30 C
Jakarta

Tarawih Qiraat Asyarah Kubro Menggema di Solo

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Musta’iniyyah Karangasem Surakarta dibawah asuhan Dr. KH. AM. Mustain Nasoha Ketua Fatwa MUI Surakarta menggelar kegiatan keilmuan Al-Qur’an bertajuk Khataman Tarawih Qira’ah ‘Asyaroh kubro dan Kajian Kitab Tafsir Ahlam, Sabtu (14/3/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung setelah salat Isya hingga selesai tersebut menghadirkan ulama internasional dari Mesir, Syekh Dr. Ro’i Makarim, yang dikenal sebagai ulama dari Kementerian Wakaf Mesir dan Ulama Qiraat.

Acara ini diikuti oleh ratusan para santri, tokoh agama, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti rangkaian khataman dan kajian Al-Qur’an yang menjadi bagian dari tradisi keilmuan pesantren.

Ketua panitia kegiatan, Ust. Firdaus Al Hafidz, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pesantren untuk menghidupkan tradisi keilmuan Al-Qur’an di bulan Ramadan.

“Kegiatan ini kami selenggarakan sebagai bagian dari ikhtiar untuk menghidupkan tradisi keilmuan Al-Qur’an di bulan Ramadan, sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang kekayaan khazanah ilmu qira’at baik sab’ah dan asyarah yang telah diwariskan oleh para ulama dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami merasa sangat bersyukur bisa belajar Al Qur’an mulai menghafal 30 Juz, belajar Qiraat Sab’ah dan Asyarah Kubro kepada guru mulia Dr. KH. AM. Mustain Nasoha, serta berterimakasih kehadiran Syekh Dr. Ro’i Makarim dari Mesir yang berkenan hadir dan memberikan tausiyah serta berbagi ilmu kepada kita semua. Semoga kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan umat kepada Al-Qur’an serta melahirkan generasi Qur’ani di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Raudlatul Muhibbin, Ust. Wassim Ahmad Fahruddin, menegaskan bahwa kegiatan khataman qira’at merupakan bagian dari komitmen pesantren dalam menjaga tradisi keilmuan Al-Qur’an.

Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan berbagai cabang ilmu Al-Qur’an yang telah diwariskan oleh para ulama.

“Ilmu qira’at merupakan salah satu cabang ilmu Al-Qur’an yang sangat penting, karena melalui ilmu inilah kita dapat memahami keragaman bacaan Al-Qur’an yang semuanya bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi motivasi bagi para santri untuk terus mendalami ilmu Al-Qur’an serta menjaga sanad keilmuan yang menjadi ciri khas tradisi pesantren.

“Ini adalah ketiga kalinya pesantren kami menyelenggarakan Tarawih 20 rakaat tiap malam dengan Qiraat Asyarah Kubro 30 juz, Kami mohon doa restu dan berharap Pesantren Raudlatul Muhibbin dapat terus berkembang menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an yang melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, memahami kandungannya, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Kementerian Agama Kota Surakarta, KH. Ulin Nur Hafsun, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia menyampaikan penghargaan kepada Pesantren Raudlatul Muhibbin yang terus istiqamah menjaga tradisi keilmuan Al-Qur’an.

“Atas nama Kementerian Agama Kota Surakarta, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pesantren Raudlatul Muhibbin yang terus istiqamah menjaga tradisi keilmuan Al-Qur’an, khususnya dalam bidang qira’at sab’ah maupun qira’at ‘asrah yang merupakan khazanah besar dalam tradisi ulumul Qur’an, dan saya rasa ini adalah satu satunya dan pertama yang pernah saya temui.” ujarnya.

Menurutnya, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami, dijaga, serta diwariskan dari generasi ke generasi.

“Salah satu bentuk penjagaan itu adalah melalui ilmu qira’at, yang menunjukkan betapa luas dan kayanya cara membaca Al-Qur’an yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,” jelasnya.

  1. Ulin juga menegaskan bahwa tradisi qira’at membutuhkan ketekunan dan bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

“Para santri yang hari ini telah menyelesaikan khataman qira’at ‘asrah patut kita syukuri dan kita banggakan. Ini bukan hanya capaian pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan pesantren dan kebanggaan umat Islam di Kota Surakarta, saya ucapkan dan berikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pengasuh yaitu Gus Mustain Nasoha yang telah sabar dan telaten mendidik santri sehingga bisa belajar sampai bagian yang luar bias aini.” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Kota Surakarta, KH. Imam Suhadi, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai penting dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi Qur’ani melalui pengajaran tahfidz, qira’at, dan tafsir Al-Qur’an.

“Kegiatan khataman qira’at seperti ini bukan hanya kegiatan akademik, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup umat Islam,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Imam Suhadi juga menyampaikan apresiasi kepada Gus Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, yang dinilai sebagai ulama muda yang gesit dan istiqamah dalam membina para santri.

“Di sela kesibukannya sebagai Ketua Fatwa MUI Surakarta, Gus Mustain tetap aktif mendidik para santri dan mengembangkan tradisi keilmuan Al-Qur’an di pesantren,” tambahnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus melahirkan generasi yang mencintai dan mendalami ilmu Al-Qur’an.

Dalam ceramahnya, Syekh Dr. Ro’i Makarim memberikan pesan khusus kepada para santri agar tidak berhenti pada hafalan Al-Qur’an saja, tetapi melanjutkannya dengan memperdalam pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an.

Menurutnya, setelah seseorang berhasil menghafal Al-Qur’an, langkah berikutnya adalah mempelajari ilmu tafsir agar ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami maknanya.

“Santri yang telah menghafal Al-Qur’an hendaknya melanjutkan dengan mempelajari tafsir, sehingga mampu memahami pesan dan hikmah yang terkandung di dalam Al-Qur’an,” ujar Syekh Ro’i Makarim.

Ia juga menekankan pentingnya mempelajari ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan berbagai disiplin ilmu bahasa Arab lainnya.

Menurutnya, ilmu-ilmu tersebut merupakan kunci untuk memahami Al-Qur’an dan khazanah keilmuan Islam secara lebih mendalam.

“Ilmu alat adalah kunci untuk membuka khazanah ilmu Islam. Dengan menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmunya, pemahaman terhadap Al-Qur’an akan menjadi lebih sempurna,” jelasnya.

Syekh Ro’i Makarim berharap para santri terus menjaga semangat dalam menuntut ilmu dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan mereka.

“Jika Al-Qur’an dijadikan sebagai pedoman hidup, maka Allah akan mengangkat derajat orang yang mempelajarinya dan mengamalkannya,” pesannya di hadapan para santri dan jamaah yang hadir.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Khoirul Mustamir Kholid. Dalam doanya, beliau memohon kepada Allah SWT agar para santri yang telah mempelajari Al-Qur’an diberikan keberkahan ilmu serta dijadikan sebagai generasi penjaga Al-Qur’an.

Beliau juga mendoakan agar pesantren Raudlatul Muhibbin terus berkembang menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an yang melahirkan para qari, hafizh, dan ulama Al-Qur’an yang bermanfaat bagi umat.

Doa tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan khataman qira’at yang berlangsung dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh para ulama, santri, serta masyarakat Kota Surakarta. (*)

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!