30 C
Jakarta

Tafsir Lailatul Qadr, Direktur AIK UMMAD Isi Itikaf

Baca Juga:

MADIUN, MENARA62.COM – Direktur Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Suyono, M.Pd, menjadi narasumber kajian tafsir Al-Qur’an dalam rangkaian kegiatan iktikaf di Masjid RSI ‘Aisyiyah Kota Madiun, Sabtu (13/3/2026).

Kajian tersebut merupakan bagian dari kegiatan Ramadan yang digelar manajemen Rumah Sakit Islam (RSI) ‘Aisyiyah Madiun, meliputi iktikaf, sahur bersama, dan salat Subuh berjamaah di masjid rumah sakit.

Dalam kajian itu, Suyono membahas makna malam Lailatul Qadr sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5. Ia menjelaskan bahwa ayat pertama, Inna anzalnahu fi lailatil qadr, berkaitan dengan proses turunnya Al-Qur’an dari sisi Allah SWT.

Menurutnya, Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfudz yang berada di atas Arsy menuju Baitul ‘Izzah di langit pertama melalui perantara malaikat.

“Lauhul Mahfudz adalah tempat yang dirahasiakan Allah, yang tidak diketahui manusia maupun malaikat. Tempat itu merupakan kitab yang terjaga,” ujar Suyono.

Ia menjelaskan bahwa para mufasir memiliki beberapa penafsiran mengenai proses turunnya Al-Qur’an. Tafsir pertama menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan sebanyak 30 juz pada malam Lailatul Qadr. Sementara tafsir kedua menyatakan Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, dimulai dari Surah Al-‘Alaq ayat 1–5.

Suyono menuturkan peristiwa turunnya wahyu pertama ketika malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW dan memerintahkan beliau membaca.

“Malaikat Jibril berkata, ‘Iqra’, dan Nabi Muhammad menjawab, ‘Ma ana bi qari’ (saya tidak bisa membaca). Peristiwa itu terjadi hingga tiga kali, sampai akhirnya malaikat Jibril memeluk Nabi dan menalqinkan wahyu yang kemudian diulang oleh Nabi Muhammad,” jelasnya.

Selain melalui talqin malaikat Jibril, menurut Suyono, wahyu juga disampaikan melalui mimpi Nabi Muhammad SAW serta melalui malaikat Jibril yang langsung memasukkan wahyu ke dalam dada Nabi.

Dalam kajian tersebut, Suyono juga menyinggung perbedaan pandangan ulama tafsir terkait keberadaan Lailatul Qadr. Sebagian ulama berpendapat malam tersebut hanya terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, sementara pendapat lain menyatakan Lailatul Qadr tetap hadir setiap Ramadan hingga kini.

“Nabi Muhammad tetap memerintahkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadr. Jika Nabi menyuruh mencari, berarti malam itu masih ada,” kata Suyono.

Ia menambahkan, kata lailatin dalam ayat tersebut bermakna tunggal, yakni Lailatul Qadr hanya terjadi pada satu malam di bulan Ramadan. Para mufasir juga berbeda pendapat mengenai waktunya, ada yang menyebut pada 10 malam terakhir Ramadan, dan ada pula yang menyatakan pada malam-malam ganjil.

Suyono juga memaparkan makna kemuliaan malam tersebut sebagaimana disebutkan dalam ayat Lailatul qadri khairun min alfi syahr, yang berarti satu malam Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan atau setara sekitar 83 tahun empat bulan.

Sementara pada ayat berikutnya, kata Al-Qadr juga dapat dimaknai sebagai “sempit”. Hal ini merujuk pada turunnya malaikat dalam jumlah sangat banyak hingga memenuhi bumi.

“Malaikat turun memenuhi bumi. Tidak ada sejengkal tanah pun kecuali dipenuhi malaikat,” jelasnya.

Ia menambahkan, Ibnu Katsir menggambarkan jumlah malaikat yang turun pada malam itu bagaikan kerikil di daratan, sebagai analogi betapa banyaknya malaikat yang turun ke bumi.

Para malaikat turun atas izin Allah untuk mengatur berbagai urusan manusia. Karena itu, malam Lailatul Qadr juga dimaknai sebagai malam takdir.

“Pada malam itu takdir manusia didaur ulang dan ditentukan untuk satu tahun ke depan, termasuk umur, rezeki, kebahagiaan, hingga nasib manusia,” terang Suyono.

Ia menutup kajian dengan menjelaskan keistimewaan Lailatul Qadr sebagai malam penuh kesejahteraan hingga terbit fajar, sebagaimana disebutkan dalam ayat Salamun hiya hatta mathla’il fajr.

Menurutnya, malam tersebut menjadi momentum pengampunan dosa melalui berbagai ibadah seperti puasa, salat tarawih, dan amalan lainnya. Selain itu, pahala amal ibadah juga dilipatgandakan.

“Ramadan juga disebut sebagai Syahrul Qur’an. Karena itu, umat Islam seharusnya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, terutama pada malam-malam terakhir Ramadan,” pungkasnya. (Pj)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!