11. Tiga Jam
Kubuka kamar tamu yang tidak begitu jembar 3 X 3 meter. Setengah kaget aku dapati Rohman ada disitu. Menghadapi laptopku yang tidak baru. Boleh dikatakan butut. Laptop generasi lama. Tapi bandel. Jarang rusak. Memang agak berat. Kemana-mana aku bawa. Ke sekolah, ke kalurahan, rapat-rapat tidak jarang laptop butut ini selalu menemani.
“Sedang apa le?” tanyaku basa-basi. Habis Maghrib.
“Belajar-lah,” jawabnya. tanpa melihatku. Khusuk. Pada layar monitor aku lirik memang ada soal matematika, yang aku sedikit masih mengenalnya. Materi Persamaan dan pertidaksamaan. Tetapi sudah tingkat tinggi, karena memakai pangkat-pangkat. Bukan persamaan yang sederhana. Namun sejurus kemudian muncul tulisan besar di layar : 2.47.
“Disetting 3 jam ?” tanyaku mendekat. Hingga pipiku bersentuhan dengan pipinya.
“Iya, mau belajar 3 jam.” Jawabnya dingin.
“Sudah Maghrib?”
Tidak menjawab. Tetapi aku tengok di ruang sebelah yang biasa untuk sholat keluarga, ada sarung yang tidak beraturan. Itu tandanya Rohman sudah sholat. Dalam hati aku mengucapkan syukur kepada-Nya. Ada progres. Karena sering kali, bahkan tidak terhitung jumlahnya, aku selalu menasehati : belajar, belajar. Apalagi mau kuliah. Selama ini aku lihat, kamarnya tidak ada bekas orang belajar. Bukunya tidak tertata baik. Kalau tidak mau dikatakan berserakan. Baru agak ditata kalau mau berangkat sekolah. Biasanya habis Maghrib langsung tancap dengan gadgetnya. Hanya berhenti sholat isya. Bahkan makan saya, sambil memegang HP. Game.
Harapan untuk sekolah di Kairo kembali bersemi dalam hati. Meski perlahan. Meski tidak aku verbalkan kepadanya. Hanya aku panjatnya kepada-Nya. Yang Maha membolak-balikkan hati anak manusia.
Kemarin-kemarin jangankan melanjutkan sekolah di Kairo. sekolah dalam negeri saja, enggan. Pinginnya bekerja. dapat uang. Lulus SMA itu belum usia kerja. Selalu aku tekankan. Sekolah dulu, jika sudah mempunyai bekal pendidikan, baru mencari pekerjaa, dicari oleh pekerjaan atau menciptakan pekerjaan.
“Bapak bisa membiayai aku kuliah?” katanya satu saat.
“Insya Allah,” jawabku. Sok gagah.
“Banyak, lho pak. Temanku, kakak kelas yang sudah kuliah cerita, habis berjuta-juta. Puluhan juta. Maksudku uang itu aku pakai untuk modal bekerja, nanti kuliah disambi.” terangnya.
“Berapapun, bapak dan ibu akan usahakan. Apalagi hanya kamu yang sekolah di rumah ini, semoga dimudahkan,” Aku tidak perlu menjelaskan kepada Rohman, bahwa aku juga membantu beberapa anak fakir miskin untuk sekolah mereka, minimal bea SPP dan kebutuhan sekolahnya.
Adzan Isya berkumandang. Bersahutan. Dari masjid dan musholah, dekat rumah.
“Berhenti dulu, Isya dulu. Nanti kalau ada kesulitan tanya bapak. Bapak dulu waktu SMA, matematika itu jagonya, hehe,” kataku sok gaya. Aku memang suka pelajaran matematika waktu SMA, meski tidak pinter benar. Sampai aku masih ingat guru matematikaku, bu Eni Rodati. Yang pinter dan cantik. Minimal kalau ada mapel matematika, aku semangat berangkat. Efeknya nilai matematika-ku di rapaort memang diatas rata-rata.
Rohman tidak bergeming. Masih sibuk dengan soal-soalnya. Coretan-coretan dikertas, tanda dia menghitung, menunjukkan bahwa Rohman serius. “Yuk Sholat dulu, nanti terus makan, lanjutkan belajarnya. Itu Alarm jam-nya bisa dimatikan,” kataku sambil aku tinggalkan. Karena, dia hanya menjawab singkat. Ya. Namun pantatnya tidak juga beranjak dari kursi panjang warna hijau di ruang tamu itu.
Aku bergegas ke mushola, belakang rumah. 100 meter. Jalan.
Usai sholat Isya, salam kanan-kiri. Aku lihat Rohman ada. Sebaris denganku. Masbuk. Makmum yang terlambat. Aku kenali dari sarungnya. Setelah salam dan berdoa, aku lihat dia berdiri lagi, sholat 2 rakaat. Dadaku berdesir. Alhamdulillah, progres lagi. Siapa yang menggerakkan hatinya untuk mau sholat ba’diyah ini. Yang selama ini jarang banget dia lakukan. Sholat fardhu saja sering terlambat. Lagi-lagi mulutku berucap syukur kepada-Mu yang Allah, semoga istiqamah. Ini yang masih menjadi ujian. ( bersambung )

