TAIPEI, MENARA62.COM– Kerinduan akan suasana religius yang kental seperti di Tanah Air sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para perantau Indonesia di luar negeri saat bulan suci tiba. Menjawab kebutuhan spiritual tersebut, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan dan Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) menghadirkan terobosan baru dalam dakwah digital. Kedua institusi ini berkolaborasi menyelenggarakan program pesantren jarak jauh yang diberi nama Pesantren Virtual Darul Hadharah Taiwan. Program ini dirancang khusus untuk memfasilitasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Taiwan agar tetap dapat memperdalam ilmu agama secara intensif selama bulan Ramadan.
Inisiatif strategis ini lahir dari pemikiran dan diskusi mendalam antara Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PCIM Taiwan dengan Tim UMB Global Engagement. Kolaborasi ini tidak hanya sekadar menyiarkan ceramah agama, melainkan membentuk sebuah ekosistem pembelajaran yang sistematis bagi para diaspora. Keterlibatan pihak universitas memberikan bobot akademis dan metodologis pada materi yang disampaikan, sementara PCIM Taiwan memahami konteks sosiologis para perantau di lapangan. Sinergi antara organisasi kemasyarakatan di luar negeri dan perguruan tinggi di Indonesia ini diharapkan menjadi model baru dalam pembinaan umat lintas negara.
Secara teknis, Pesantren Virtual Darul Hadharah Taiwan menawarkan kurikulum yang cukup padat dan variatif untuk mengisi hari-hari para santri selama bulan puasa. Beragam kegiatan telah dipersiapkan dengan matang, mulai dari kajian rutin menjelang berbuka puasa yang menjadi santapan rohani harian, hingga kajian akhir pekan yang mengupas tema-tema keislaman secara lebih mendalam. Selain itu, terdapat pula program tahsin Al-Qur’an yang bertujuan memperbaiki bacaan para peserta agar sesuai dengan kaidah tajwid yang benar. Variasi program ini disusun agar tidak monoton dan mampu menjangkau berbagai minat serta kebutuhan spiritual para peserta.
Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PCIM Taiwan, Widi Dwi Noviandi, menjelaskan bahwa format pesantren ini memang didesain unik dengan mengadopsi kemudahan teknologi komunikasi. Platform aplikasi LINE dipilih sebagai ruang kelas virtual utama karena aplikasi ini merupakan sarana komunikasi paling populer dan mudah diakses di Taiwan. “Kami mendesain format pesantren ini seperti layaknya pesantren di Indonesia, namun medianya kami sesuaikan dengan kebiasaan di sini, yaitu memakai platform LINE untuk memudahkan para santri,” ujar Widi. Pendekatan ini dinilai sangat efektif mengingat latar belakang para santri yang notabene adalah pekerja migran, mahasiswa, maupun karyawan profesional yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di seluruh Taiwan.
Lebih jauh, Widi mengungkapkan visi jangka panjang dari pendirian Pesantren Virtual Darul Hadharah Taiwan yang tidak hanya berhenti pada Ramadan tahun ini saja. Ramadan kali ini diposisikan sebagai fase uji coba sekaligus pilot project untuk melihat antusiasme dan efektivitas metode pengajaran yang diterapkan. Widi berharap hasil evaluasi dari pelaksanaan tahun ini nantinya bisa menjadi kajian serius untuk menyempurnakan sistem, sehingga kedepannya pesantren virtual ini dapat dibakukan sebagai lembaga pendidikan Islam yang lebih terstruktur dan permanen. Hingga saat ini, tercatat sudah ada puluhan santri yang mendaftar dan aktif bergabung, di mana jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah seiring semakin luasnya penyebaran informasi di komunitas WNI.
Dari sisi akademis, Kepala UMB Global Engagement, Andi Azhar, menyambut positif realisasi program ini dan menyebutnya sebagai momentum bersejarah bagi kedua belah pihak. Andi menegaskan bahwa ini adalah kerja sama perdana yang resmi terjalin antara Universitas Muhammadiyah Bengkulu dengan PCIM Taiwan dalam skala program yang intensif. Kehadiran UMB dalam program ini bukan sekadar partisipan, melainkan wujud nyata tanggung jawab institusi terhadap Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat dalam klaster Internasional. “UMB terus berkomitmen melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi—atau Catur Dharma jika di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah—dengan fokus perluasan pada klaster internasional,” tegas Andi.
Komitmen UMB tersebut dibuktikan dengan pengerahan sumber daya manusia yang mumpuni untuk mendukung jalannya kegiatan belajar mengajar di pesantren virtual ini. Andi menyebutkan terdapat belasan dosen serta tenaga kependidikan (tendik) dari UMB yang turut berkontribusi aktif, baik sebagai pengajar maupun tim pendukung dalam pelaksanaan pesantren. Keterlibatan para akademisi ini diharapkan dapat menjamin kualitas materi dakwah yang disampaikan kepada para santri di Taiwan agar tetap wasatiyah dan mencerahkan. Hal ini sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa dosen-dosen dari Bengkulu memiliki kapasitas untuk berkiprah dan memberikan dampak di level global.
Dalam pandangannya sebagai mantan Ketua PCIM Taiwan periode 2019-2021, Andi Azhar menilai langkah ini selaras dengan upaya internasionalisasi yang kini sedang gencar dilakukan oleh UMB. Menurutnya, Taiwan merupakan mitra yang sangat strategis bagi UMB, bukan hanya karena faktor banyaknya jumlah WNI yang bekerja dan menuntut ilmu di sana. Lebih dari itu, Taiwan dipilih karena keberadaan persyarikatan Muhammadiyah di wilayah tersebut tergolong sangat aktif dan dinamis dalam melakukan berbagai inovasi dakwah yang kreatif. Kolaborasi ini menjadi jembatan yang menghubungkan semangat dakwah diaspora dengan sumber daya intelektual kampus.
Sebagai penanda dimulainya kegiatan, sesi kajian perdana menjelang berbuka puasa telah dilaksanakan dengan menghadirkan pemateri yang sangat kompeten di bidangnya. Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UMB, Ustadz Dr. Dedy Novriadi, didapuk menjadi pengisi kajian pembuka yang memberikan landasan spiritual bagi para santri virtual. Kehadiran sosok akademisi senior seperti Dr. Dedy memberikan bobot tersendiri dan antusiasme tinggi di kalangan peserta yang haus akan ilmu agama yang mendalam. Materi yang disampaikan pada sesi pembuka ini menjadi pemicu semangat bagi para santri untuk konsisten mengikuti rangkaian kegiatan hingga akhir Ramadan.
Kehadiran Pesantren Virtual Darul Hadharah Taiwan ini pada akhirnya diharapkan mampu menjadi oase di tengah kesibukan para perantau Indonesia di Taiwan. Melalui layar gawai, jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Taiwan seolah terlipat, menyatukan semangat untuk meraih keberkahan bulan suci. Sinergi antara PCIM Taiwan dan UMB ini membuktikan bahwa teknologi dan niat tulus dapat melahirkan inovasi pendidikan yang melampaui batas-batas geografis. Bagi para WNI di Taiwan, Ramadan tahun ini tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas diri dan intelektualitas keislaman mereka. (*)

