SOLO, MENARA62.COM – Forum Komunikasi Pimpinan Badan Penyelenggara dan Perguruan Tinggi (FKPT) Jawa Tengah menggelar Rapat Koordinasi Tahun 2026 di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (11/2/2026). Mengusung tema “Akselerasi Transformasi Pendidikan Tinggi Jawa Tengah: Adaptif, Inovatif, Berdampak dan Berkelanjutan”, kegiatan ini menegaskan komitmen perguruan tinggi swasta (PTS) dalam memperkuat peran strategisnya bagi masyarakat.
Rakor menghadirkan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., sebagai pembicara kunci. Turut memberikan keterangan usai pembukaan, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno.
Akselerasi Transformasi dan Ekosistem Inovasi
Fauzan Adziman menegaskan bahwa rakor ini secara khusus mempertemukan badan penyelenggara dan PTS se-Jawa Tengah untuk mempercepat transformasi perguruan tinggi agar semakin adaptif, inovatif, berdampak, dan berkelanjutan.
“Kita mengakselerasi percepatan perguruan tinggi agar menjadi adaptif, inovatif, berdampak, dan berkelanjutan. Ekosistem inovasi di Indonesia mulai berkembang dan kita berharap inovasi kampus betul-betul membantu menyelesaikan tantangan di masyarakat,” ujarnya di UMS.
Menurutnya, Kemdiktisaintek juga menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, salah satunya untuk mendorong lebih banyak lulusan SMK melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Ini penting untuk meningkatkan jumlah high skill worker kita. Akan kita bantu secara lebih intensif, termasuk melalui riset-riset untuk memetakan langkah yang tepat,” katanya.
Selain itu, program pendanaan riset ke depan akan difokuskan pada isu-isu prioritas yang dinantikan masyarakat, seperti pertanian dan pangan, kesehatan, serta pengentasan kemiskinan.
Kampus Zero Waste dan Riset Berdampak
Dalam rakor tersebut juga mengemuka penguatan konsep zero waste campus. Fauzan menyebut kampus diharapkan mampu mengelola sampah secara mandiri.
“Kita dorong kampus membangun zero waste campus, sehingga sampah di kampus selesai di kampus,” tegasnya.
Pendanaan riset, lanjutnya, akan diarahkan pada program yang relevan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Survei nasional yang dilakukan kementerian menunjukkan bidang pertanian, pangan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan menjadi sektor yang paling dinantikan kontribusinya.
UMS Siap Jalankan Caturdarma
Rektor UMS, Prof. Harun Joko Prayitno, menilai substansi rakor sejalan dengan praktik yang telah diterapkan UMS. Ia merangkum lima kata kunci utama rakor, yakni akselerasi, transformasi, berdampak, berkontribusi, dan berkelanjutan.
“Lima kata kunci itu sudah kami terapkan di UMS. Dalam sambutan dan keynote speech, Pak Dirjen juga menyampaikan bahwa salah satu PTS di Jawa Tengah yang siap menjalankan caturdarma—pendidikan, riset, pengabdian, dan publikasi—adalah UMS,” ujarnya.
UMS, lanjutnya, mengalokasikan dana riset hingga 14 persen dari anggaran institusi atau lebih dari Rp40 miliar. Dari 29 bidang riset nasional, UMS hampir mencakup seluruhnya, dengan fokus strategis pada pangan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan ekonomi hijau.
Tak hanya itu, UMS menjadi pelopor konsorsium riset inovasi LPDP tahun ini dengan dukungan pendanaan sebesar Rp20 miliar.
Penguatan Green Campus dan Vokasi Global
Dalam bidang lingkungan, UMS telah mengembangkan strategi green campus dan terlibat dalam pemeringkatan GreenMetric selama dua tahun terakhir. Salah satu program unggulannya adalah pengelolaan sampah terpadu di lingkungan kampus.
Terkait penguatan lulusan SMK, UMS melalui direktorat vokasi tengah menyiapkan kerja sama internasional dengan Taiwan, Hong Kong, Arab Saudi, dan Korea.
“Kita siapkan satu tahun di Indonesia untuk pembekalan, termasuk bridging bahasa dan pengenalan budaya negara tujuan. Setelah itu mereka dikirim ke luar negeri agar langsung bisa beradaptasi,” jelas Harun.
Melalui rakor ini, FKPT Jawa Tengah berharap akselerasi transformasi pendidikan tinggi tidak hanya berhenti pada tataran wacana, melainkan terimplementasi dalam kebijakan, riset, dan program nyata yang berdampak luas bagi pembangunan daerah dan nasional. (*)
