SLEMAN, MENARA62.COM – Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) yang diselenggarakan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi dibuka pada Rabu (21/1).
Pembukaan SEKAM dilaksanakan di BBPPMPV Seni Budaya, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan dibuka langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib. Dalam sambutannya, Irwan mengapresiasi penyelenggaraan SEKAM sebagai bagian dari pendidikan pencerahan yang menjadi ciri gerakan Muhammadiyah.
Menurut Irwan, pendidikan dalam perspektif Muhammadiyah merupakan upaya pencerahan kesadaran keTuhanan yang mampu menghidupkan, mencerdaskan, sekaligus membebaskan manusia. Oleh karena itu, SEKAM diharapkan menjadi bagian yang integratif dengan semangat pendidikan tersebut.
Ia menegaskan, peserta SEKAM ke-23 diharapkan ke depan mampu terlibat aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat, khususnya pada kelompok-kelompok marjinal seperti petani, nelayan, buruh termasuk buruh migran, serta masyarakat miskin perkotaan.
Irwan menekankan bahwa kader pemberdayaan yang lahir dari SEKAM tidak sekadar hadir, memberi bantuan, lalu pergi. Pemberdayaan masyarakat, menurutnya, menuntut pendampingan yang berkelanjutan dan mampu mendorong perubahan mendasar.
“Bahkan hal-hal mendasar seperti kebiasaan harus diubah. Misalnya kelompok nelayan yang belum memiliki literasi keuangan. Setelah melaut dan mendapat uang, langsung habis,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap kelompok masyarakat memiliki karakter dan pendekatan yang berbeda. Oleh sebab itu, dibutuhkan keahlian khusus dalam membangun komunikasi dan pendampingan, yang salah satunya dapat diperoleh melalui pelatihan di SEKAM.
Sementara itu, Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, meminta peserta SEKAM menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, esensi pemberdayaan adalah mendorong kekuatan dari dalam masyarakat agar mereka mampu berdaya secara mandiri.
“Pemberdayaan itu mengangkat dan mengungkit potensi yang dimiliki masyarakat,” kata Yamin.
Ia menjelaskan, selain memiliki daya dorong, pemberdayaan juga harus memiliki daya tarik agar mampu membuka wawasan masyarakat yang selama ini terkungkung oleh perilaku maladaptif dan keterbatasan pengetahuan.
Meski demikian, Yamin mengingatkan bahwa praktik pemberdayaan masyarakat tidak sesederhana konsep di atas kertas. Realitas di lapangan kerap lebih kompleks, sehingga membutuhkan beragam pendekatan yang kontekstual.
Dalam sambutannya, Yamin juga menyinggung pentingnya pendekatan pendidikan orang dewasa. Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat agar dakwah pemberdayaan dapat berjalan secara maksimal. (*)


