BANDUNG, MENARA62.COM – Ahli Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Irianti Usman MA menegaskan pentingnya mempelajari dan memahami psikologi kebencanaan di Indonesia. Menurutnya, kondisi geografis Indonesia—khususnya Jawa Barat—yang rawan bencana alam berpotensi menimbulkan dampak psikologis serius bagi masyarakat apabila tidak diantisipasi dengan kesiapan mental yang memadai.
Hal tersebut disampaikan Irianti saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum Program Studi Psikologi bertajuk ”Psikologi, Bencana, dan Kita: Psikologi Kebencanaan & Psychological First Aid” yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Selasa (20/01/2026). Ia menilai bahwa bencana tidak hanya berdampak pada kerugian fisik dan material, tetapi dapat memicu stres berkepanjangan akibat kehilangan harta benda dan rasa aman dalam waktu singkat.
”Jika kita tidak siap menghadapi efek psikologis pascabencana, dampaknya bisa berlangsung lama. Sebagai praktisi dan akademisi psikologi, kita harus membekali diri agar tidak gagap dalam menghadapi persoalan kesehatan mental akibat bencana,” ujar Irianti.
Irianti juga membagikan pengalaman pribadinya saat gempa besar melanda Padang, Sumatera Barat, pada 2009 silam. Saat itu, ia tengah mengajar di kampusnya di USA dan dilanda kepanikan luar biasa setelah mengetahui keluarga besarnya menjadi korban bencana. Rumah dan toko milik keluarga rusak parah akibat gempa sehingga membuatnya gemetaran dan terus berupaya menghubungi sanak saudara di kampung halaman yang baru berhasil beberapa hari kemudian. Dampak fisik dan mental yang dialami keluarga sangat berat.
Oleh karena itu, sebagai Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora UM Bandung, Irianti mengapresiasi penyelenggaraan kuliah umum ini. Dia menilai kegiatan ini sebagai langkah nyata kampus dalam memperkaya wawasan mahasiswa dan dosen terkait psikologi kebencanaan. Sekaligus sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh secara mental dalam menghadapi situasi krisis.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Program Studi Psikologi UM Bandung Rika Dwi Agustiningsih MPsi Psikolog. Dia menegaskan bahwa bencana—baik alam maupun non-alam—merupakan bagian yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Maka dari itu, setiap individu perlu melakukan refleksi dan persiapan diri agar mampu memberikan bantuan, baik kepada sesama maupun kepada diri sendiri sebagai penyintas.
”Psikologi memiliki peran yang sangat penting dalam proses pemulihan dan ketangguhan mental. Saya berharap kuliah umum ini dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa, khususnya calon sarjana psikologi dan calon psikolog, untuk menumbuhkan empati, kepedulian, dan nilai kemanusiaan dalam membantu sesama,” kata Rika.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Adzanishari Mawaddah Rahmah SPsi MPsi Psikolog mendorong seluruh peserta untuk memanfaatkan kegiatan ini sebagai sarana memperdalam pemahaman mengenai psikologi kebencanaan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kapasitas keilmuan mahasiswa melalui pembelajaran langsung dari para praktisi profesional.
Ia menjelaskan bahwa kuliah umum ini rutin dilaksanakan setiap semester, tetapi kali ini dikemas dengan konsep berbeda yang mengangkat tema psikologi kebencanaan. Tema tersebut dinilai relevan mengingat Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap bencana sehingga menuntut kesiapsiagaan secara fisik, teknis, dan psikologis.
”Psikologi kebencanaan memiliki peran penting sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi, termasuk dalam penanganan trauma dan penguatan resiliensi penyintas. Kami berharap peserta memperoleh pemahaman yang utuh dan komprehensif, sekaligus kesiapan untuk berkontribusi langsung di lapangan,” tandas Adzanishari.
Kuliah umum ini menghadirkan tiga materi utama, yakni mengenai kebencanaan, kesiagaan, dan peran relawan oleh BPBD Provinsi Jawa Barat. Kemudian mengenai psikologi kebencanaan oleh psikolog Tutty I Sodjakusumah. Lalau materi Psychological First Aid (PFA) yang disampaikan oleh psikolog Dinda Dwarawati.(FA)

