Rintik hujan satu-satu pagi itu membuat suasana yang sudah bertambah dingin. Aku terbangun. Tidak seperti biasanya. Biasanya hujan lebat, bahkan disertai guntur yang menyalak, aku tidak mendengarnya. Aku tetap mendengkur dengan pulas. Hingga tidak jarang istri marah-marah. Kalau sudah demikian aku terdiam seribu bahasa, seperti kerbau dicocok hidungnya. Mengaku salah. Namun 10 hari terakhir ramadhan kemarin, aku tidak mau kehilangan momentum. Kupaksakan diri untuk biasa bangun tengah malam. Berawal dari ikut-ikutan teman yang sudah lebih dulu, iktikaf.
Ternyata kebiasaan bangun tengah malam itu masih berlanjut di bulan Syawal ini. Tidak tahu, siapa yang membangunkan. Namun jam 03 lebih dikit aku sudah bangun. Dingin pagi itu, menusuk pori-pori. Biasanya kalau ramadhan, aku sahur. Tinggal makan saja. Karena perangkat dan materinya sudah disiapkan istri. Bangun, mandi kemudian makan sahur. Jujur dalam hal ini, aku mengaku bukan suami yang baik. Bukan tipe suami siaga. Yang siap membantu istri di dapur. Lengkap dengan pernak-perniknya. Kadang aku merasa gagap, kalau istri sedang tidak enak badan. Harus sahur dengan apa? Maka aku pilih paket hemat. Buat mie rebus atau jika nasi ada, cukup goreng telur. Minumnya pakai teh celup. Selesai.
Pagi yang dingin itu, aku tengok jam dinding yang belum lama aku ganti baterainya, jarum pendek ada diangka 3, jarum panjang diangka 3 juga. Hampir berhimpitan. Aku buka korden sedikit, pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Di luar gelap. Hanya sorot temaram lampu halaman 5 watt yang sudah setahun ini awet bertahan. Ditiga tempat. Aku menghela nafas perlahan. Berdoa bangun tidur, yang sudah aku hafal sejak TK ABA. Aku tengok anak istri masih melingkar di kamarnya masing-masing. Istri kurang sehat. Maka aku biarkan. Rohman, anak laki-lakiku , 17 tahun yang selama ini menguji kesabaran agar aku tidak ujub atas pencapaiannya. Masih juga tidur pulas. Aku tengok HP-nya masih ditangan digenggam dengan lemah. Pertanda semalam ketiduran dengan gadget-nya. Aku mengira pasti tidurnya tidak pulas. Tidak pakai selimut. Celana pendek warna hitam senada dengan kaosnya melekat ditubuhnya yang mulai tinggi menjulang. Jika berjajar denganku, hampir sama. 162 Cm.
Pelan-pelan aku melangkah ke kamar mandi. Usai mandi aku ambil wudhu. Kebiasan mandi pagi ini aku lakukan sejak ramadhan lalu. Jadi bukan karena junub. Memang efeknya tubuh lebih segar, subuh tidak ngantuk dan goyang saat berjamaah. Rasanya lebih fresh. Memang awalnya dinginnya tidak ketulungan. Bahkan awal-awal mandi pagi, aku sering menjerit reflek. Saking dinginnya. Lama-lama menikmati.
Seperti sholat taraweh di ramadhan. Aku mencoba melanjutkan di luar ramadhan. Tahajud. Tapi jujur sering tidak genap 11 rakaat. Kadang 5 rakaat, kadang 7 rakaat. Paling sedikit 3 rakaat. 2 salam 1 witir. Mengapa tidak 11 rakaat? Aku sendiri tidak bisa menjawabnya, namun setelah aku cari tahu jawabnya karena malas saja. Meski sudah mandi, tetap saja disergap oleh rasa kantuk yang hebat. Usai Shalat tidak aku sia-siakan untuk bermunajat kepada-Nya. Aku tumpahkan semua uneg-uneg dan keinginan diri, keluarga dan masyarakat sekitar. Terlebih kepada keluarga. Tidak jarang aku terisak dalam tangis. Aku mengadu kepada-Nya yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Anak tidak selamanya milik orang tuanya. Hati anak tetap dalam genggaman Allah yang Maha Perkasa. Salah satu doa yang aku selipkan dalam setiap doa adalah doanya Nabi Ibrahim As, dalam QS. As-Shofat ayat 100 itu. Rabbi habli minashaalihin. Doa pendek namun mempunyai efek besar dalam keluarga dan masyarakat, bahkan negara. Anak yang soleh, tidak saja mampu membuat suasana dan ruh dalam rumah tangga menjadi lebih cemerlang, pun membawa gerbong masyarakat lebih baik, mampu membuat perubahan. Tidak menjadi biang masalah. Itu sudah cukup bagiku. Tidak lebih. Dari mana indikatornya? Satu : Sholatnya tertib. Karena kalau sholat tertib, maka yang lain akan ikut. Sesuai hadist Nabi, Sholat menjadi amalan utama. Kunci. Kalau sholat baik yang lain akan baik, kalau sholat buruk, kedodoran, maka yang lain akan buruk, hingga masa depannyapun demikian.
Maka pagi subuh itu, aku dibuat kaget. Setelah sekian lama tidak pernah ikut jamaah subuh di masjid kampung. Meski yang namanya aku bangunkan sudah tidak terhitung jumlahnya. Baik cara yang halus, hingga maaf agak kasar. Aku cubit pantatnya. Kadang aku seblak kakinya. Tetap tidak bergeming. Namun pagi itu, usai salam, aku tengok ada sosok Rohman ikut jamaah Subuh di shaf ke-dua, kanan. Tanpa disuruh aku tersungkur sujud syukur. Idul Fitri menjadi titik balik bagi diriku dan dirinya. (Sekian )
#8 – Novelet BdAK , Idul Fitri, Titik Balik ( lanjutan )
- Advertisement -
