SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar International Student Gathering pada Selasa (17/3) di Gedung Induk Siti Walidah UMS. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan kebersamaan bagi mahasiswa internasional yang menempuh studi di UMS, khususnya dalam momentum Ramadan.
Acara dipandu oleh Sekretaris Universitas, Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D., dan dihadiri langsung oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., yang memberikan sambutan penuh kehangatan kepada para mahasiswa dari berbagai negara.
Dalam sambutannya, Rektor UMS menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman latar belakang mahasiswa internasional. Ia menyampaikan bahwa perbedaan suku, bahasa, dan negara asal justru menjadi kekuatan jika dirangkai dalam semangat kebersamaan.
“Perbedaan itu kita rangkai menjadi kekuatan, menjadi pilar untuk membangun. Hanya dengan kebersamaan, kita bisa mengurangi potensi konflik, baik horizontal maupun vertikal,” ujarnya.
Ia juga mengajak mahasiswa internasional untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum penyucian hati dan pikiran, serta memperkuat keikhlasan dalam beramal dan bergaul. Bahkan, Rektor UMS membuka pintu rumahnya bagi mahasiswa yang tidak memiliki keluarga di Indonesia untuk merayakan Hari Raya Idulfitri bersama.
“Bagi yang tidak ada saudara di Indonesia, silakan datang ke rumah saya. Saya ini menggantikan orang tua Anda selama di sini,” ungkap Harun.
Selain itu, Harun juga menginisiasi agenda cooking together sebagai bentuk kedekatan informal antara mahasiswa internasional dengan pimpinan universitas.
Sementara itu, Kepala Pesantren Mahasiswa Internasional KH. Mas Mansyur, Muamaroh, M.Hum., Ph.D., dalam tausiyahnya menekankan bahwa Ramadan merupakan proses pendidikan menyeluruh, baik secara spiritual, mental, maupun sosial.
Ia menjelaskan bahwa puasa melatih kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, serta kepedulian sosial. Menurutnya, nilai-nilai tersebut bersifat universal dan dapat diterapkan oleh seluruh manusia, tidak hanya umat Muslim.
“Ramadan adalah proses pendidikan komunitas. Kita dilatih menjadi pribadi yang lebih baik, jujur, dan berakhlak. Kejujuran dan ketulusan adalah ‘mata uang’ yang berlaku di mana pun,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga akhlak, mengendalikan emosi, serta memperbanyak sikap memaafkan sebagai ciri pribadi bertakwa. Selain itu, mahasiswa internasional didorong untuk memanfaatkan waktu belajar di Indonesia dengan maksimal, termasuk berkontribusi membawa nama baik UMS di kancah global.
“Jadilah duta UMS. Ikuti kompetisi, presentasi, dan bawa nama UMS ke tingkat internasional,” pesannya.
Dalam kesempatan yang sama, salah satu mahasiswa internasional asal Pakistan, Muhammad Rehan Sabir, mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai acara ini memberikan kehangatan tersendiri bagi mahasiswa yang jauh dari keluarga.
“Ini adalah malam yang sangat menyenangkan. Jauh dari rumah, acara seperti ini membuat kami merasa terhubung dan tidak sendiri,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan seperti buka bersama yang diselenggarakan UMS sangat membantu mahasiswa internasional dalam membangun rasa kebersamaan dan adaptasi di lingkungan baru.
Lebih lanjut, ia menilai Ramadan di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, terutama dari sisi kuliner dan keramahan masyarakatnya.
“Makanan Indonesia sangat istimewa, salah satu favorit saya adalah sate. Selain itu, masyarakat Indonesia sangat ramah terhadap orang asing,” katanya. (*)
