Oleh: Suyoto (pengajar Unmuh Gresik, Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah)
GRESIK, MENARA62.COM – Memasuki tahun 2026, bangsa Indonesia dianugerahi satu modal penting yang patut disyukuri: optimisme publik yang tinggi. Survei Ipsos menunjukkan sekitar 90 persen masyarakat Indonesia meyakini masa depan bangsa akan lebih baik. Di tengah dunia yang diliputi ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, dan krisis ekologis, angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu bangsa paling optimistis di dunia.
Dalam perspektif Islam, optimisme bukan sekadar sikap psikologis. Ia adalah bagian dari husnuzan kepada Allah, keyakinan bahwa masa depan dapat diperbaiki melalui ikhtiar, ilmu, dan amal saleh. Namun Islam juga mengajarkan bahwa setiap nikmat adalah amanah. Optimisme, bila tidak dirawat dengan kejujuran dan tanggung jawab, dapat berubah menjadi harapan palsu yang melahirkan kekecewaan dan ketidakpercayaan.
Di sinilah pentingnya merawat optimisme bangsa sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keislaman.
Beberapa sinyal global patut menjadi bahan muhasabah bersama. Penurunan rating investasi Indonesia oleh Moody’s, serta pembekuan penyesuaian indeks oleh MSCI karena kekhawatiran terhadap transparansi data, tidak seharusnya dibaca sebagai ancaman, apalagi disikapi secara defensif. Dalam kacamata etika Islam, kritik adalah nasihat—dan nasihat adalah bentuk kasih sayang.
Islam berkemajuan, sebagaimana diajarkan Muhammadiyah, menempatkan kejujuran, akuntabilitas, dan rasionalitas sebagai fondasi kemajuan. Karena itu, sinyal-sinyal eksternal tersebut semestinya menjadi pemicu perbaikan tata kelola, bukan sekadar persoalan citra.
Optimisme publik hanya akan bertahan jika ia disertai kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari konsistensi, keterbukaan, serta keberanian mengakui kekurangan. Dalam Al-Qur’an, Allah memperingatkan agar amanah tidak dikhianati, termasuk amanah kekuasaan dan pengelolaan harta publik. Negara yang menutup-nutupi data, mengaburkan kebijakan, atau menjauh dari aspirasi rakyat sejatinya sedang menggerogoti optimisme yang dimilikinya sendiri.
Dalam konteks ini, peran pemerintah menjadi sangat strategis. Pemerintahan yang kuat bukanlah yang bebas kritik, melainkan yang mampu menjelaskan arah kebijakan secara jujur dan dapat dipahami publik. Transparansi fiskal, konsistensi regulasi, serta keterbukaan terhadap evaluasi harus dipandang sebagai bagian dari ibadah sosial, bukan beban administratif.
Dunia usaha pun memikul tanggung jawab moral yang tidak kecil. Islam menempatkan aktivitas ekonomi sebagai bagian dari muamalah yang sarat nilai. Keuntungan tidak boleh dipisahkan dari keadilan dan kejujuran. Dunia usaha yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek dengan mengorbankan transparansi sejatinya sedang melemahkan fondasi ekonomi itu sendiri. Sebaliknya, praktik bisnis yang berintegritas akan memperkuat kepercayaan pasar sekaligus menjaga optimisme publik.
Media, ilmuwan, dan masyarakat sipil memiliki peran sebagai penjaga nurani publik. Media dituntut tidak sekadar mengejar sensasi, tetapi menghadirkan pencerahan. Ilmuwan dan akademisi termasuk para da’i bertugas menerjemahkan kompleksitas kebijakan agar dapat dipahami umat. Masyarakat sipil, termasuk organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, dipanggil untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dalam makna yang luas: mengawal kebijakan agar tetap berpihak pada keadilan, kemaslahatan, dan masa depan bersama.
Sejarah bangsa ini memberikan pelajaran yang jelas. Indonesia merdeka bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan keyakinan, persatuan, dan gotong royong. Namun rezim demi rezim runtuh ketika kepercayaan publik terkikis oleh ketertutupan dan penyalahgunaan kekuasaan. Optimisme rakyat tidak pernah hilang secara tiba-tiba; ia luntur perlahan ketika amanah diabaikan.
Karena itu, merawat optimisme bangsa sejatinya adalah bagian dari jihad peradaban. Jihad untuk menegakkan kejujuran dalam tata kelola, memperjuangkan keadilan dalam ekonomi, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan jangka panjang.
Muhammadiyah, dengan warisan Islam berkemajuan, memiliki peran penting dalam ikhtiar ini: menjadi kekuatan moral yang menjaga agar optimisme bangsa tidak terlepas dari nilai, dan kemajuan tidak tercerabut dari akhlak. Optimisme yang disertai amanah akan menjadi energi tanpa batas; optimisme tanpa nilai hanya akan menjadi ilusi.
Gresik, 9 Februari 2026
