YOGYAKARTA, MENARA62.COM – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah selenggarakan Outlook 2026 pada Sabtu (3/1) di Gedoeng Moehammadijah, Kota Yogyakarta.
Menyampaikan sambutan secara daring, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief menyebut agenda ini menjadi tempat untuk memikirkan ulang model pemberdayaan masyarakat yang telah dirancang dan dilaksanakan MPM.
“Ini membutuhkan pemikiran yang terus menerus untuk bisa dikembangkan, dalam hal ini bagaimana arah baru dari pemberdayaan masyarakat yang akan dilakukan Muhammadiyah ke depan,” tutur Hilman.
Melihat jauh ke depan, Hilman menyodorkan pertanyaan, jika selama ini gerakan pemberdayaan Muhammadiyah menggunakan basis pendanaan dari filantropi islam, namun sampai kapan pola ini akan terus bisa dijalankan?.
Berangkat dari pertanyaan tersebut, Hilman menawarkan pemberdayaan masyarakat berdasarkan filantropi sekaligus kewirausahaan atau bisa disebut sebagai philantropreneurship.
Guru Besar Filantropi Islam ini menjelaskan, pemberdayaan lebih tepat diterjemahkan sebagai empowerment daripada development. Hilman menjelaskan, development lebih kepada fasilitas yang disediakan bagi masyarakat.
“Tetapi kalau empowerment itu lebih kepada internal – memberikan kekuatan, memberikan kemampuan, menambah tenaga (kelompok masyarakat),” katanya.
Secara definitif, empowerment merujuk pada proses masyarakat untuk memiliki kemampuan dan kapasitas supaya membuat keputusan sendiri bagi hidup mereka – masyarakat lebih mandiri tidak tergantung pada entitas eksternal.
Namun demikian, Hilman memandang selama ini yang dilakukan oleh MPM adalah development sekaligus empowerment.
Merujuk beberapa literatur, menurutnya masa depan pemberdayaan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi baru dalam rangka memperkuat masyarakat untuk mentransformasi masa depannya.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin dalam sambutannya mengatakan, tema agenda MPM Outlook 2026 adalah “Masyarakat Berdaya, Indonesia Berjaya”. Agenda ini dihadiri internal MPM PP Muhammadiyah dan berbagai media.
MPM Outlook 2026 merupakan bagian agenda rutinan yang dilakukan oleh MPM PP Muhammadiyah – dengan kemasan berbeda. Sebab sebelum-sebelumnya diselenggarakan berbentuk Rapat Konsolidasi.
Usaha MPM melihat tahun 2026 dilakukan atas kesadaran waktu, Yamin menjelaskan, kehidupan manusia terbagi ke dalam tiga waktu, yakni kemarin, sekarang, dan masa depan.
“Dalam persiapan melangkah ke depan – dalam konsolidasi itu kita tidak boleh takut melakukan repositioning, bahkan melakukan replacement kalau diperlukan. Karena dinamika sosial terus berjalan secara distributif,” ungkap Yamin.
Namun demikian, seluruh gerak langkah yang dilakukan MPM menjadi satu tarikan nafas dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah – khususnya dalam program prioritas yang dihasilkan di Muktamar 48 itu.
Dari delapan program prioritas Muktamar 48, MPM fokus pada nomor tiga yaitu memperkuat dan memperluas basis umat di akar rumput dalam kesatuan langkah Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah, Dakwah Kultural, dan Dakwah Komunitas. (*)
