30 C
Jakarta

UMS Beri Beasiswa S2 Penuh Lulusan Difabel Psikologi

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus inklusif dengan memberikan beasiswa magister 100 persen kepada salah satu lulusan dengan kondisi difabel, Muhammad Arief Raharjo, S.Psi., untuk melanjutkan studi S2 di Program Studi Psikologi sesuai Surat Keputusan Rektor No.: 42/KEP-R/2026.

Keputusan tersebut sebelumnya juga telah diumumkan langsung oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam prosesi Upacara Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor Periode I Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (20/9) lalu di Gedung Edutorium UMS.

“Setelah saya rapat sebentar dengan Wakil Rektor bidang keuangan, akademik, dan lain-lain, prinsipnya kami setuju 100 persen (beasiswa penuh) bagi Mas Arif sesuai permohonan yang telah disampaikan. Mudah-mudahan bisa lulus tepat waktu,” tutur Harun di hadapan para wisudawan dan wali wisudawan kala itu.

Menanggapi hal tersebut, bagi Arief, beasiswa penuh tersebut bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga amanah besar. Ia mengaku merasakan tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menyelesaikan studi dengan baik.

“Ada tanggung jawab untuk tidak malas. Ini bukan hanya soal melanjutkan studi, tapi bagaimana saya bisa berkontribusi,” ungkapnya saat dimintai keterangan, Selasa (3/3).

Pada jenjang magister, Arief berencana mendalami Psikologi Pendidikan dengan fokus pada isu inklusivitas. Ia ingin meneliti fenomena pendidikan anak-anak disabilitas, khususnya yang berasal dari generasi Z dan generasi Alpha.

Menurutnya, dinamika generasi dan kepribadian sangat berpengaruh terhadap pola pembelajaran dan pendekatan pendidikan. “Banyak generasi dan kepribadiannya itu juga berpengaruh dan harus kita teliti,” jelasnya.

Sebagai lulusan dari sistem pendidikan inklusif, Arief menilai masih terdapat tumpang tindih antara kurikulum reguler dan kurikulum inklusif. Ia mencontohkan standar penilaian yang masih disamakan dengan mahasiswa reguler, terutama dalam aspek praktik.

Ia juga menyoroti bahwa pendekatan yang terlalu tekstual, termasuk dari sebagian asisten dosen, masih menjadi tantangan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus. Meski demikian, Arief bersyukur karena sebagian besar dosen di UMS memberikan perhatian dan dukungan penuh selama masa studinya.

“Dosen alhamdulillah sangat membantu. Teman-teman juga banyak yang membantu, meskipun ada juga yang kurang memahami,” tambahnya.

Ke depan, ia ingin fokus pada jenjang pendidikan SMA dalam risetnya, dengan harapan dapat memberikan rekomendasi konkret terkait pengembangan kurikulum yang lebih adaptif bagi siswa disabilitas.

Arief sempat mempertimbangkan melanjutkan ke Magister Psikologi Profesi. Namun, ia menilai jalur tersebut memiliki tantangan tersendiri, terutama jika berorientasi pada pekerjaan di rumah sakit yang menuntut kecepatan dan kesiapan fisik setiap saat.

“Kriteria di rumah sakit itu harus cepat dan konsisten kapan pun dipanggil. Dengan kondisi fisik saya yang masih ada keterbatasan, itu cukup sulit. Jadi saya lebih nyaman menjadi akademisi,” jelasnya.

Keputusannya melanjutkan studi di UMS juga dilandasi faktor kedekatan dengan lingkungan kampus yang telah menerima dirinya dengan baik. Ia mengaku tidak mudah menjalin relasi di lingkungan baru, sehingga UMS menjadi pilihan yang realistis sekaligus penuh makna.

Dalam kesempatan terpisah, Rektor UMS, Harun Joko Prayitno, menegaskan bahwa pemberian beasiswa kepada Arief merupakan bagian dari komitmen UMS sebagai universitas Islami berkelas dunia yang membumi dan inklusif.

“UMS harus mampu menebarkan kebaikan dan kemanfaatan untuk umat dan masyarakat luas, bukan hanya masyarakat Indonesia tetapi juga global,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa sebagai kampus inklusif, UMS membuka kesempatan bagi semua lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi, agama, maupun kondisi fisik. Saat ini, UMS memiliki 82 program studi dari jenjang S1, profesi, magister, hingga doktor.

Menurutnya, total beasiswa yang digelontorkan UMS setiap tahun mencapai sekitar Rp44 miliar. Salah satu penerimanya adalah Arief.

“Mas Arief kita tumbuhkan kepercayaannya, kita berikan motivasi dan sugesti supaya menjadi pribadi yang mandiri dan mampu dalam kehidupan,” ujar Harun.

Ia juga mengajak masyarakat luas untuk memberikan motivasi dan penghargaan kepada saudara-saudara berkebutuhan khusus sebagai bagian dari upaya membangun peradaban yang berkeadilan.

“Ini sebagai bentuk konkret bahwa UMS benar-benar menjelma menjadi kampus inklusi untuk umat dan seluruh masyarakat luas,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!