30 C
Jakarta

Wamenag Tekankan Tanggung Jawab Moral AI di ICIMS 2026

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., menekankan pentingnya tanggung jawab moral manusia dalam penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada 6th International Conference on Islamic and Muhammadiyah Studies (ICIMS) 2026 yang diselenggarakan di Ruang Seminar Auditorium Moh. Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), pada Selasa (10/2).

Dalam pemaparannya yang dimoderatori langsung oleh Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., selaku Wakil Rektor III UMS, Romo mengawali pemaparannya dengan apresiasi terhadap peran Muhammadiyah dalam dunia pendidikan.

“Saya sangat mengapresiasi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menyiapkan generasi yang relevan dengan zamannya.

“Ajarkanlah anakmu ilmu yang berbeda dari yang kau peroleh, karena anakmu hidup di zaman yang berbeda daripada hidupmu,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wamenag menjelaskan bahwa kecerdasan buatan merupakan produk kecerdasan manusia, namun tidak memiliki dimensi moral.

“AI adalah hasil dari kecerdasan manusia, tetapi ia tidak memiliki moral, nurani, dan perasaan atau emosi,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, manusia memiliki tanggung jawab penuh dalam penggunaannya.

“Wajib bagi manusia sebagai khalifah di bumi untuk bijak dalam menggunakan AI yang telah diciptakannya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti konsep kecerdasan dalam perspektif keislaman.

“AI pertama adalah manusia itu sendiri, karena manusia diciptakan oleh Allah dengan kecerdasan yang luar biasa, disertai fungsi sebagai khalifah dan tugas menghamba. Itulah AI yang paling sempurna,” ungkapnya.

Dalam penutup penyampaiannya, ia kembali menekankan aspek tanggung jawab etis.

“Secanggih-canggihnya AI, AI tetaplah buatan manusia, dan manusialah yang bertanggung jawab penuh atas apa yang telah diciptakannya,” katanya.

Melalui forum ICIMS 2026, Wamenag berharap diskursus kecerdasan buatan tidak hanya berhenti pada aspek teknologis, tetapi juga mampu mengakar pada nilai etika, kemanusiaan, dan spiritualitas sebagai fondasi peradaban di era digital. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!