JAKARTA, MENARA62.COM —Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan riset genomik nasional. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto saat menghadiri kegiatan Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) Ecosystem Roadshow: Pengenalan BGSI kepada Akademisi dan Ekosistem Kesehatan Indonesia di kantor Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kamis (12/2).
“Kita akan membentuk satu konsorsium riset yang melibatkan Kemenkes, peneliti dari perguruan tinggi, maupun dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” ujar Menteri Brian.
BGSI merupakan program nasional yang bertujuan membangun ekosistem riset genomik Indonesia melalui pengelolaan biobank, data genomik, serta tata kelola yang terintegrasi dan terbuka bagi berbagai pemangku kepentingan. Hingga saat ini, lebih dari 15.000 sampel telah melalui proses sequencing, lebih dari 1.900 hasil targeted sequencing telah dikembalikan, dan lebih dari 20 nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani untuk memperluas kolaborasi.
Genom sendiri adalah informasi genetik yang terdapat di dalam sel setiap makhluk hidup. Melalui teknologi sequencing, para ilmuwan dapat memahami bagaimana suatu penyakit terjadi, bagaimana tubuh seseorang merespons penyakit, hingga bagaimana terapi dapat dirancang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini dikenal sebagai precision medicine atau kesehatan presisi.
Dalam forum yang mempertemukan kementerian/lembaga, akademisi, industri kesehatan, hingga komunitas pasien tersebut, Mendiktisaintek menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi sebagai pusat riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Kita perlu bekerja sebagai satu tim. Kita tentukan bersama proyek riset prioritas secara terfokus, melibatkan perguruan tinggi, rumah sakit, BRIN, serta terbuka untuk kolaborasi dengan peneliti internasional,” tegas Menteri Brian.
Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pengembangan genomik akan membawa perubahan besar dalam industri kesehatan Indonesia. Selain itu, ditekankan pula riset genomik membutuhkan kerja sama lintas disiplin, mulai dari biologi, kimia, matematika, kecerdasan artifisial, hingga kedokteran.
“Dengan memahami genom, diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Kita bisa periksa dengan pasti ketika ciri-ciri penyakit sudah muncul, lalu langsung tahu bagaimana cara mengobatinya dengan presisi. Ini yang akan mereformasi industri kesehatan di Indonesia,” ujar Menkes Budi.
Ke depan BGSI difokuskan pada sejumlah penyakit prioritas seperti stroke, jantung, dan kanker payudara sebagai pilot project. Melalui konsorsium riset yang melibatkan Kemenkes, Kemdiktisaintek, BRIN, perguruan tinggi, serta rumah sakit pendidikan, Indonesia diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan data genomik untuk kebijakan kesehatan dan pelayanan publik.
Partisipasi aktif Kemdiktisaintek dalam penguatan ekosistem BGSI menegaskan komitmen pendidikan tinggi Indonesia untuk menjadi penghasil solusi berbasis riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dengan kekayaan biodiversitas dan karakteristik tropis yang unik, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat riset genomik yang relevan secara global sekaligus bermanfaat bagi bangsa sendiri.
