30 C
Jakarta

Sekretaris MUI Solo: Jaga Istiqamah di Sisa Ramadan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta, Ustadz Drs. H. Teguh, M.Pd., mengajak umat Islam untuk menjaga istiqamah dalam beribadah hingga akhir Ramadan. Pesan tersebut disampaikan dalam ceramah atau kultum Tarawih di Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta, Ahad (8/3/2026) malam.

Ceramah yang disampaikan pada hari ke-20 Ramadan 1447 Hijriah itu menyoroti pentingnya konsistensi dalam menjalankan ibadah selama bulan suci agar umat Islam tidak kehilangan peluang meraih pahala dan ampunan dari Allah SWT.

Menurut Teguh, fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah semangat beribadah yang tinggi pada awal Ramadan, tetapi perlahan menurun ketika memasuki pertengahan hingga akhir bulan.

“Kondisi ini sering disebut dengan istilah demen anyar, semangat hanya di awal saja. Padahal yang paling penting adalah menjaga istiqamah hingga akhir Ramadan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Hadis Tiga Peringatan di Awal Ramadan

Dalam ceramahnya, Teguh juga menyampaikan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dan Ibnu Hibban mengenai tiga peringatan penting selama Ramadan.

Ia menjelaskan bahwa dalam hadis tersebut Rasulullah SAW pernah naik mimbar dan mengucapkan kata “amin” sebanyak tiga kali. Hal itu berkaitan dengan doa Malaikat Jibril yang berisi tiga peringatan bagi umat Islam.

Pertama, orang yang melewati Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah SWT termasuk golongan yang celaka.

Kedua, seseorang yang hidup bersama orang tuanya tetapi tidak berbakti kepada mereka juga termasuk orang yang merugi.

Ketiga, orang yang mendengar nama Nabi Muhammad SAW disebut tetapi tidak berselawat kepadanya juga termasuk dalam golongan yang celaka.

“Hadis ini menjadi pengingat bagi kita agar tidak menyia-nyiakan kesempatan besar di bulan Ramadan,” kata Teguh.

Ramadan Momentum Meraih Pahala

Teguh menegaskan bahwa Ramadan merupakan kesempatan emas untuk meraih pahala dan ampunan Allah. Ibadah puasa yang dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala diyakini dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak sedekah, termasuk memberi makanan berbuka atau takjil kepada orang yang berpuasa.

Menurutnya, orang yang memberi takjil akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala penerimanya.

“Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya,” jelasnya.

Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua

Dalam ceramah tersebut, Teguh juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya berbakti kepada orang tua atau birrul walidain.

Ia menuturkan bahwa merawat orang tua yang sudah lanjut usia membutuhkan kesabaran dan ketulusan, mengingat mereka telah merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sejak kecil.

“Kesabaran dalam merawat orang tua adalah bentuk bakti yang sangat besar pahalanya di sisi Allah,” ujarnya.

Memperbanyak Selawat kepada Nabi

Selain itu, jamaah juga diajak untuk memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat merupakan bentuk penghormatan kepada Rasulullah sekaligus sarana untuk mendapatkan syafaat pada hari kiamat.

Menurut Teguh, meskipun umat Islam tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, hubungan spiritual dapat terus dijaga melalui selawat.

“Dengan berselawat, kita berharap mendapatkan syafaat Rasulullah pada hari kiamat kelak,” katanya.

Manfaatkan Sisa Ramadan

Di akhir ceramahnya, Teguh mengajak jamaah untuk memanfaatkan sisa Ramadan dengan sebaik-baiknya melalui berbagai amal kebaikan, seperti meningkatkan ibadah, bersedekah, memperbanyak selawat, serta berbakti kepada orang tua.

Ia berharap umat Islam mampu menjaga konsistensi ibadah hingga akhir Ramadan sehingga dapat meraih rahmat, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT.

“Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita,” tuturnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!