SOLO, MENARA62.COM – Penguatan nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) kembali digelar bagi siswa sekolah Muhammadiyah di Kota Solo. Kegiatan kolaborasi antara Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas bersama Majelis Pendidikan PDM Surakarta itu berlangsung di Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta, Jumat (27/2/2026).
Peserta kegiatan kali ini berasal dari SMA Muhammadiyah 6 Surakarta dan SMK Muhammadiyah 3 Surakarta. Hadir sebagai pemateri, anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah Surakarta, Ibrahim Landung Nugroho, S.H., S.Ag.
Dalam pemaparannya, Ibrahim yang berusia 51 tahun membuka sesi dengan memperkenalkan latar belakang pendidikannya di SMA dan SMK. Ia juga berbagi pengalaman mengajar di SMK Muhammadiyah selama tiga tahun bersama sejumlah guru senior.
Tadabbur Surah Al-Furqan Ayat 27
Memasuki materi inti, Ibrahim mengajak para siswa membuka dan membaca Surah Al-Furqan ayat 27 secara tartil. Ia menegaskan pentingnya kesiapan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Salah satu peserta pun diminta membacakan tiga ayat dengan diawali ta’awudz dan basmalah.
“Jazakumullah khairon katsir,” ucapnya mengapresiasi bacaan peserta.
Ayat tersebut menjadi pintu masuk pembahasan tentang penyesalan seseorang di akhirat karena memilih teman yang menyesatkan dan tidak mengikuti jalan Rasulullah SAW.
Soroti Fenomena “Perang Sarung” di Solo
Ibrahim juga menyinggung fenomena “perang sarung” yang tengah viral di Solo. Ia menegaskan, aksi tersebut bukan bagian dari ajaran Islam maupun aktivitas ibadah seperti salat Tarawih, melainkan persoalan sosial akibat pergaulan dan konflik antarteman.
“Ini bukan ajaran agama, tetapi persoalan pertemanan dan lingkungan,” tegasnya di hadapan para siswa.
Kisah Uqbah bin Abi Muid
Untuk menguatkan pesan, ia mengisahkan perjalanan hidup Uqbah bin Abi Mu’ayt. Uqbah diceritakan pernah dekat dengan Rasulullah SAW dan akhirnya memeluk Islam. Namun, tekanan dari lingkungan pertemanan lamanya membuat ia kembali pada kekafiran.
Ia mendapat intimidasi dari tokoh Quraisy seperti Umayyah bin Khalaf dan Ubay bin Khalaf. Demi mempertahankan pertemanan, Uqbah rela melakukan tindakan yang mengkhianati Rasulullah SAW. Pada akhirnya, ia tewas dalam peperangan setelah dinyatakan murtad.
“Kisah ini menjadi pelajaran bahwa salah memilih teman bisa berujung fatal, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat,” jelas Ibrahim.
Teman: Vitamin atau Racun
Dalam ceramahnya, Ibrahim mengibaratkan teman sebagai “vitamin” yang menyehatkan atau “racun” yang merusak. Teman yang baik akan mendorong pada kebaikan, seperti menghafal Al-Qur’an, belajar bersama, dan saling mengingatkan ketika futur.
Sebaliknya, teman yang buruk dapat menjerumuskan pada perilaku negatif seperti minuman keras dan tindakan menyimpang lainnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsep mawadah dan ukhuwwah Islamiyah. Menurutnya, persaudaraan karena iman jauh lebih kuat dibandingkan hubungan darah.
Hidup Singkat, Jangan Salah Pilih Lingkungan
Ibrahim mengingatkan bahwa hidup sangat singkat dan kematian bisa datang kapan saja, termasuk di bulan Ramadan. Karena itu, para siswa diminta berpikir jangka panjang hingga kehidupan akhirat.
Menjawab pertanyaan peserta tentang mitos setan dibelenggu saat Ramadan, ia menegaskan bahwa perilaku maksiat bukan semata godaan setan, tetapi karena manusia sendiri yang memilih jalan tersebut.
Menutup kajian, Ibrahim mengajak seluruh peserta untuk tidak terlibat dalam “perang sarung” dan terus mengkaji Surah Al-Furqan sebagai pedoman hidup. Ia berharap para siswa kelak dapat berkumpul kembali di surga Allah SWT.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan karakter dan akidah siswa Muhammadiyah di Surakarta agar memiliki lingkungan pertemanan yang sehat, religius, dan berorientasi pada kesuksesan dunia serta akhirat. (*)
