YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Selama ini pelatihan pemberi Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada orang yang mengalami henti jantung hanya dilakukan di dunia nyata. Akibatnya, pelatihan ini tidak dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat serta tak menjangkau daerah-daerah terkendala kondisi geografi.
Kondisi ini mendorong Ruhil Iswara MKom, Alumni Program Studi Magister Informatika (Prodi MI) Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) untuk mengembangkan Aplikasi Telehealth. Aplikasi pelatihan kesehatan darurat ini merupakan tutorial bagi seseorang yang tertarik menjadi pemberi Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada orang yang mengalami henti jantung.
“Telehealth ini bisa digunakan secara jarak jauh dan menjangkau seluruh masyarakat. Aplikasi ini bisa digunakan sebagai alat belajar untuk menangani seseorang yang mengalami henti jantung,” kata Prof Dr Sri Kusumadewi, SSi, MT, Dosen Pembimbing Ruhil Iswara yang juga Dosen Jurusan Informatika FTI UII secara virtual, Senin (12/1/2026).
Menurut Sri Kusumadewi hasil penelitian ini menjadi berkah bagi Prodi Magister Informatika UII. Ruhil Iswara merupakan alumnus yang berkonsentrasi pada Informatika Medis yaitu Prodi yang menekankan pada pengembangan ilmu dan teknologi yang bisa diaplikasikan pada kemaslahatan umat bidang kesehatan.
Tesisnya menyoroti pengembangan Telehealth yang akan digunakan sebagai salah satu data preventif untuk mencegah adanya serangan henti jantung mendadak. Di era saat ini, orang mengalami henti jantung semakin banyak.
“Secara preventif telah dilakukan pelatihan nyata kepada masyarakat. Namun di sejumlah tempat tidak dapat terjangkau. Sehingga Mas Ruhil berinisiatif mengembangkan aplikasi Telehealth yang bisa digunakan secara jarak jauh dan menjangkau seluruh masyarakat. Aplikasi ini bisa digunakan sebagai alat belajar untuk menangani seseorang yang mengalami henti jantung,” kata Sri Kusumadewi.
Ruhil Iswara mengangkat tema tesis ‘Analisis Implementasi Telehealth dalam Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Henti Jantung di Kota Pontianak.’ Ruhil Iswara yang memilih konsentrasi Informatika Medis menjelaskan Henti Jantung Mendadak merupakan penyebab utama kematian. Henti Jantung Mendadak dapat dicegah melalui Bantuan Hidup Dasar (BHD). Namun, akses pelatihan kesehatan darurat masih terbatas, khususnya di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.
“Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Telehealth dalam pelatihan BHD henti jantung di Kota Pontianak. Selain itu, mengevaluasi efektivitasnya dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat,” kata Ruhil Iswara kepada wartawan secara virtual yang dipandu Dr Ahmad Luthfi SKom, MKom, Dosen Jurusan Informatika FTI UII.
Penelitian ini, kata Ruhil, dilakukan kepada 60 responden masyarakat umum di Kota Pontianak. Jawaban responden dianalisis menggunakan model Human, Organization, Technology, and Benefit (HOT-Fit) untuk menilai kualitas sistem, informasi, dukungan layanan, kepuasan pengguna, dan manfaat bersih.
“Telehealth terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta BHD, dengan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 10,65 (pre-test) menjadi 26,58 (post-test). Kualitas sistem yang stabil (90% setuju), informasi yang relevan (95% setuju), dan dukungan Dinas Kesehatan Kota Pontianak (93,06% setuju) berkontribusi signifikan terhadap kepuasan pengguna (91,67% setuju). Sebanyak 95% responden melaporkan peningkatan kesiapan mereka dalam menghadapi situasi darurat seperti henti jantung,” kata Ruhil.
Menurut Ruhil, meskipun implementasi telehealth efektif meningkatkan aksesibilitas dan pengetahuan masyarakat dalam pelatihan BHD di Kota Pontianak. Namun, hambatan seperti literasi digital rendah, dan kurangnya regulasi lokal perlu diatasi melalui sosialisasi, penguatan infrastruktur, dan penyusunan kebijakan pendukung untuk memastikan keberlanjutan program.
“Temuan ini mengindikasikan faktor dukungan organisasi dan stabilitas sistem lebih dominan dibandingkan kualitas layanan maupun kepuasan pengguna dalam memengaruhi keberhasilan implementasi Telehealth,” jelas Ruhil. (*)

