30 C
Jakarta

Pengajian Ramadan ’Aisyiyah Jawa Tengah Angkat Isu Aktual

Baca Juga:

SEMARANG, MENARA62.COM — Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah menggelar Pengajian Ramadan 1447 Hijriah secara hybrid (luring dan daring) pada Ahad (22/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional dengan tema-tema aktual, mulai dari fikih keluarga hingga kebencanaan.

Pengajian yang menjadi agenda rutin persyarikatan ini menghadirkan Dr. H. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag., dengan materi Nikah Siri dalam Perspektif Tarjih Muhammadiyah. Selain itu, Prof. Dr. H. Rozihan, S.H., M.Ag., menyampaikan materi Birrul Walidain di Era Digital, serta H. Budi Setiawan, S.T., Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center, yang membahas Fikih Kebencanaan.

Rozihan menilai pengajian Ramadan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sarana pengayaan literasi dan penguatan spiritual anggota ’Aisyiyah. Menurut dia, lembaga spiritual di tubuh ’Aisyiyah memiliki peran progresif dalam meningkatkan kapasitas keilmuan peserta.

“Pengajian ini sangat bermanfaat, terutama bagi calon mubalighat Muhammadiyah. Selama ini, jika ada kajian dari kalangan perempuan, narasumbernya sering kali masih laki-laki. Tradisi penguatan mubalighat perempuan perlu dibangun terus-menerus agar umat tidak kekurangan narasumber yang memiliki referensi dan literasi memadai,” ujar Rozihan.

Ia menambahkan, kajian seperti ini tidak semestinya berhenti pada momentum Ramadan saja, tetapi berkelanjutan agar penguatan kapasitas mubalighat semakin kokoh.

Sementara itu, Budi Setiawan menegaskan bahwa Pengajian Ramadan merupakan istilah yang populer di lingkungan Muhammadiyah di berbagai jenjang kepemimpinan. Namun, ia menilai tema fikih kebencanaan menjadi sangat relevan untuk terus disosialisasikan.

Menurut Budi, meskipun fikih kebencanaan telah dirumuskan sekitar satu dekade lalu, pemahaman di tingkat akar rumput belum merata. Karena itu, edukasi berbasis agama tentang kebencanaan perlu diperkuat, termasuk di lingkungan ’Aisyiyah.

Ia mendorong agar warga ’Aisyiyah memahami potensi bencana di lingkungan masing-masing serta melakukan langkah preventif. Salah satu gagasan yang ia tekankan adalah pentingnya “titik kumpul” di setiap dasawisma atau rukun tetangga (RT) sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana.

“Kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan diri harus dibangun. Jika setiap ranting memiliki titik kumpul dan memahami apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, itu akan menjadi gerakan yang sangat kuat,” kata Budi.

Ia juga mengapresiasi keberadaan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ’Aisyiyah yang dinilai strategis dalam mengintegrasikan isu lingkungan dan kebencanaan.

Pengajian Ramadan ’Aisyiyah se-Jawa Tengah 1447 H ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman fikih keluarga, etika digital, hingga kesiapsiagaan bencana berbasis nilai-nilai Islam, sekaligus memperkokoh peran perempuan dalam dakwah dan pengabdian kepada masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!