SOLO, MENARA62.COM – Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menegaskan pentingnya sinergi pemerintah dan lembaga filantropi dalam upaya pengentasan kemiskinan di Kota Bengawan. Hal tersebut disampaikan saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Lazismu Surakarta Tahun 2026 di Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ahad (1/2/2026).
Dalam sambutannya, Respati mengungkapkan capaian penurunan angka kemiskinan di Kota Surakarta yang kini berada pada angka 7,69 persen atau sekitar 40.000 jiwa. Angka tersebut menunjukkan tren positif dibandingkan tahun sebelumnya, hasil dari kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
“APBD Kota Surakarta yang mencapai sekitar Rp2 triliun bersumber dari pajak dan juga semangat filantropi umat. Dana tersebut harus dikelola untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, khususnya masyarakat miskin,” ujarnya.
Respati menilai jabatan politik pada hakikatnya merupakan amanah filantropi, baik sebagai presiden, gubernur, wali kota, hingga kepala desa. Tujuannya satu, yakni memajukan bangsa dan mengentaskan kemiskinan. Ia mencontohkan negara maju yang mampu memberikan layanan pendidikan dan kesehatan gratis karena tingkat kemiskinan yang sangat rendah.
Salah satu fokus penting yang disoroti adalah konsep graduasi kemiskinan, yakni memastikan warga yang telah mandiri secara ekonomi tidak lagi menerima bantuan sosial. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya pada sistem, tetapi juga pada akhlak dan mental ketergantungan. Tahun ini, target graduasi kemiskinan di Surakarta mencapai Rp20 miliar dan diharapkan meningkat menjadi Rp25 miliar.
“Di sinilah peran Lazismu sangat strategis, terutama dalam menjaga akuntabilitas dan transparansi data agar proses graduasi benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.
Respati juga menyinggung Program Sekolah Rakyat sebagai upaya memutus mata rantai kemiskinan. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, termasuk anak gelandangan, pemulung, dan buruh kasar, agar memperoleh pendidikan, asrama, serta pembinaan karakter dan kemandirian.
Pada era saat ini, lanjut Respati, keberhasilan program sosial tidak cukup diukur dari publikasi, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, Lazismu didorong untuk terus mengedepankan pelaporan berbasis dampak guna menjaga kepercayaan donatur.
Selain itu, ia juga membuka wawasan tentang peluang kerja ke luar negeri dengan gaji kompetitif, seraya mengingatkan pentingnya lembaga pelatihan kerja (LPK) yang legal dan amanah. Dalam konteks kaderisasi, Respati mengajak pemuda Muhammadiyah untuk aktif, inovatif, dan berani mengambil peran strategis di berbagai bidang.
Menutup sambutannya, Respati berharap seluruh ikhtiar pengentasan kemiskinan dan dakwah sosial Muhammadiyah dapat dijalankan dengan niat ikhlas lillahi taala. Ia juga memohon doa dan dukungan para sesepuh serta seluruh kader Muhammadiyah agar visi mewujudkan masyarakat Surakarta yang sejahtera dan berakhlak mulia dapat tercapai. (*)
