SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melepas empat relawan kemanusiaan untuk bertugas di wilayah terdampak banjir bandang di Kota Lintang, Aceh Tamiang, Sumatera, dalam acara Pelepasan Relawan Bencana Sumatera yang digelar di Ruang Sidang Rektorat Lantai 6 Gedung Siti Walidah UMS pada Senin (2/2).
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dedikasi para relawan yang akan menjalankan misi kemanusiaan.
“Atas nama universitas, kami sangat berterima kasih atas dedikasi adik-adik relawan yang akan berangkat untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar relawan menggunakan pendekatan yang kontekstual, humanis, dan komunal selama menjalankan tugas. Harun juga menegaskan bahwa UMS memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut karena merupakan aksi kemanusiaan sekaligus bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
“Universitas akan sedikit membantu karena ini adalah kegiatan kemanusiaan, dan juga bisa dijadikan bentuk pengabdian yang dapat dikonversi sebagai bagian dari tugas akhir masa kuliah,” jelasnya.
Dengan pelepasan ini, UMS menegaskan komitmennya dalam mendukung aksi kemanusiaan serta pengabdian sivitas akademika bagi masyarakat yang membutuhkan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Adapun relawan yang diberangkatkan terdiri dari tiga psikolog dan satu koordinator, yakni; Berlianti Husna Pradina, S.Psi., Shafiyatul Baridah, S.Psi., Alvanindya Nafik Ardani, S.Psi., serta Bramantyo Wijaya Kusuma selaku koordinator tim.
Bramantyo Wijaya Kusuma menjelaskan bahwa keberangkatan tim relawan didasari oleh panggilan kemanusiaan dan semangat ke-Muhammadiyahan.
“Sebenarnya pasti atas dasar kemanusiaan ya, Mas. Karena yang kita tahu Muhammadiyah itu aktif bukan hanya di pendidikan dan keagamaan, tapi juga di kemanusiaan yang diwakili oleh MDMC,” ungkapnya.
Menurutnya, upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab sebagai manusia dan sebagai muslim untuk meringankan beban sesama dan hingga kini kebutuhan mendesak di lokasi masih terkait air bersih dan pemulihan trauma psikososial masyarakat.
Bramantyo juga menjelaskan bahwa tim telah mempersiapkan berbagai aspek sebelum keberangkatan.
“Kami sudah mempelajari demografi masyarakat dan lingkungan budaya setempat, supaya intervensi yang diberikan bisa sesuai dengan budaya dan tradisi di sana,” katanya.
Selain itu, aspek keamanan, keselamatan, alat pelindung diri, dan logistik juga telah diperhitungkan dengan matang. Masa penugasan direncanakan berlangsung selama kurang lebih 16 hari dengan fokus di Kota Lintang.
Sementara itu, Alvanindya Nafik Ardani, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa bentuk pendampingan psikososial akan disesuaikan dengan hasil asesmen di lapangan.
“Untuk bentuk konkritnya, kami masih perlu melakukan asesmen. Tapi sebelumnya sudah ada tim psikososial yang terjun dan memberikan rekomendasi, itu yang akan kami pertimbangkan,” terangnya.
Ia menyebutkan bahwa kegiatan yang direncanakan meliputi psikoedukasi, konseling, serta aktivitas bermain bersama anak-anak.
“Fungsi psikososial itu ibaratnya mengalihkan sementara, supaya yang tadinya mungkin berada dalam fase kedukaan, kita bisa membantu mengembalikan senyum warga, termasuk anak-anak,” ujarnya.
Alvanindya menambahkan bahwa aktivitas bermain akan memanfaatkan permainan tradisional sebagai bentuk distraksi yang edukatif.
“Kami ingin mengenalkan game-game tradisional, seperti lompat tali dan permainan sederhana lainnya, agar anak-anak bisa kembali merasa aman dan senang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh program akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Terkait harapan setelah menjalani penugasan, Alvanindya menekankan pentingnya kebermanfaatan.
“Harapannya, apa yang kami berikan melalui psikososial ini bisa benar-benar bermanfaat bagi mereka, dan bisa bernilai amal bagi kami semua” ungkapnya. (*)

