak). Strategi dengan skor di bawah 0.40 dianggap kurang efektif dibandingkan usaha yang dikeluarkan.Sayangnya, banyak praktik yang sangat populer di sekolah kita ternyata masuk dalam kategori “Trivial Many” (Dampak Rendah) , seperti :
• Gaya Belajar (Learning Styles) : Ide untuk mengajar siswa visual, auditori, dan kinestetik secara terpisah sangat populer. Namun, riset menunjukkan dampaknya sangat kecil (d < 0.20). Mencoba membuat tiga versi pelajaran berbeda adalah pemborosan waktu perencanaan yang masif dengan hasil nihil.
• Popcorn Reading / Round-Robin : Meminta siswa membaca nyaring bergiliran di kelas. Riset menunjukkan ini justru menghambat pemahaman, mempermalukan siswa yang lambat membaca, dan membuat siswa lain bosan/melamun saat menunggu giliran.5 Ini adalah contoh klasik aktivitas yang memakan waktu (80%) tapi merusak minat baca (hasil negatif).
• Menahan Siswa Tinggal Kelas (Retention): Secara statistik, ini memiliki dampak negatif (d = -0.13). Siswa yang tinggal kelas jarang mengejar ketertinggalan dan justru kehilangan motivasi.6
Sebaliknya, apa 20% Vital Few yang harus kita kejar?

Hattie menemukan “permata tersembunyi” yang sering kali gratis tapi butuh perubahan pola pikir:
• Efikasi Guru Kolektif (d = 1.57): Keyakinan bersama satu ruang guru bahwa “kita bisa membuat anak-anak ini sukses” adalah faktor nomor satu yang paling berdampak.4
• Diskusi Kelas (d = 0.82): Berhenti berceramah. Buat siswa berbicara satu sama lain tentang materi. Biarkan mereka yang lelah berpikir, bukan Anda.
• Kejelasan Guru (d = 0.75) : Menjelaskan di awal pelajaran: “Apa yang akan kita pelajari?” dan “Apa kriteria suksesnya?”.

Kesimpulan Sementara:
Data menunjukkan kita sering bekerja terlalu keras untuk hal yang salah (mengejar target buku teks, membedakan gaya belajar, mendiktekan bacaan). Prinsip Pareto mengajak kita untuk berani memangkas yang tidak perlu, agar kita punya energi untuk melakukan yang benar-benar berdampak: memperdalam materi kunci dan membangun diskusi yang bermakna.
Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya ?….

number number reference
https://justaskpublications.com/power-standards/
https://www.michiganassessmentconsortium.org/wp-content/uploads/What-do-we-mean-by-Power-Standards-by-Dr.-Angela-Peery.pdf
https://www.creativeleadership.net/blog/2014/10/1/next-generation-accountability
https://www.michiganassessmentconsortium.org/wp-content/uploads/What-do-we-mean-by-Power-Standards-by-Dr.-Angela-Peery.pdf
https://www.creativeleadership.net/blog/2014/10/1/next-generation-accountability

Garut, 14 Januari 2026 @peacesantrenwelasasih

Tulisan 2 dari 3 tulisan berkesinambungan*
The What : Realitas di Dunia Pendidikan (Bukti Riset )

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!