NGAWI, MENARA62.COM
Suasana sore di TPA Al-Firdaus, Ngrambe ngAWI Jawa Timur terasa berbeda dari biasanya. Tawa riang anak-anak menyatu dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengalir lembut dari ruang belajar. Di balik kehangatan itu, sembilan mahasiswi Universitas Darussalam Gontor hadir bukan sekadar mengajar, tetapi menemani para santri kecil menapaki proses belajar mengaji seperti nampak pada Jumat (13/2/2026).
Aksi yang tampak sederhana ini menjelma menjadi peristiwa bermakna. Anak-anak mulai lebih berani melafalkan ayat demi ayat, para orang tua merasa terbantu, dan semangat belajar agama kembali menguat di lingkungan sekitar. Perlahan, ruang TPA menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan bacaan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri.
“Program ini kami rancang sebagai wujud kontribusi nyata mahasiswa dalam pendidikan dan pembinaan karakter religius,” ujar Rifatu Salimah, koordinator tim pengabdian, di sela kegiatan. Baginya, pengabdian tidak berhenti pada kehadiran fisik. “Yang terpenting adalah konsistensi dan kualitas pendampingan. Kami menyiapkan materi, metode, serta pembagian kelas agar setiap anak mendapat perhatian sesuai kemampuannya,” tuturnya.
Delapan mahasiswi yakni Jasmine Annisa, Devi Famela, Noer Amalia, Atthalya Zulaekha, Siti Hajar, Fara Aulia Azzahra, Aulia Carolina, dan Afifah Wadhihah bekerja kolaboratif sejak tahap perencanaan. Mereka merancang perangkat ajar yang adaptif: pembelajaran membaca Al-Qur’an (Iqra’), pengenalan huruf hijaiyah, latihan bahasa Arab dasar, hafalan surat-surat pendek, hingga pembinaan akhlak dan doa harian. Materi dipetakan sesuai usia dan tingkat bacaan agar proses belajar terasa ringan, efektif, dan menyenangkan.
Pengurus TPA menyambut inisiatif ini dengan antusias. “Anak-anak terlihat lebih hidup saat belajar. Mereka jadi berani maju membaca dan bertanya,” ujar salah satu pengurus. Dukungan wali murid dan tokoh masyarakat turut menjaga keberlangsungan program, termasuk penjadwalan sore hari agar tidak berbenturan dengan jam sekolah formal.
Dampaknya mulai terasa. Bagi santri, kemampuan membaca meningkat, hafalan bertambah, dan kepercayaan diri tumbuh. Bagi para mahasiswi, pengalaman ini mengasah komunikasi pedagogis, kesabaran, tanggung jawab, sekaligus empati sosial. “Kami belajar mempraktikkan ilmu di lapangan, bukan sekadar teori,” kata Jasmine Annisa.
Lebih dari itu, kegiatan ini menegaskan peran lembaga pendidikan nonformal dalam membangun fondasi literasi Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam sejak dini. Harapannya, inisiatif serupa dapat berkelanjutan dan direplikasi di tempat lain. Ketika generasi muda bergerak bersama masyarakat, kemanfaatan tidak berhenti pada satu kegiatan harapannya ia tumbuh menjadi budaya belajar yang terus menumbuhkan.
Semangat 9 Mahasiswi UNIDA Terjun Langsung ke TPA Al-Firdaus Ngrambe, Anak-Anak Kini Makin Lancar Ngaji
- Advertisement -
