SOLO, MENARA62.COM – Pengkaderan di lingkungan Muhammadiyah tidak selalu membutuhkan biaya besar. Yang terpenting adalah semangat, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Pembina Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta, Suyanto, dalam acara buka puasa bersama di SFA Steak and Resto Klodran, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Senin (16/3/2026).
Menurut Suyanto, proses pengkaderan harus terus bergerak dan tidak boleh stagnan. Organisasi perlu menghadirkan terobosan baru yang adaptif terhadap dinamika zaman agar kaderisasi tetap relevan dan berkelanjutan.
“Pengkaderan Muhammadiyah yang berkemajuan tidak harus mahal. Yang penting ada inovasi dan semangat menggerakkan organisasi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peran ranting dan cabang dalam menghidupkan gerakan kaderisasi. Ranting menjadi basis utama gerakan, sementara cabang harus terus berkembang dengan memakmurkan masjid sekaligus memakmurkan jamaahnya.
Suyanto juga menegaskan bahwa kegiatan pengkaderan tidak harus selalu dilakukan di tempat mewah. Bahkan, menurutnya, peserta dapat memanfaatkan ruang kelas sekolah maupun masjid sebagai tempat kegiatan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran sejumlah tokoh dan kader Muhammadiyah yang hadir dalam kegiatan silaturahmi tersebut, termasuk konsultan MPKSDI Sukidi serta Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jebres.
“Acara ini menjadi ajang silaturahmi antara organisasi otonom dan MPKSDI PCM. Kita juga belajar dari berbagai pengalaman dalam menggerakkan organisasi dan menghidupkan amal usaha Muhammadiyah,” katanya.
Sementara itu, Ketua PCM Jebres Bambang Condro Haryadi yang menjadi pembicara menekankan bahwa kader Muhammadiyah harus memiliki bekal utama berupa ketakwaan. Ia mengutip Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 197 yang menegaskan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa.
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa,” ujarnya.
Selain takwa, Bambang menegaskan bahwa kader Muhammadiyah juga harus menguasai hukum dan informasi. Menurutnya, kedua hal tersebut menjadi kekuatan penting dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks.
Ia menilai Kota Solo memiliki daya tarik besar dalam dinamika gerakan Muhammadiyah, selain pusat-pusat gerakan lain seperti Yogyakarta dan Sumatra Barat.
“Yang menguasai hukum dan informasi akan memiliki pengaruh besar. Informasi bisa menjadi alat yang sangat kuat, tergantung siapa yang memegangnya,” jelasnya.
Bambang menambahkan, jika hukum dan informasi berada di tangan kader yang tepat, maka hal itu dapat menjadi kekuatan strategis untuk mendorong kemajuan Muhammadiyah.
“Informasi bisa seperti pisau. Jika dipegang koki akan menjadi makanan lezat. Jika dipegang kader yang tepat, hukum dan informasi akan membawa kemajuan bagi persyarikatan,” pungkasnya. (*)
