30 C
Jakarta

Pengajian Qabla Ifthar, Wiwit: Jangan Tunda Amal

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pengajian Qabla Ifthar di Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta, Ahad (1/3/2026), berlangsung khidmat dan penuh antusiasme jemaah. Kegiatan Ramadan 144 Hijriah ini menghadirkan Sekretaris Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Surakarta, H Wiwit Hidayat, sebagai penceramah.

Dalam tausiyahnya, Wiwit Hidayat menekankan pentingnya semangat berjihad dalam makna luas serta urgensi melaksanakan amal saleh tanpa menunda-nunda, khususnya di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Optimalkan Ramadan 144 Hijriah

Ceramah diawali dengan puji syukur kepada Allah SWT atas nikmat iman dan kesempatan menjalankan ibadah puasa. Selawat dan salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Wiwit mengajak jemaah memaksimalkan Ramadan 144 Hijriah dengan meningkatkan kualitas ibadah, baik yang bersifat ritual maupun sosial. “Ramadan adalah momentum emas untuk memperbanyak amal saleh dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Tafsir Surah At-Taubah dan Konteks Jihad

Dalam kajiannya, Wiwit mengulas kandungan ayat dalam Surah At-Taubah yang berkaitan dengan perintah berjihad. Ia menjelaskan, secara historis ayat tersebut turun dalam konteks Perang Tabuk, ketika umat Islam menghadapi kekuatan besar Romawi.

Saat itu, kata dia, umat Islam belum memiliki pasukan profesional. Mayoritas yang berangkat berperang adalah petani dan pedagang dengan keterbatasan logistik, jarak tempuh yang jauh, serta kondisi paceklik.

“Musuh yang dihadapi adalah negara adidaya seperti Romawi dan Persia. Kalau hari ini mungkin kita mengenal negara-negara besar seperti Amerika dan Tiongkok,” jelasnya sebagai perbandingan konteks global.

Namun, ia menegaskan bahwa makna jihad tidak semata-mata perang fisik.

Jihad di Era Modern

Menurut Wiwit, jihad pada masa kini mencakup berbagai bentuk perjuangan, seperti mencari nafkah yang halal, menuntut ilmu, berdakwah, hingga berkontribusi di bidang sosial.

“Jihad adalah usaha sungguh-sungguh dengan jiwa dan harta, dalam kondisi sempit maupun lapang. Setiap profesi memiliki ladang jihadnya masing-masing,” katanya.

Ia menekankan bahwa semangat berjihad harus dibarengi dengan keikhlasan dan kesungguhan. Dalam konteks Ramadan, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya.

Jangan Menunda Amal Saleh

Salah satu poin utama ceramah adalah larangan menunda amal kebaikan. Wiwit mengisahkan seorang pemuda yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pahala syahid apabila berperang dengan niat ikhlas. Rasulullah menegaskan bahwa niat yang tulus dan kesungguhan dalam berjihad akan mendapat ganjaran besar.

“Kesempatan beramal itu tidak selalu datang dua kali. Jika hari ini ada peluang bersedekah, membantu sesama, atau berbuat baik, maka lakukan segera,” tegasnya.

Ia mengingatkan, penundaan kebaikan berpotensi menghilangkan kesempatan dan pahala. Karena itu, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk melatih diri agar responsif terhadap peluang amal saleh.

Momentum Meningkatkan Kualitas Diri

Pengajian Qabla Ifthar ini ditutup dengan harapan agar jemaah mampu menjadikan Ramadan sebagai sarana meningkatkan ketakwaan. Wiwit mengajak seluruh hadirin untuk menanamkan semangat tidak menunda amal serta memperluas makna jihad dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga apa yang kita lakukan di bulan suci ini menjadi amal yang diridai Allah SWT dan memberi manfaat, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat,” pungkasnya.

Pengajian berlangsung hingga menjelang waktu berbuka puasa dan diakhiri dengan doa bersama. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!