SOLO, MENARA62.COM – Masjid Balai Muhammadiyah menggelar kajian qabla ifthar pada Senin (2/3/2026) yang menghadirkan Ari Mulyono, S.Pd., M.Pd., sebagai penceramah. Kegiatan menjelang berbuka puasa tersebut diikuti jamaah dengan khidmat dan penuh antusias dalam suasana Ramadan yang hangat.
Dalam pengantarnya, Ari Mulyono mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas nikmat usia dan kesempatan menunaikan ibadah di bulan suci. Ia berharap seluruh amal yang dilakukan selama Ramadan diterima dan menjadi jalan meraih surga. Selawat dan salam turut disampaikan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dengan harapan memperoleh syafaat di hari kiamat.
Nilai Amalan Ditentukan Niat dan Waktu
Ari menegaskan, amalan yang tampak sama seperti salat, puasa, atau sedekah dapat bernilai berbeda di sisi Allah. Perbedaan itu ditentukan oleh niat, waktu, serta kondisi pelaksanaannya.
Ia mencontohkan pengakuan dosa. Dua orang bisa saja sama-sama mengakui kesalahan, tetapi balasan yang diterima berbeda tergantung kapan pengakuan tersebut dilakukan.
“Taubat yang diterima adalah taubat saat masih hidup, sebelum sakaratul maut,” ujarnya.
Taubat Sebelum Sakaratul Maut
Dalam ceramahnya, Ari menjelaskan bahwa Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya selama manusia masih hidup dan nyawa belum sampai di tenggorokan. Namun, ketika sakaratul maut tiba, penyesalan tidak lagi bernilai sebagai taubat.
Ia menyinggung kisah Firaun yang mengaku beriman ketika ajal hampir menjemput, tetapi pengakuan tersebut tidak diterima.
Mengutip Surah At-Taubah ayat 102, ia menjelaskan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang bagi hamba yang bertobat dengan tulus saat masih hidup. Sebaliknya, dalam Surah Al-Mulk ayat 11 ditegaskan bahwa pengakuan dosa di neraka tidak mendatangkan ampunan, melainkan siksa.
Rasa Aman dan Takut Tak Bersamaan
Ari juga mengingatkan tentang konsep rasa aman dan takut dalam kehidupan dunia dan akhirat. Menurutnya, seseorang yang merasa aman dari siksa Allah di dunia cenderung lalai dan berbuat maksiat. Rasa takut justru akan ia rasakan di akhirat.
Sebaliknya, orang yang takut kepada Allah saat hidup di dunia akan menjaga ucapan, perilaku, dan ibadahnya. Mereka itulah yang akan memperoleh rasa aman di akhirat.
“Orang yang mengekang hawa nafsu dan menjaga diri dari dosa akan mendapatkan keamanan dan kenikmatan surga,” tuturnya.
Ramadan Momentum Perbaikan Diri
Dalam momentum Ramadan, Ari mengajak jamaah memperbanyak zikir, doa, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan qiyamul lail. Ia mengibaratkan Ramadan sebagai waktu mengisi ulang keimanan, seperti baterai ponsel yang dicas kembali.
Ia juga mencontohkan para sahabat Nabi yang kaya raya, tetapi tetap menjaga kesalehan dan keistikamahan dalam ibadah, seperti Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, dan Utsman bin Affan.
Menurutnya, kesibukan mencari rezeki tidak boleh menjadi alasan meninggalkan salat. Rezeki telah ditetapkan Allah, sementara menjaga salat adalah bentuk ketaatan yang wajib didahulukan.
Pahala Dilipatgandakan
Ari menegaskan, amalan di bulan Ramadan dilipatgandakan pahalanya. Kesempatan tersebut harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah, mengingat usia umat saat ini relatif lebih singkat dibanding generasi terdahulu.
Ia menutup kajian dengan doa agar Allah menjaga diri dan keluarga jamaah serta memberikan keberkahan sepanjang Ramadan.
Kajian qabla ifthar ini menjadi pengingat kuat bahwa taubat tidak boleh ditunda. Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan menata kembali rasa takut serta harap kepada Allah. (*)


