SOLO, MENARA62.COM — Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Harun Joko Prayitno menegaskan bahwa gelar doktor harus melahirkan ilmuwan yang inovatif, humanis, dan dekat dengan masyarakat. Hal tersebut disampaikan usai Sidang Terbuka Promosi dan Pengukuhan Doktor Program Studi Doktor Ilmu Hukum UMS, Rabu (28/1/2026), di Auditorium Moh. Djazman UMS.
Dalam keterangannya, Harun menyampaikan lima pesan utama bagi para doktor. Pertama, doktor harus memiliki talenta dan inovasi tanpa henti. Talenta, menurutnya, bukan sesuatu yang statis, melainkan harus terus diasah sepanjang hayat.
Kedua, doktor perlu bertransformasi dari sekadar knowing base dan howing base menuju doing base dan living the base, yakni menjadikan ilmu sebagai praktik nyata sekaligus nilai hidup. “Ilmu tidak berhenti di teori, tapi harus diwujudkan dalam tindakan dan menjadi bagian dari kehidupan,” ujarnya.
Pesan ketiga, doktor dituntut mampu menghadirkan kemanfaatan luas bagi masyarakat. Keempat, gelar doktor tidak boleh dimaknai sebatas “liberasi” dari tugas kuliah dan disertasi. Ia mendorong lulusan doktor naik ke tahap humanisasi dan transendensi, menghadirkan ilmu yang memanusiakan dan berlandaskan nilai ketuhanan.
Kelima, doktor UMS harus membumi dan menyatu dengan masyarakat. “Jangan menjadi menara gading atau pohon tanpa buah. Jadilah ilmuwan yang benar-benar memberi hasil nyata,” tegasnya.
Harun juga menyampaikan bahwa UMS terus berkembang secara horizontal dan vertikal dalam penguatan program akademik. Saat ini terdapat 29 program magister dan doktor di UMS, dan ke depan berbagai program doktor baru terus dipersiapkan, mulai dari bidang kesehatan, kedokteran, teknik rekayasa berkelanjutan, teknologi informasi, komunikasi, hingga disiplin strategis lainnya.
Sementara itu, Ketua Program Doktor Ilmu Hukum UMS, Prof. Absori, menjelaskan bahwa visi program doktor hukum UMS adalah mencetak doktor dengan wawasan hukum berbasis transendensi. Nilai spiritual, kearifan lokal, dan nilai keagamaan menjadi fondasi agar ilmu hukum yang dikembangkan membawa kemaslahatan luas.
“Harapannya, ilmu yang lahir dari sini menjadi rahmat bagi semesta atau rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, Program Doktor UMS telah meluluskan lebih dari 100 doktor dengan dukungan berbagai skema pendanaan, termasuk beasiswa persyarikatan dan jalur reguler. UMS juga mulai menarik minat mahasiswa internasional dari sejumlah negara seperti Mesir, Madagaskar, dan Uzbekistan sebagai bagian dari penguatan jejaring global.
Sejumlah alumni doktor UMS kini berkiprah di level nasional, termasuk di lingkungan kantor kepresidenan, lembaga legislatif, dan berbagai jabatan strategis negara. Prof. Absori berharap kolaborasi alumni dengan para pemangku kebijakan semakin kuat, khususnya dalam perumusan kebijakan hukum di tingkat nasional maupun internasional.
“Ke depan, kami ingin lulusan doktor UMS berkontribusi nyata dalam pengambilan kebijakan dan pembangunan hukum yang berkeadilan,” pungkasnya. (*)
