BOYOLALI, MENARA62.COM – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Denggungan Kecamatan Banyudono bekerja sama dengan Pemerintah Desa Denggungan dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Semarang menggelar pelatihan public speaking dan pengolahan pangan, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Balai Desa Denggungan tersebut diikuti oleh Kelompok PKK RT se-Desa Denggungan serta jajaran pengurus TP PKK Desa Denggungan.
Ketua panitia, Dra. Choiriyah, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan desa, baik dalam keterampilan komunikasi maupun pengembangan ekonomi keluarga melalui pengolahan pangan.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam keluarga dan masyarakat. Melalui pelatihan ini, kami ingin menghadirkan perempuan yang percaya diri, terampil, dan mandiri,” ujarnya.
Materi public speaking disampaikan oleh Iriana Indrawati, S.S. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya kemampuan berbicara di depan umum sebagai bekal kepemimpinan dan penguatan peran perempuan di ruang publik. Peserta tampak antusias mengikuti sesi praktik, mulai dari teknik vokal, bahasa tubuh, hingga penyusunan materi yang efektif.
Sementara itu, sesi pengolahan pangan menghadirkan Ghefira Nur Fatimah, mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Semarang. Ia memandu praktik pembuatan bolu pisang sebagai contoh produk olahan sederhana yang bernilai ekonomis.
Menurutnya, pengolahan bahan pangan lokal menjadi produk kreatif dapat membuka peluang usaha rumahan dan menambah pendapatan keluarga. “Bolu pisang ini mudah dibuat dengan bahan terjangkau, namun memiliki nilai jual yang baik,” jelasnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari bentuk pengabdian perempuan untuk negeri, sekaligus memperkuat sinergi antara PKK, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat.
Dengan semangat “PKK Desa Denggungan… Tangguh, Kokoh, Manfaat!”, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan perempuan-perempuan desa yang berdaya saing, komunikatif, dan produktif dalam mendukung pembangunan desa berkelanjutan. (*)
