BANDUNG, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) menggelar Seminar dan Workshop Kurikulum Akademik bertema “Transformasi Kurikulum & Pembelajaran Nyata Al-Islam Kemuhammadiyahan: Rekonstruksi Epistemologis dari Teks ke Konteks” pada Selasa (10/02/2026).
Kegiatan yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Prof Dr Sutrisno MAg dan Prof Dr Suyadi MPdI. Para narasumber dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhamamdiyah.
Kepala LPPAIK UM Bandung Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum menjelaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki karakter berbeda dibandingkan kampus lain di Indonesia. Oleh karena itu, nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) harus menjadi ruh dalam setiap aktivitas pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan karyawan. ”Maka dari itu, rekonstruksi kurikulum menjadi langkah penting agar AIK semakin terintegrasi dalam seluruh mata kuliah,” ujar Dikdik.
Menurutnya, integrasi tersebut diharapkan mampu mendukung visi UM Bandung sebagai islamic technopreneurial university, sekaligus melahirkan lulusan yang mandiri, terampil, melek teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan fondasi keagamaan dan kebangsaan. Upaya pembaruan kurikulum juga didorong oleh usia kurikulum yang telah berjalan hampir satu dekade sehingga perlu ditinjau kembali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui seminar dan workshop ini, UM Bandung menargetkan implementasi AIK memberikan dampak nyata bagi mahasiswa. Terutama dalam penguatan kemampuan dasar keagamaan seperti kemampuan baca tulis Al-Qur’an dan pembiasaan ibadah praktis.
Kampus pun berkomitmen melakukan rekonstruksi kurikulum sekaligus memperkuat penerapan nilai-nilai AIK dalam seluruh aspek kehidupan kampus agar pendidikan tidak hanya berorientasi akademik, tetapi membentuk karakter religius dan integritas mahasiswa secara berkelanjutan.
Narasumber pertama, Sutrisno, menekankan bahwa internalisasi pendidikan holistik berkarakter menjadi fokus utama dalam penguatan kurikulum AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA). Penguatan tersebut diarahkan untuk memastikan AIK tidak hanya menjadi mata kuliah, tetapi menjadi nilai hidup yang menjiwai seluruh aktivitas akademik dan budaya kampus.
Menurutnya, AIK yang berlandaskan Risalah Islam Berkemajuan diposisikan sebagai fondasi ideologis sekaligus kerangka keilmuan dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Implementasinya dilakukan melalui integrasi kurikulum, pembinaan karakter mahasiswa, dan keterlibatan seluruh sivitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Penguatan kurikulum AIK juga dikembangkan melalui pendekatan Outcome Based Education (OBE) dan Project Based Education (PBE) yang menekankan pembelajaran integratif, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Berbagai program seperti mentoring AIK, Baitul Arqam, pembiasaan ibadah, dan pengembangan budaya kampus islami menjadi bagian dari strategi internalisasi nilai-nilai tersebut.
Melalui langkah tersebut, dia berharap PTMA mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik. Namun, memiliki karakter Islam Berkemajuan yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, narasumber kedua, Suyadi, mengatakan bahwa transformasi kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di PTMA menuntut integrasi dan interkoneksi keilmuan sebagai sebuah keniscayaan.
Paradigma ini berkembang dari konsep islamisasi sains dan saintifikasi Islam menuju integrasi keilmuan yang menempatkan nilai-nilai Islam sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan modern. Implementasinya dilakukan melalui penyusunan pedoman integrasi keilmuan, pelatihan bagi dosen, serta penyusunan peta jalan kurikulum yang memastikan setiap mata kuliah mengandung dimensi integratif antara AIK dan disiplin ilmu setiap prodi.
Menurutnya, integrasi tersebut tidak hanya berhenti pada kurikulum. Namun, diwujudkan dalam penelitian, publikasi ilmiah, penerbitan buku integratif, serta pengembangan program riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak.
Mata kuliah seperti Islam, sains, dan teknologi menjadi contoh konkret integrasi AIK dengan keilmuan prodi, sekaligus mendorong keterlibatan mahasiswa dalam riset dan program kampus berdampak. Melalui pendekatan ini, PTMA diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keilmuan modern sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. (*)
