Di kantor-kantor pemerintahan yang megah, seringkali lahir kebijakan yang disebut “skala nasional”. Kedengarannya gagah, bukan? Namun, di lapangan, kebijakan ini seringkali terasa seperti mengenakan sepatu dengan satu ukuran untuk seluruh penduduk: ada yang kesempitan hingga berdarah, ada yang kelonggaran hingga tak bisa berjalan.
Selama puluhan tahun, suara dari pesisir disamakan dengan suara dari pegunungan. Kebutuhan warga di pelosok hutan disamakan dengan kebutuhan mereka yang tinggal di pusat kota. Akibatnya, mereka yang berada di “pinggiran”—secara geografis maupun ekonomi—selalu menjadi yang terakhir didengar, atau bahkan tidak didengar sama sekali. Mereka hanya dianggap sebagai angka dalam statistik, objek dalam presentasi, atau target dalam laporan tahunan.
Jarak menciptakan ketidakpedulian. Dan ketidakpedulian adalah awal dari penindasan.
Partai Gema Bangsa lahir untuk menjadi pelantang bagi suara-suara yang teredam ini. Kami percaya bahwa setiap jengkal tanah di republik ini memiliki ceritanya sendiri, tantangannya sendiri, dan solusinya sendiri. Inilah mengapa Desentralisasi Politik bukan sekadar istilah administratif bagi kami. Ia adalah sebuah pengakuan martabat.
Desentralisasi berarti mengakui bahwa masyarakat adat lebih tahu cara menjaga hutan mereka daripada birokrat yang belum pernah menginjakkan kaki di sana. Ia berarti mengakui bahwa nelayan lokal lebih paham cara mengelola laut mereka daripada perusahaan besar yang hanya melihat air sebagai jalur logistik.
Kita tidak bisa membangun bangsa yang besar, jika kita terus mengabaikan detail-detail kecil di pinggiran.
Gema Bangsa ingin membalikkan logika kekuasaan. Kekuasaan seharusnya tidak mengalir dari atas ke bawah seperti instruksi, melainkan tumbuh dari bawah ke atas seperti pohon. Kita harus memberikan ruang bagi kearifan lokal untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa harus selalu menunggu “restu” dari pusat yang seringkali tidak paham medan.
Suara yang terpinggirkan bukan karena mereka tidak bicara, tapi karena kita terlalu jauh untuk mendengar. Dengan mendekatkan pusat pengambilan keputusan ke komunitas, ke tetangga, dan ke desa, kita sedang memastikan bahwa tidak ada lagi suara yang hilang dalam lipatan birokrasi.
Hari ini, mari kita berhenti melihat “pinggiran” sebagai tempat yang jauh. Pinggiran adalah pondasi. Dan sebuah bangunan hanya akan sekuat pondasi yang menyangganya. Saatnya kita berhenti mendikte, dan mulai mendengarkan suara-suara yang terpinggirkan.
