30 C
Jakarta

Opini, SILATURAHMI DAN DOMINASI GADGET

Baca Juga:


Pengantar.
            DALAM sebuah pertemuan keluarga, trah,         syawwalan,  seorang pembawa acara  (MC)   sampai menghentikan acara sesaat dengan meminta kepada hadirin agar gadget atau

Gawai yang mereka bawa dikumpulkan di depan. Alasannya agar mereka lebh fokus. Sepanjang acara, mereka lebih sibuk dengan gadget. Dari anak-anak hingga orang tua.  Akhirnya gadget mereka kumpulkan. Awalnya acara menjadi agak kaku. Namun selanjutnya biasa, hadirin lebih mengikuti acara keluarga yang digelar setahun sekali itu. Lagi pemandangan yang mungkin juga anda alami. Penulis kedatangan mantan murid, 2-3 tahun lalu lulus. Silaturahmi lebaran. Namun di ruang tamu yang tidak begitu luas itu, mereka habiskan dengan HP masing-masing. Kadang cekikian sendiri. Tuan rumah dicuekin.
Masih banyak kejadian serupa. Pertanyaannya, seberapa besar dominasi gadget dapat menggeser formula silaturahmi face to face atau head to head di momentum lebaran ini. Sudah cukupkah  jalinan keluarga  disuasana sakral lebaran yang ditaburi dengan aroma silaturahmi, saling kunjung dan saling meminta dan memberi maaf ini, digantikan dengan cukup saling WA . Tentu tidak. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan kehadiran gadget telah merubah perilaku sosial secara massif.
Jika dilihat dari sisi fungsi gadget, sumber Meta AI, menyebut untuk memudahkan komunikasi, akses informasi, dan meningkatkan produktivitas. Beberapa contoh fungsi gadget adalah: Komunikasi (panggilan, WA,  SMS, email, media sosial) atau dapat melalui Akses internet (browsing, searching, online shopping), atau Hiburan (game, video, musik). Bisa juga gadget untuk menunjang  produktivitas (kerja, belajar, organisasi) bahkan lebih dari itu dapat dimanfaatkan untuk  Kamera (foto, video).

Sebegitu besar ketergantungan kita terhadap gadget (baca : Handphone ) ini, sampai ada analogi umum : Kalau kita berangkat bekerja, HP ketinggalan di rumah, maka bagaimana caranya kita kembali untuk mengambilnya. Sebaliknya kalau dompet kita ketinggalan, yang itu berisi surat-surat penting, kita santai saja. Tidak harus kembali. Sampai anak/istri yang tertinggal di rumah, cukup kita WA untuk berangkat sendiri . Mau tidur, tidak bisa lepas HP. Sampai tertidur, HP masih ditangan.

Apakah HP mengandung zat adiktif, layaknya Napza atau rokok. Sehingga membuat pemakai menjadi kecanduan as? Sumber  yang sama menyebut memang ada sisi buruk ( baca : kekurangan ) gadget.  antara lain: Membuat pemakai menjadi tergantung.  Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Terlalu lama menatap layar gadget dapat menyebabkan masalah kesehatan mata, gangguan tidur, dan masalah postur tubuh.  Ini yang jarang kita perhatikan dan terjadi massif. Apa yang disebut Isolasi Sosial: Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan isolasi sosial dan mengurangi interaksi dengan orang lain. Menyendiri. Mengurung diri di kamar. Asyik dengan dirinya. Abai lingkungan. Dan yang tidak kalah penting adalah keamanan data: Penggunaan gadget dapat membuka risiko keamanan data pribadi dan privasi.

Sisi buruk lain, yang kadang abai kita perhatikan adalah soal cost. Biaya Mahal: Gadget terbaru seringkali memiliki harga yang mahal dan tidak terjangkau oleh semua orang. Kadang kita memaksakan diri untuk membelinya. Sehingga melupakan atau menggeser kebutuhan primer. Ketidaksetaraan Akses: Tidak semua orang memiliki akses ke gadget dan internet, menciptakan kesenjangan digital. Satu lagi adalah, jika tidak proporsional dapat menyebabkan  Gangguan Mental, seperti stres dan kecemasan.

              Epilog:

Apakah gadget mengandung zat adiktif? Tidak. tapi desain dan fitur gadget dapat memicu perilaku adiktif pada pengguna. AI menyebut beberapa contoh: Notifikasi yang terus-menerus dapat memicu pelepasan dopamin, membuat pengguna ingin memeriksa gadget terus-menerus. Game yang dirancang dengan reward system dapat membuat pengguna ingin terus bermain. Satu lagi Media Sosial: Fitur like, comment, dan share dapat memicu pelepasan dopamin dan membuat pengguna ingin terus memeriksa akun media sosial. Semoga kita lebih bijak dalam menggunakan gadget ini. (Sekian)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!