30 C
Jakarta

Vaksinasi Penting Lindungi Diri dan Ciptakan Herd Immunity

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Kesadaran menjaga kesehatan tubuh tidak hanya bergantung pada pola hidup sehat, tetapi juga pada pemahaman tentang sistem kekebalan tubuh. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr. Iin Novita Nurhidayati Mahmuda, M.Sc., Sp.PD-KPTI, FINASIM., menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki dua jenis sistem kekebalan, yakni imunitas alami dan imunitas yang didapat.

Menurutnya, imunitas alami dimiliki oleh setiap orang yang sehat. Sistem ini bekerja secara otomatis ketika tubuh terpapar patogen seperti virus atau bakteri.

“Kalau orang itu sehat, ketika terkena paparan patogen, maka tubuh akan mampu melawannya. Orang yang sehat disebut imunokompeten, artinya sistem imunnya bagus dan tidak mudah sakit,” jelasnya, Rabu (11/3).

Akan tetapi tidak semua orang memiliki kondisi sistem kekebalan tubuh yang kuat. Pada sebagian individu, sistem kekebalan tubuh bisa menurun atau mengalami defisiensi imun. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi, bahkan dari patogen yang pada orang sehat tidak menimbulkan penyakit serius. Seringkali kelompok rentan seperti lansia atau penderita penyakit tertentu, misalnya diabetes, penyakit jantung, maupun gangguan paru-paru, mengalami defisiensi imun.

Selain imunitas alami, tambahnya, manusia juga dapat memperoleh imunitas yang didapat, misalnya setelah sembuh dari suatu penyakit. Ketika seseorang pernah terinfeksi dan berhasil pulih, tubuh akan memiliki memori imun terhadap penyakit tersebut.

Di sisi lain, imunitas juga bisa diperoleh melalui vaksinasi. Menurut Iin, vaksin merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit menular yang sangat penting dalam dunia kesehatan.

“Namun ada penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Harapannya, pertama kita tidak terkena penyakit tersebut. Kedua, jika pun terkena, gejalanya menjadi lebih ringan. Jadi tujuan vaksin adalah mencegah terjadinya penyakit atau jika terkena, penyakitnya tidak berat dan bisa cepat sembuh,” ujarnya.

Vaksin bekerja dengan cara menstimulasi tubuh untuk membentuk kekebalan terhadap patogen tertentu. Patogen tersebut bisa berupa virus maupun bakteri. Melalui proses ini, tubuh akan memiliki respons imun yang lebih cepat ketika suatu saat terpapar penyakit yang sama.

Ia menambahkan bahwa vaksin menjadi sangat penting untuk penyakit yang penyebarannya cepat dan luas, bahkan berpotensi menimbulkan pandemi.

“Pada orang-orang dengan kondisi tubuh yang lemah, angka kematian menjadi lebih tinggi. Di situlah pentingnya vaksinasi,” kata Iin.

Selain melindungi individu, vaksinasi juga berperan dalam membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Ketika semakin banyak orang yang divaksin, maka risiko penyebaran penyakit di suatu komunitas akan semakin kecil.

“Dengan vaksin, kita mendapatkan imunitas untuk diri sendiri dan juga imunitas komunitas. Artinya jika semakin banyak orang yang divaksin, maka komunitas tersebut akan semakin terlindungi. Ini juga melindungi orang-orang yang belum bisa divaksin. Itulah tujuan vaksinasi,” tekannya.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa jenis vaksin. Sebagian vaksin berasal dari patogen yang dilemahkan sehingga mampu merangsang pembentukan kekebalan tubuh. Namun vaksin yang berasal dari virus hidup yang dilemahkan tidak diberikan kepada semua orang. Misalnya tidak dianjurkan untuk ibu hamil, pasien HIV yang belum mendapatkan pengobatan, pasien transplantasi, atau pasien yang sedang menjalani kemoterapi dan radiasi.

Selain itu, terdapat pula vaksin yang dibuat menggunakan teknologi genetika dan biologi molekuler. Vaksin jenis ini tidak menggunakan virus hidup, melainkan hanya bagian tertentu dari patogen yang dapat memicu pembentukan kekebalan.

“Vaksin jenis ini bisa diberikan kepada hampir semua orang, hanya saja disesuaikan dengan usia atau kelompok tertentu,” tambahnya.

Di Indonesia sendiri, sejumlah vaksin termasuk dalam program imunisasi wajib, seperti vaksin campak, DPT, polio, BCG, dan hepatitis B. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menekan angka kejadian penyakit menular.

Meski demikian, Iin mengakui bahwa gerakan antivaksin masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan dialog dan edukasi yang tepat.

“Kita harus fokus pada solusi, bukan konflik. Hindari perdebatan yang keras. Jika mereka belum bisa menerima penjelasan, kita bisa melibatkan pihak lain yang lebih dipercaya,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penyampaian informasi yang benar berdasarkan data ilmiah dan penelitian. Edukasi juga dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti kegiatan komunitas, seminar, workshop, hingga pemanfaatan media sosial secara bijak.

Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa vaksin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar yang lebih rentan terhadap penyakit. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!