MALAM turun perlahan. Aku buka jendela ruang tamu.. Tidak biasanya aku melakukan itu. Namun malam itu refleks saja. Untuk melampiaskan gelisahnya hati, betapa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Rohman belum juga pulang. Pamitnya hanya mau main ke rumah teman. Aku cek HP-nya masih live on. Aku WA masih jawab.
“Pulang le, sudah larut,”
“Iya, aman. otw,” jawabnya ringan. seringan kapas yang beterbangan di udara. Tanpa beban. Sementara aku dan ibunya menahan beban berat seperti kepala tertindih batu.
Setelah aku rampungkan surat ke-67. Al-Mulk. Aku mencoba tidur setengah bersandar. Harapannya, kalau Rohman pulang, aku bisa melihatnya. Minimal tahu. Kakaknya, Fauzan sudah tertidur pulas, disampingku. Fauzan tidak sampai memikirkan yang berat-berat. jangankan memikirkan orang lain. Dia memikirkan dirinya sendiri saja belum sangggup. Sebagai anak yang dilahirkan penuh kesempurnaan dalam pandangan-Nya, Fauzan harapannya bisa mandiri. Minimal mandi sendiri. Makan sendiri. Kami menerimanya sejak lama. Dan meladeninya kebutuhannya hingga kini dan nanti.
Efek capek. Aku tertidur. Tidak tahu Rohman pulang jam berapa. Biasanya derak pintu dan langkah kaki anak, aku terbangun. Namun malam itu seolah aku setengah mati. Tidak tahu pergerakan benda disekeliling. Begitulah kebanyakan orang kalau sudah tertidur pulas. Maka tidak berlebihan kalau dikatakan, tidur adalah belajar menuju kematian. Ada yang dibangunkan, ada yang “bablas”. Tidur panjang.
Usai sholat malam. Tidak genap 11 rakaat. Karena segera tertabrak adzan subuh. Tidak lama kemudian Terdengar adzan subuh. Mulai bersahutan. Maklum dekat rumah kami ada beberapa masjid besar. Awal bangun, sudah coba aku colek Rohman yang melingkar di kamarnya, dengan kaos hitam, celana pendek hitam. Tanpa selimut. Pulas. Menjawab juga.
“Bangun, sebentar lagi subuh,”
“Iya. Sudah kok,” jawabnya masih rancu. Tanda kalau nyawanya belum kembali pulih.
“Ayo, bangun, subuh, sebentar lagi,” sambil aku pencet hidungnya yang agak mancung. Ia menggeliat, hebat.
“Bapaak..sudahh,” Jawabnya. Masih sekenanya.
Aku tinggalkan sebentar.
Ketika sudah selesai adzan itulah aku kembali ke kamarnya. Sebelum aku bangunkan kembali untuk kesekian kalinya, mataku melihat disekeliling kamarnya. Aku lihat foto Rohman saat masih PAUD, berdiri di depan kami. Dengan senyumnya yang imut dan menggemaskan. Pada masanya. 14 tahun kemudian sudah banyak perubahan. Mulai tumbuh kumis, rambutnya yang tebal setengah ikal.
“Bangun le, sudah adzan. Yuk Subuh,”
“Ngantuk, pak,” jawabnya sudah mulai nyambung.
“Habis subuh, boleh tidur lagi sebentar. Yang penting subuh dulu. Ayok. Biar dapat sholat fajar,” Malah membalikkan badannya. Tengkurap. Pertanda makin alot ini. Aku makin keras membangunkannya. Aku balikkan tubuhnya yang tinggi besar. Berat memang. Aku masih kuat. Matanya mulai terbuka.
“Subuh,”
“Iya,”
“Sekarang,”
“Sudah,”
“Belum,”
“Sudah,”
“Belum,”
Aku lihat ruang yang biasa untuk Sholat. Masih rapi. Pertanda dia belum subuh. Padahal kemarin menyusul di mushola belakang rumah. Masbuk. Kali ini kembali alot, subuhnya. Efek tidur terlalu larut. (bersambung )

