SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Evaluasi Masa Ta’aruf dan Penyambutan Mahasiswa Baru (MASTA-PMB) 2025 yang dirangkai dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) serta pembentukan Panitia Inti MASTA-PMB 2026 di Hotel Lorin Syariah Solo, Rabu (25/2).
Kegiatan evaluasi dipandu oleh Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., bersama Ketua Panitia MASTA 2025, Dr. Marisa Kurnianingsih, S.H., M.H., M.Kn., dan Sekretaris Panitia, Peni Indrayudha, S.Farm., M.Biotech., Apt., Ph.D.
Dalam sambutannya, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kolaborasi seluruh panitia. Menurutnya, meskipun MASTA telah rutin diselenggarakan setiap tahun, evaluasi tetap menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan di masa mendatang.
“Terima kasih atas kerja keras dan kerja samanya. Walaupun penyelenggaraan MASTA sudah cukup lama, tetap ada banyak saran dan masukan yang bisa menjadi perbaikan pada penyelenggaraan MASTA berikutnya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Panitia 2025, Dr. Marisa Kurnianingsih, S.H., M.H., M.Kn., mengucapkan terima kasih atas kontribusi besar seluruh panitia, baik pikiran, tenaga, waktu, bahkan materi dalam menyukseskan MASTA PMB 2025.
Beberapa rekomendasi yang mengemuka dalam evaluasi di antaranya perlunya rapat panitia yang terjadwal agar pembahasan lebih maksimal. Selain itu, media komunikasi yang dinilai paling efektif adalah grup WhatsApp dan Instagram. Tim Duta MASTA juga mendapat apresiasi dengan harapan dapat terus ditingkatkan perannya pada penyelenggaraan berikutnya.
Dalam pengarahan, Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., menekankan bahwa MASTA harus dirancang fleksibel dan mampu memberikan pengalaman unik bagi mahasiswa baru (maba).
Berdasarkan hasil survei, alasan utama calon mahasiswa memilih UMS masih didominasi faktor rekomendasi teman dan keluarga (mouth to mouth).
Karena itu, ia mendorong agar setiap evaluasi, sekecil apa pun, tetap disampaikan karena berpotensi membawa dampak besar. Tema MASTA juga perlu dikaji ulang dengan prinsip utama menyambut maba secara utuh, baik dari aspek akademik, non-akademik, maupun Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), sekaligus menunjukkan identitas UMS selaras dengan tagline transendensi.
Hal teknis seperti proses pendaftaran juga diharapkan semakin dipermudah. Selain itu, akan dilakukan diskusi lanjutan dengan Direktorat Akademik dan Admisi (DAA) terkait timeline pelaksanaan, dengan harapan kegiatan MASTA dapat selesai sebelum masa perkuliahan dimulai.
Ke depan, tema yang lebih relevan akan dirumuskan, termasuk penguatan model kaderisasi yang ideal melalui diskusi bersama para pimpinan terkait.
Dalam kesempatan tersebut, terpilih Ketua Panitia MASTA-PMB 2026, Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., Wakil Ketua Panitia Dr. Nur Subekti, S.Pd., M.Or., dan Sekretaris Wisnu Sri Hertinjung, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Ketua terpilih, Nur Aklis, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan.
“Terima kasih telah menunjuk kami untuk menjadi ketua dan wakil ketua Panitia MASTA PMB 2026. Bismillah, ini adalah tantangan. Mari kita bersama-sama, dan mohon bimbingan dari panitia 2025 untuk membantu menyukseskan acara,” ungkapnya.
Wakil Ketua, Nur Subekti, juga menyatakan kesiapan untuk berkontribusi penuh demi keberhasilan MASTA 2026. “Insyaallah MASTA 2026 sukses,” ujarnya singkat dan semangat.
Kegiatan ditutup dengan tausiyah oleh Kasubdit Minat Bakat dan Ormawa UMS, Drs. Suyatmin Waskito Adi, S.E., M.Si. Dalam pesannya, ia mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas kesempatan hadir dan menjalani ibadah di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Ia mengingatkan bahwa Ramadan merupakan momentum peningkatan kualitas iman dan ketakwaan. Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, ia menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.
Selain itu, ia memaparkan keutamaan Ramadan, antara lain sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan pengampunan dosa, dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, serta adanya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
“Ramadan adalah momentum upgrade diri. Setelah di-training selama sebulan, indikator keberhasilannya terlihat pada bulan Syawal dan seterusnya, apakah ibadah dan kepedulian sosial kita meningkat,” tuturnya.
Kemudian acara tersebut ditutup dengan buka puasa bersama. (*)
