SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Psikologi sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertema “Penguatan Ketahanan Mental dan Kepercayaan Diri Finansial bagi Diaspora Indonesia di Jepang melalui Integrasi Pendidikan Keuangan dan Kesejahteraan Emosional.”
Program ini dilaksanakan dalam tiga pertemuan yaitu dua sesi daring dan satu sesi luring. Program ini terlaksana atas kerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang. Puncak kegiatan luring diselenggarakan di Masjid Indonesia Tokyo pada Ahad, 1 Februari 2026, dan diikuti dengan antusias oleh jamaah masjid yang terdiri dari komunitas PCIM Jepang serta diaspora Indonesia di wilayah Tokyo dan sekitarnya.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya jumlah diaspora Indonesia di Jepang yang menghadapi tantangan biaya hidup tinggi, kompleksitas sistem keuangan, serta tekanan sosial untuk tetap mengirim remitansi ke tanah air. Meskipun sebagian besar memiliki pendapatan relatif baik, banyak di antaranya belum memiliki perencanaan keuangan yang sistematis dan masih rentan terhadap utang konsumtif maupun stres finansial.
Dalam sambutannya, Pak Miftah selaku Bendahara PCIM Jepang menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi pekerja migran dan diaspora Indonesia.
“Literasi keuangan sangat penting untuk menghindari pekerja migran di Jepang terlilit utang dan memiliki kestabilan emosi dalam mengatur finansialnya. Penghasilan saja tidak cukup tanpa pengelolaan yang bijak,” ujarnya.
Sebagai Ketua Tim Pengabdi, Dhany Efita Sari, Ph.D., dosen Pendidikan Akuntansi UMS, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya berbasis teori keuangan, tetapi juga mengintegrasikan aspek psikologis dalam pengambilan keputusan ekonomi. Materi utama yang disampaikan adalah konsep mindful spending, yaitu pendekatan pengelolaan keuangan yang menekankan kesadaran penuh sebelum melakukan pembelian.
“Peserta diajak memahami prinsip pause before purchase, berhenti sejenak sebelum membeli, mengevaluasi apakah pengeluaran tersebut benar-benar kebutuhan atau sekadar keinginan, serta memastikan bahwa keputusan finansial selaras dengan nilai dan tujuan hidup jangka panjang,” jelas Dhany, Jumat (20/2).
Melalui berbagai game, simulasi, dan studi kasus literasi keuangan, peserta berlatih membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun rencana pengeluaran, serta merefleksikan hubungan antara emosi dan keputusan belanja.
Pendekatan ini menjadi sangat relevan di tengah gempuran promosi digital, diskon musiman, serta tren wisata dan “healing” yang kian populer di kalangan diaspora. Tanpa kesadaran finansial yang kuat, pengeluaran impulsif dapat berujung pada beban utang dan tekanan psikologis.
Isnaya Arina Hidayati, M.Psi., dosen Psikologi UMS, mengulas aspek financial mental health. Ia memberikan tips dan strategi praktis untuk mengelola kecemasan finansial (financial anxiety), meningkatkan kepercayaan diri dalam pengelolaan uang (financial self-efficacy), serta melatih teknik mindfulness sederhana untuk menjaga keseimbangan emosi saat menghadapi tekanan ekonomi.
Menurut Isnaya, kesehatan mental dan literasi keuangan tidak dapat dipisahkan. Individu yang memiliki perencanaan keuangan yang baik cenderung lebih stabil secara emosional, lebih tenang dalam menghadapi ketidakpastian, dan mampu mengambil keputusan secara rasional.
Rangkaian kegiatan ini dimulai dari koordinasi dan analisis kebutuhan, dilanjutkan survei awal dan pretest literasi finansial serta ketahanan mental, pelatihan Mindful Spending (luring), pelatihan Financial Mental Health (daring), hingga posttest dan refleksi bersama. Evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku finansial peserta.
Melalui program ini, UMS berharap terbentuk komunitas diaspora Indonesia di Jepang yang tangguh secara finansial, stabil secara emosional, dan lebih percaya diri dalam mengelola pendapatan serta pengeluaran di lingkungan dengan biaya hidup tinggi. Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi internasional UMS dalam pengabdian masyarakat berbasis integrasi keilmuan akuntansi dan psikologi.
Kolaborasi antara UMS dan PCIM Jepang menunjukkan bahwa penguatan literasi keuangan bukan sekadar peningkatan pengetahuan, tetapi juga proses pemberdayaan yang menyentuh dimensi mental, sosial, dan spiritual diaspora Indonesia di luar negeri. (*)

