SURKARTA, MENARA62.COM – Kegiatan Tarawih bersama siswa sekolah Muhammadiyah digelar di Masjid Balai Muhammadiyah Kota Surakarta, Kamis (26/2/2026), sebagai upaya penguatan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Agenda ini diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Surakarta bersama Majelis Pendidikan PDM Surakarta, menghadirkan siswa SMA Muhammadiyah 3 Surakarta dan Madrasah Aliyah Muhammadiyah Surakarta.
Kegiatan ini menjadi momentum pembinaan generasi muda Muhammadiyah agar memiliki ketakwaan, pengendalian diri, serta semangat pengabdian kepada umat dan bangsa. Penguatan materi AIK disampaikan oleh Abdul Mutholib, anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Surakarta.
Makna Hidup dan Aktivis Muhammadiyah
Dalam ceramahnya, Abdul Mutholib mengajak para siswa menjadi penerus estafet perjuangan umat dan aktivis Muhammadiyah. Diskusi diawali dengan pertanyaan mendasar tentang problem utama manusia. Uang disebut sebagai kebutuhan penting, namun bukan akar persoalan hidup.
Menurutnya, filsafat memandang problem utama manusia adalah pencarian makna hidup. Seseorang bisa sukses dan kaya, tetapi tetap mengalami kehampaan dan stres. Ia mencontohkan sejumlah kasus pelajar berprestasi yang justru mengalami tekanan berat, bahkan berujung tragedi.
“Kesuksesan duniawi tidak cukup mengisi kehampaan batin. Tanpa makna hidup, manusia mudah terjebak stres dan kecemasan,” ujarnya.
Ia menegaskan, agama menjadi sumber makna karena mengarahkan hidup sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Dalam konteks Muhammadiyah, menjadi aktivis berarti menjadi dai—orang yang menyeru kepada kebaikan dan membangun komunitas nyata.
Dunia Fana dan Pentingnya Komunitas Nyata
Pembicara mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Jika tujuan hidup hanya mengejar materi, maka kehampaan sulit dihindari. Ia juga menyinggung fenomena pertemanan virtual di media sosial yang tidak selalu menghadirkan kepuasan batin.
“Memiliki komunitas nyata yang berorientasi pada kebaikan jauh lebih bermakna dibanding sekadar memiliki banyak pengikut di media sosial,” katanya.
Aktivitas nyata, seperti berdakwah, mengajar, berkarya kreatif, hingga berbisnis untuk kemaslahatan, disebut sebagai wujud pengabdian yang memberi arti dalam kehidupan.
Pengendalian Diri dan Ketakwaan
Abdul Mutholib memaparkan bahwa problem lain manusia adalah ketidakmampuan mengendalikan keinginan. Ia mencontohkan kasus pencurian yang terjadi akibat dorongan hasrat yang tak terkendali, serta kisah Qabil dan Habil sebagai pelajaran tentang bahaya hawa nafsu.
Menurutnya, ibadah puasa di bulan Ramadan menjadi sarana latihan pengendalian diri dan ketakwaan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi membangun kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan.
“Ketika seseorang sadar diawasi Allah, ia tidak akan menyontek, tidak akan curang, dan tidak mudah tergoda berbuat salah,” tegasnya.
Mengatasi Kecemasan dengan Optimisme Iman
Problem berikutnya adalah kecemasan dan overthinking akibat ketidakpastian masa depan. Banyak pelajar merasa tertekan oleh tuntutan akademik dan ekspektasi sosial.
Abdul Mutholib membagikan pengalaman pribadinya yang berasal dari keluarga sederhana dan harus bekerja sambil kuliah. Ia menuturkan, optimisme berbasis iman dan keyakinan akan pertolongan Allah menjadi kunci menghadapi keterbatasan.
Ia juga mengisahkan contoh warga yang berhasil dalam usaha dan kemudian menjadi donatur aktif kegiatan masjid sebagai bentuk syukur atas pertolongan Allah.
Generasi Penerus Berjiwa Pengabdian
Kegiatan Tarawih bersama ini ditutup dengan pesan agar para siswa menjadi generasi penerus perjuangan umat yang berkarakter kuat, ikhlas, dan menikmati proses pengabdian.
Melalui penguatan AIK, Muhammadiyah berharap siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki makna hidup, pengendalian diri, serta optimisme berbasis iman. Pendidikan dan aktivitas di lingkungan Muhammadiyah diharapkan menjadi jalan membangun komunitas nyata yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. (*)
