25.1 C
Jakarta

UMS Perkuat Dakwah Global Baitul Arqam Australia

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi dan Sentra KI (DRPPS) menggagas program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertajuk “Penguatan AIK, Filantropi dan Dakwah Global melalui Kolaborasi Amal Usaha Muhammadiyah-‘Aisyiyah via Baitul Arqam PCIM-PCIA Australia”. Program ini menjadi langkah strategis UMS dalam memperkuat dakwah Muhammadiyah di tingkat global.

 

Program yang disusun oleh tim dosen dan mahasiswa UMS ini diketuai oleh Muamaroh, M.Hum., Ph.D., bersama Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., serta sejumlah mahasiswa lintas program studi. Kegiatan BA tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Australia.

 

Ketua tim pengusul, Muamaroh, M.Hum., Ph.D., menuturkan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya jumlah warga Indonesia dan mahasiswa yang tinggal di Australia, sekaligus tantangan mereka sebagai minoritas Muslim di negara multikultural.

 

“Sebagai Muslim di negara yang sangat beragam, kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah membutuhkan penguatan ideologis agar tetap kokoh dalam nilai-nilai Islam sekaligus mampu beradaptasi secara positif,” ungkap Muamaroh, Sabtu (10/1).

 

Berdasarkan data, lebih dari 109 ribu warga kelahiran Indonesia tercatat tinggal di Australia. Di sisi lain, jumlah mahasiswa Indonesia juga terus meningkat. Namun, keterbatasan akses kajian keislaman, minimnya masjid di beberapa wilayah, serta tantangan gaya hidup menjadi persoalan tersendiri.

 

Menjawab tantangan tersebut, UMS merancang solusi melalui pelaksanaan Baitul Arqam sebagai media penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), edukasi dakwah berkemajuan berbasis filantropi, serta pelatihan membangun jejaring dan kolaborasi internasional.

 

Kegiatan utama dilaksanakan pada 22–24 Desember 2025 di Gold Coast Recreation Precinct, Queensland, Australia, bekerja sama dengan PCIM dan PCIA Australia dengan tema “Filantropi untuk Dakwah Global”. Pesertanya merupakan kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, mahasiswa Indonesia, hingga warga Indonesia yang telah menjadi permanent resident.

 

Menurut Muamaroh, Baitul Arqam (BA) kali ini memiliki konsep yang unik dan berbeda. “Ini Baitul Arqam yang menurut saya sangat unik karena pesertanya benar-benar keluarga. Ada suami, istri, dan anak. Bahkan ada anak-anak yang sudah mahasiswa tetap ikut,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, rundown acara BA betul-betul didesign dengan sangat baik, jadi ada rundown program untuk BA yang diikuti oleh para orang tua dan anak-anak yang sudah dewasa. Disisi lain secara bersamaan diselenggarakan juga BA for kids. Materi BA untuk para orang tua sesuai dengan panduan yang sudah ada dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah.

 

Sementara materi inti untuk anak-anak, mereka ditempatkan yang terpisah dari para orang tuanya. Mereka mendapatkan materi tentang arti lambang Muhammadiyah/Aisyiah dan juga materi idiologi Muhammadiyah yang di kemas dalam bentuk cerita. Peserta BA for Kids beragam dari usia 2 tahun hingga 14 tahun.

 

“Saya kebetulan juga mengisi materi BA for Kids untuk kedua materi tersebut dibantu dengan beberapa teman yang ada. Untuk BA orang tua,saya sendiri mengisi materi tentang keluarga sakinah dan profil kader Muhammadiyah/Aisyiah internasional,” tuturnya.

 

Dalam sesi BA Kids, anak-anak dikenalkan pada lambang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah serta dongeng inspiratif tentang KH Ahmad Dahlan. “Saya mengangkat kisah filantropi KH Ahmad Dahlan ketika beliau menjual barang-barangnya untuk menggaji guru. Begitu cerita yang pernah saya dengarkan dari beberapa tokoh Muhammadiyah. Itu saya analogikan sebagai garage sale pertama di Indonesia,” kata Muamaroh.

 

Kisah tersebut kemudian dipentaskan oleh anak-anak dalam bentuk drama saat jeda dihadapan semua peserta BA orang tua. “Anak-anak melakukan roleplay. Mereka memerankan bagaimana KH Ahmad Dahlan menggalang dana untuk pendidikan. Itu luar biasa,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, suasana semakin haru ketika anak-anak menyanyikan lagu Sang Surya versi bahasa Inggris pada saat penutupan BA. “Di tanah Australia, anak-anak menyanyikan Sang Surya versi English. Saya sampai menangis. Haru dan bangga melihat dakwah Muhammadiyah seperti ini di level internasional,” ungkapnya.

 

Muamaroh menilai, konsep Baitul Arqam ini menunjukkan dakwah Muhammadiyah yang holistik dan menyenangkan. “Ini dakwah yang melibatkan seluruh keluarga, bapak, ibu, dan anak. Dikemas dengan cara yang menyenangkan,” tegasnya.

 

Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, permanent resident, hingga simpatisan yang pernah bersekolah di Muhammadiyah. “Banyak yang ikut karena rindu suasana persyarikatan. Ini bukti bahwa dakwah Muhammadiyah itu hidup dan dirindukan,” tutur Muamaroh.

 

“Harapannya, kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Australia semakin kuat, berdaya saing global, dan mampu menjadi duta dakwah Islam yang mencerahkan lewat gerakan filantropi global,” pungkas Muamaroh. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!