BANDUNG, MENARA62.COM – Ketua Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Khairiah SP MT memberikan perhatian serius terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak sekolah yang saat ini dijalankan oleh pemerintah.
Menurut Khairiah, program tersebut tidak seharusnya dipahami hanya sebagai upaya untuk mengatasi rasa lapar siswa di berbagai daerah di Indonesia. Lebih dari itu, program MBG perlu berlandaskan pada standar keamanan pangan, kehalalan, dan kecukupan gizi yang optimal agar anak-anak memperoleh asupan makanan yang benar-benar berkualitas.
”Tantangan besar pemerintah dalam menjalankan MBG saat ini adalah memastikan kualitas bahan pangan tetap terjaga dari hulu hingga hilir,” ujar Khairiah dalam program Kultum Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Senin (09/03/2026).
Dia menjelaskan bahwa keamanan pangan harus dijaga secara berkelanjutan. Dimulai dari pemilihan bahan baku yang segar dan minim pestisida hingga proses distribusi makanan kepada para siswa. “Kita harus memastikan bahan baku yang digunakan benar-benar segar agar nilai gizi dan cita rasanya tetap terjaga,” jelasnya.
Selain itu, hal yang tidak kalah urgent, Khairiah juga menekankan pentingnya sistem penyimpanan makanan dan kebersihan wadah distribusi. Kedua aspek tersebut dinilai sangat menentukan agar makanan tetap aman dikonsumsi tanpa risiko kontaminasi. “Aspek penyimpanan dan kebersihan wadah distribusi harus menjadi perhatian utama agar makanan tetap aman dikonsumsi tanpa risiko kontaminasi,” tambahnya.
Prioritas protein
Dalam penyusunan menu MBG, Khairiah merekomendasikan agar pemerintah memprioritaskan penggunaan real food atau makanan alami yang minim proses pengolahan. Dia juga menekankan pentingnya peningkatan kandungan protein dalam menu makanan guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pada sisi lain, dia mengingatkan agar penggunaan Ultra-Processed Food (UPF) atau makanan yang melalui proses pengolahan panjang dan berlebihan dapat dihindari. Pasalnya hal itu berpotensi mengurangi kualitas gizi makanan.
Selain memperhatikan komposisi gizi, Khairiah juga menyarankan agar penyusunan menu MBG mempertimbangkan preferensi makanan anak-anak di rumah. Hal ini penting agar makanan yang disajikan lebih diminati dan tidak terbuang sia-sia.
”Manajemen suplai dan distribusi harus diatur dengan sangat baik. Kita tidak ingin terjadi pemborosan makanan hanya karena menu yang disajikan tidak sesuai dengan selera anak-anak. Padahal, tujuan utama program ini adalah pemerataan akses gizi,” ungkapnya.
Khairiah berharap program MBG dapat terus dikembangkan menjadi program yang efektif, berkualitas, dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Menurutnya, penyediaan makanan yang halal, aman, dan bergizi bagi anak-anak merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
”Sebagai praktisi teknologi pangan, kami berharap program MBG dapat memenuhi standar kualitas yang tinggi. Mari kita jaga amanah ini dengan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Makanan yang mereka konsumsi hari ini akan menentukan kualitas kesehatan dan intelektualitas mereka di masa depan,” pungkas Khairiah. (FA/FK)
