SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pengabdian Kepada Masyarakat – Kemitraan Internasional (PKM KI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS melaksanakan kegiatan pengabdian di Community Learning Center (CLC) Tunas Harapan Bangsa dan CLC 26 Ladang pada (14-15/1).
Kegiatan ini menjadi bagian dari penerjunan resmi Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN Dik) FKIP UMS 2026 sekaligus peneguhan peran perguruan tinggi dalam mendukung pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri.
Tim KKN Dik FKIP UMS diketuai oleh M. Fahmi Johan Syah.,Ph.D., yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Microteaching, Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), dan KKN Dik FKIP UMS, didampingi oleh Agus Triyono, M.Si dan Sukirman, Ph.D.
Dalam kegiatan tersebut, dua mahasiswa KKN Dik, yakni Azzun Adna (Pendidikan Teknik Informatika) dan Sadad Al Faza (Pendidikan Jasmani), terjun langsung mendampingi proses pembelajaran di CLC.
Kegiatan yang dilaksanakan di kedua CLC meliputi pengenalan uang rupiah dan nilai keindonesiaan, pengelolaan keuangan sederhana, serta pengenalan dasar pemrograman kepada siswa.
Menurut M. Fahmi Johan Syah,,Ph.D., kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan literasi finansial, kecakapan abad 21, serta memperkuat identitas kebangsaan siswa di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa CLC, khususnya dalam pengenalan uang rupiah sebagai simbol identitas nasional serta pengenalan pemrograman sebagai bekal keterampilan masa depan,” ujarnya, Jum’at, (16/1).
Ia menambahkan bahwa antusiasme siswa muncul karena kehadiran mahasiswa KKN Dik membawa suasana dan aktivitas pembelajaran yang baru.
“Anak-anak sangat bersemangat karena ada mahasiswa KKN Dik yang datang, sehingga muncul kegiatan-kegiatan baru yang sebelumnya belum pernah mereka dapatkan,” jelasnya.
Meski berlangsung dengan lancar, Fahmi mengakui adanya tantangan tersendiri dalam pelaksanaan kegiatan ini. Keterbatasan sarana belajar serta minimnya jumlah guru di CLC menjadi kendala utama yang dihadapi.
“CLC sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama perguruan tinggi, agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan lebih optimal,” ungkapnya.
Penyerahan mahasiswa KKN Dik FKIP UMS kepada pihak CLC menjadi salah satu momen penting yang di-highlight dalam kegiatan ini, sebagai simbol kolaborasi dan komitmen berkelanjutan antara UMS dan lembaga pendidikan di Sabah.
Ke depan, Fahmi berharap program KKN Dik FKIP UMS dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun di CLC-CLC Sabah.
“Harapannya, KKN Dik ini terus berjalan dan mampu memberikan berbagai pengalaman baru sesuai dengan keilmuan yang dimiliki mahasiswa, sekaligus memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri,” pungkasnya.
Dengan semangat pengabdian dan kolaborasi, UMS terus meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen pada penguatan pendidikan, kemanusiaan, dan keindonesiaan lintas batas negara. (*)
