Pernahkah Anda merasa bahwa setiap kali musim pemilu tiba, rakyat tiba-tiba menjadi “sangat penting”? Para politisi datang dengan senyum paling lebar, membagikan kaos, sembako, hingga amplop, seolah-olah suara kita adalah barang dagangan yang bisa ditawar di pasar loak. Inilah wajah politik yang kita saksikan selama puluhan tahun: Politik Transaksional.
Dalam politik perdagangan seperti ini, rakyat hanya dianggap konsumen sementara. Setelah transaksi selesai dan kursi kekuasaan didapat, si “pedagang” akan sibuk mencari cara bagaimana modal yang ia keluarkan untuk membeli suara bisa kembali berkali-kali lipat. Maka jangan heran jika setelah terpilih, mereka justru lebih sibuk melayani penyumbang dana besar daripada melayani warga yang memilihnya.
Partai Gema Bangsa hadir untuk meruntuhkan meja dagangan itu.
Bagi kami, politik bukan tentang “berapa yang saya dapat”, tapi “apa yang saya berikan”. Politik adalah jalan Pengabdian. Jika Anda melihat politik sebagai cara untuk memperkaya diri atau kelompok, maka Gema Bangsa bukan tempatnya.
Politik adalah jalan Pengabdian.
Kami percaya bahwa integritas bukan sekadar slogan di baliho, tapi sebuah praktik yang dimulai sejak dari cara kita berorganisasi. Gema Bangsa dibangun dari iuran swadaya, dari semangat sukarela, dan dari kepercayaan bahwa ide yang kuat tidak perlu dibeli dengan uang sogokan. Kita ingin mengembalikan marwah politik sebagai alat untuk memuliakan manusia, bukan untuk mengomersialkan nasib rakyat.
Model partai lama sudah tidak relevan lagi. Dunia telah berubah, namun cara berpartai banyak yang masih terjebak di masa lalu—sentralistik, feodal, dan hanya bergerak saat butuh suara. Gema Bangsa memutus pola itu. Kita tidak butuh “Bos Partai” yang menentukan segalanya dari pusat. Kita butuh pelayan masyarakat yang akarnya menghujam di komunitas-komunitas lokal.
Hari ini, mari kita luruskan kembali niat kita. Kita berpolitik karena kita peduli pada masa depan anak-anak kita. Kita berpolitik karena kita tidak ingin lingkungan kita hancur. Kita berpolitik karena kita ingin keluarga-keluarga kita mandiri.
Politik pengabdian tidak menjanjikan kekayaan instan bagi pelakunya, tapi ia menjanjikan perubahan nyata bagi rakyatnya. Saatnya kita berhenti menjadi komoditas politik dan mulai menjadi pemilik sah kedaulatan bangsa ini.
