SOLO, MENARA62.COM – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Azhar Basyir menggelar Seminar Nasional bertema “Merawat Ingatan Surakarta: Budaya Keislaman dan Hukum dalam Bingkai Kebangsaan” pada Sabtu (31/1/2026) di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kegiatan ini menjadi ruang dialog akademik yang mempertemukan perspektif budaya, keislaman, dan kebangsaan dalam konteks historis Kota Surakarta.
Seminar menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang akademik dan kultural, yakni Muh. Fitrah Yunus, S.IP., M.H. dari Trilogia Institute, Dra. GKR Moes Moertiyah Wandansari, M.Pd selaku Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, serta Moh. Ikbal, S.H., M.H., akademisi Universitas Muhammadiyah Palu.
Ketua Umum PK IMM Azhar Basyir, Andifa Nurasyam Zuhdi, menjelaskan bahwa seminar ini merupakan ikhtiar akademik sekaligus ruang kultural untuk mempertemukan gagasan tentang relasi budaya, sejarah, dan dinamika kebangsaan, khususnya di Surakarta.
“Budaya dan agama bukan dua hal yang saling berbenturan atau dipertentangkan. Keduanya justru saling membentuk cara pandang dan praktik sosial masyarakat, termasuk dalam bidang hukum, politik, dan ekonomi. Forum ini kami hadirkan sebagai ruang diskusi ilmiah yang terbuka dan membangun,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk merawat ingatan kolektif bangsa agar nilai-nilai kultural dan religius tetap menjadi fondasi dalam kehidupan bernegara.
Sementara itu, Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah, menekankan pentingnya mengingat kembali posisi historis Surakarta dalam perjalanan bangsa. Ia menyoroti wacana pengakuan terhadap keistimewaan Surakarta sebagai bagian dari komitmen kebangsaan yang pernah terbangun di masa awal republik.
“Surakarta memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya negara ini. Pemerintah perlu mengingat dan menjalankan amanat konstitusi yang mengakui pemerintahan asli sebelum Republik Indonesia berdiri. Ini bukan semata untuk Surakarta, tetapi demi keadilan sejarah dan kebaikan bangsa secara keseluruhan,” tuturnya.
Menurutnya, diskusi akademik seperti ini penting untuk menjaga ingatan sejarah sekaligus memperkuat dialog kebangsaan yang inklusif dan berlandaskan nilai budaya.
Seminar berlangsung interaktif dengan partisipasi mahasiswa, akademisi, dan pegiat budaya. Berbagai pandangan muncul mengenai bagaimana budaya keislaman di Surakarta berkontribusi dalam pembentukan nilai hukum dan identitas kebangsaan Indonesia.
Melalui kegiatan ini, PK IMM Azhar Basyir berharap lahir kesadaran kolektif generasi muda untuk merawat sejarah lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari narasi besar kebangsaan Indonesia. (*)

