SOLO, MENARA62.COM – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Talkshow dan Ramah Tamah dalam kegiatan Semarak Milad ke-43 Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS. Bertempat di Lapangan Pondok Hajjah Nuriah Shabran UMS pada Sabtu, (10/1).
Talkshow kali ini, dihadiri oleh narasumber Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A., selaku Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Republik Indonesia sekaligus Alumni Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS angkatan tahun 1998.
Sebelum menyampaikan inti materi, Fajar mengungkapkan rasa senang dan bahagia bisa kembali pulang ke Pondok Shabran UMS untuk nostalgia masa-masa menjadi mahasantri.
“Mungkin kunjungan saya di UMS sudah terbilang sering, tapi hadir di acara alumni pondok shabran saya jarang mengikut. Maka, ini sebuah kebahagiaan bisa kembali bernostalgia masa-masa menjadi mahasantri,” ungkapnya Senin (12/1).
Mengawali materinya dengan menceritakan masa-masa pendidikannya di Pondok Shabran dan UMS. Fajar merupakan sosok mahasiswa aktivis tulen, ia aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Shabran, IMM Cabang Sukoharjo, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam (BEM-FAI), dan BEM-UMS.
“Selama 2 dekade dinamika kehidupan saya, sebagian besar atas pengaruh di Pondok Shabran UMS, ditempa menjadi seorang aktivis”, tuturnya.
Menjadi seorang aktivis sebuah hal candu yang Fajar rasakan, selesai dari masa perkuliahan, Fajar mendaftar pekerjaan di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) UMS dan melanjutkan karir di Maarif Institute, lembaga manifestasi pemikiran Ahmad Syafii Maarif. Menurutnya, yang menjadikan Fajar dekat dengan urusan pemerintahan semenjak bekerja di Maarif Institute yang membidangi birokrasi lembaga.
“Ketika di Maarif Institute saya fokus di birokrasi lembaga, hal itu yang menjadikan saya ditarik oleh Pak Muhadjir Effendy untuk menjadi staf khusus menteri saat itu”, katanya.
Menjadi Wakil Menteri pendidikan dasar dan menengah merupakan profesi yang melenceng dari latar belakang akademinya. Jejak akademik yang ditempuh oleh Fajar tidak ada satupun yang fokus pada dunia pendidikan. Menurutnya, belajar menjadi seorang aktivis dan belajar menjadi pemimpin Muhammadiyah merupakan proses pembentukan jati dirinya hingga saat ini.
“Dua kelebihan menjadi aktivis dan pemimpin Muhammadiyah, Pertama: Cepat beradaptasi, dan Kedua: Cepat dalam belajar hal baru. Dua kelebihan tersebut menjadi kunci kesuksesan yang saya rasakan”, pungkasnya.
Lebih lanjut, Fajar menjelaskan bahwa alumni-alumni Pondok Shabran UMS telah berdiaspora di seluruh penjuru bangsa. Hal ini dibuktikan dengan perjalanannya selama menjalani tugas Wakil Menteri bertemu dengan para alumni Shabran UMS yang berkiprah di pelosok-pelosok bangsa, pemerintahan kota, pemerintahan wilayah, bahkan di pemerintahan pusat.
Fajar menegaskan bahwa diaspora alumni-alumni Pondok Shabran UMS harus dimobilisasi dengan baik, karena merupakan modal sosial yang luar biasa bagi UMS, menjadi institusi besar. Ia juga berharap kiprah diaspora para alumni Pondok Shabran UMS bisa diwariskan ke mahasantri-mahasantri yang sedang berjuang saat ini.
Menutup sesi pemaparan materi, ia mengungkapkan rasa bangga menjadi bagian dari Pondok Shabran UMS. Menurutnya Pondok Shabran UMS tempat kaderisasi talenta-talenta muda Muhammadiyah.
“Talenta-talenta telah dilahirkan dari Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS”, tutupnya. (*)
