#9 – Novelet – Dominasi Gadget
MALAM larut. Namun mata ini enggan terpejam. Berbagai cara aku lakukan. Dari matikan lampu pijar yang tadinya hanya 5 watt, hingga off kan murotal juzamma MP3 dari HP. Bayangan Rohman makin malam makin lekat. Antara marah dan sayang. Antara benci dan rindu. Aku setengah bangkit dari tidur, aku tengok jam di HP, jam 23.05. Aku menghela nafas panjang. Istighfar. Semoga diberkan keselamatan di jalan raya yang makin larut, makin tidak ramah.
Aku WA lagi untuk kesekian kalinya. Pesannya sama. Pulang. Kali ini menjawab. Otw. Aman. Hati mulai tenang. Alhamdulillah. Tak terasa aku tertidur. Jam 02.05 aku terbangun. Reflek aku buka kamarnya, sudah ada Rohman. Setengah tidur. badannya miring. Masih akrab dengan gadget-nya.
“Tidur, le”
“Iya,” jawabnya pendek. Aku lihat matanya sudah sayu. Capek. Namun dipaksakan.
“Biar besok bisa subuhan, di masjid atau mushola,”
“Sudah, bapak tutup pintunya, seperti biasanya, pak,”
“Kamu baru pulang ya?” intonasiku mulai naik
“Gak, sudah dari tadi kok, bapak sudah tidur,”
“Tidur, besok, kesiangan subuhnya. Matanya gak kuat,”
“Iya, iya. Pintunya ditutup pak,” mulai tidak nyaman dengan kehadiranku. Secara tidak langsung menyuruh aku segera pergi, dan asyik dengan HP-nya. Gadgetnya. Daripada ribut di tengah malam, istri dan kakaknya Rohman yang sudah tidur dari jam 9 malam, aku mengalah. Aku tinggalkan Rohman dengan HP-nya. Aku mengambil air wudhu. Sholat 2 rakaat. Sambil aku melirik jam di HP. 02.34.
Usai sholat aku tidak segera tidur. Aku ambil buku kecil yang biasa aku pakai untuk mencatat kajian rutin di Masjid atau Mushola kampung. Aku baca-baca ulang. Aku tersenyum sendiri, melihat tulisanku ada beberapa bagian yang tidak jelas. Hanya garis-garis acak tidak beraturan. Artinya waktu itu, aku mengantuk. Aku sampai pada tulisan yang menceritakan kisahkanya Imam Masjidil Haram
Ulama besar – Syeikh Abdurrahman as Sudais. Sekaligus sebagai presiden Urusan dua masjid suci, lahir pada 10 Pebruari 1960. Dikenal dengan suaranya yang merdu dan bacaan al-qurannya yang “emosional”. Hingga banyak jamaah yang larut, karenanya. Ustadz kami, Muhammad Muslim mengisahkan sangat detail, ketika Syekh Sudais ini di masa kecilnya, pra remaja. Cukup nakal. Pernah kejadian, saat keluarganya akan ada tamu besar. Ibunya sudah memasak istimewa, gulai unta. Jelang kedatangan tamu besar itu, sepulang dari main, gulai yang sudah siap saji, ditaburi dengan segenggam pasir. Di Arab tentu banyak ditemukan pasir. Tanpa bersalah. Dengan entengnya, ia buka gulai unta itu, byur…segenggam pasir bercampur dengan gulai. Ibunya pasti marah. Namun dalam marahnya, masih bisa berdoa, kurang lebih, doanya, ” Ya Allah, Sudais, besok kalau besar, ibu doakan menjadi imam Masjidil Haram.” Sambil dicubit pantatnya. Sudais kecil meringis kesakitan dan lari keluar rumah. Main lagi.
Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tentu tidak sekelas ibunya Sudais. Yang mempunyai kesabaran di atas rata-rata. Bisa berkata baik dalam bungkus kemarahan hatinya. Kebanyakan orang, jika sudah marah, hati dikuasai emosi, maka yang keluar adalah kata-kata kotor yang tidak beraturan. Terkesan memalukan dan menjijikkan. Tidak jarang nama-nama binatang keluar. Padahal mulut kita ini kecil. Tapi binatang yang besar-besar bisa keluar dari mulut kita yang mungil ini. Astaghfirullah.
Jika ingat kisah ini, grade kesabaranku naik. Sedikit.
Tak terasa Adzan Subuh pertama dari masjid seberang terdengar nyaring. Tanpa melihat jam, aku sudah hafal itu artinya satu jam sebelum waktu subuh. Setelah Sholat malam, 5 rakaat aku baringkan tubuhku yang mulai menua ini. mulai ringkih. Sebenarnya mau nunggu sampai adzan subuh. namun kedua mata sudah tidak bisa diajak kerjasama. Harapanku Adzan subuh bisa bangun. Idealnya waktu satu jam bisa untuk taddarus. Sambil menunggu Subuh. Tapi aku bangun terlalu pagi. Biarlah. Aku coba duduk bersandar tembok, sambil tiduran. Agar kalau adzan subuh bisa dengar dan segera dapat ke masjid. ( bersambung )
