26.9 C
Jakarta

KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir: Ulama Qira’at Nusantara dan Sang Muallif Tafsir al-Ma’unah

Baca Juga:

Oleh: KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha

Ketua Fatwa MUI Kota Surakarta

SOLO, MENARA62.COM – Perkembangan studi tafsir Al-Qur’an di Nusantara dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan dinamika akademik yang signifikan. Di samping karya-karya tafsir klasik yang telah lama menjadi rujukan utama dalam tradisi pesantren dan perguruan tinggi Islam, muncul pula karya-karya tafsir Nusantara yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian luas. Karya-karya tersebut kini semakin memperoleh legitimasi akademik dan sosial, baik melalui kajian ilmiah, forum diskusi keagamaan, seminar, maupun pengajaran di lingkungan pesantren. Fenomena ini menandai revitalisasi tradisi tafsir Nusantara sebagai bagian integral dari khazanah keilmuan Islam yang hidup, adaptif, dan kontekstual.

Salah satu karya tafsir Nusantara yang memiliki signifikansi keilmuan tinggi adalah al-Ma‘ūnah fī Tafsīr Sūrat al-Fātiḥah karya KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir. Tafsir ini merepresentasikan kesinambungan sanad keilmuan Al-Qur’an di Indonesia sekaligus memperlihatkan kedalaman metodologis dalam penafsiran. Penulis artikel ini memiliki pengalaman langsung mempelajari karya tersebut dalam konteks tabarrukan hafalan Al-Qur’an kepada pengarangnya pada periode 2014–2016, sehingga dapat menilai secara empiris kualitas akademik dan otoritas keilmuannya.

KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir merupakan cucu dari KH. Munawwir Krapyak, seorang tokoh sentral dalam transmisi sanad hafalan dan qira’ah Al-Qur’an di Nusantara. Latar belakang genealogis dan intelektual ini menjadi basis kuat bagi pembentukan otoritas keilmuan beliau dalam bidang Ulumul Qur’an. Proses pendidikan formal dan nonformal beliau tempuh melalui rihlah ilmiah yang panjang, khususnya di lingkungan Krapyak Yogyakarta serta berbagai pesantren besar di Jawa dan Banten. Rihlah tersebut tidak hanya memperkaya wawasan keilmuan, tetapi juga memperkokoh jaringan sanad dan otoritas akademik dalam bidang tahfiz dan qira’ah.

Sejak tahun 1989, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir mengemban amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Ma’unah Sari, Bandar Kidul, Kota Kediri dan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Selain berperan sebagai pendidik dan ahli qira’ah, beliau juga dikenal produktif dalam penulisan karya ilmiah-keagamaan. Di antara karya-karyanya adalah Setetes Embun Penyejuk Hati, Daftar Kandungan Al-Qur’an, buku panduan riyadhah 41 Khataman, serta karya tafsir al-Ma‘ūnah fī Tafsīr Sūrat al-Fātiḥah yang menjadi kontribusi utama beliau dalam disiplin tafsir Al-Qur’an.

Tafsir al-Ma‘ūnah menempati posisi strategis dalam peta tafsir Nusantara. Meskipun lahir dari tradisi pesantren, karya ini disusun dalam bahasa Arab dengan struktur dan terminologi yang menunjukkan keterhubungan erat dengan tradisi tafsir klasik. Pilihan bahasa tersebut mencerminkan orientasi akademik pengarang untuk menempatkan tafsir Nusantara dalam diskursus global keilmuan Islam. Fokus tafsir ini pada satu surat, yakni Surat al-Fatihah, memperlihatkan pendekatan metodologis yang mendalam dan intensif, sekaligus menegaskan pentingnya surat tersebut sebagai rukun qauli dalam salat.

Secara metodologis, al-Ma‘ūnah mengintegrasikan berbagai disiplin keilmuan, meliputi analisis lafaz dan semantik, kajian qira’at beserta implikasi maknanya, pembahasan fadhā’il dan dimensi spiritual, elaborasi fiqh dan hukum syar‘i, serta analisis kebahasaan melalui pendekatan nahwu dan balaghah. Integrasi multidisipliner ini menjadikan tafsir al-Ma‘ūnah tidak hanya kaya secara teoritis, tetapi juga relevan secara praktis bagi pembinaan kualitas ibadah umat.

Dari perspektif epistemologi tafsir, al-Ma‘ūnah memiliki sumber rujukan yang jelas dan terukur, terutama dengan merujuk pada Rawā’i‘ al-Bayān karya Syekh Ali al-Şābunī. Metode penafsiran yang digunakan cenderung tahlili dengan corak bil ma’tsūr, sehingga tetap berada dalam kerangka ortodoksi tafsir Sunni. Konsistensi metodologis ini memperlihatkan validitas keilmuan tafsir al-Ma‘ūnah baik dari aspek koherensi internal, korespondensi dengan pandangan jumhur mufassir, maupun dari sisi pragmatis berupa kontribusinya terhadap peningkatan kualitas pengamalan ibadah, khususnya salat.

Kajian metodologi juga menunjukkan bahwa asal-usul tafsir al-Ma‘ūnah dari tradisi pesantren justru menjadi kekuatan utama karya ini. Tafsir ini lahir dari kebutuhan riil komunitas santri dan umat, dengan orientasi pembinaan praktik keberagamaan yang benar dan bertanggung jawab. Penekanan pada ketepatan qira’at dan ketepatan fiqh mencerminkan prinsip fundamental tradisi pesantren: menjaga kemurnian transmisi teks dan validitas amalan.

Penamaan al-Ma‘ūnah mengandung dimensi teologis dan epistemologis yang mendalam, menegaskan bahwa pemahaman Al-Qur’an tidak semata-mata merupakan kerja intelektual, tetapi juga membutuhkan adab, riyadhah, dan taufiq Ilahi. Sekaligus, penamaan ini mengabadikan identitas Pondok Pesantren Ma’unah Sari sebagai basis institusional lahirnya karya tafsir tersebut.

Dengan demikian, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir dapat diposisikan sebagai ulama Nusantara yang berhasil mensintesiskan sanad keilmuan, kedalaman Ulumul Qur’an, dan kepedulian terhadap kualitas ibadah umat. Al-Ma‘ūnah fī Tafsīr Sūrat al-Fātiḥah tidak hanya memperkaya khazanah tafsir Nusantara, tetapi juga memberikan kontribusi substantif dalam membangun pemahaman Al-Qur’an yang ilmiah, sistematis, dan berorientasi pada penguatan praksis keberagamaan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!