30 C
Jakarta

Pengajian Ramadhan Aisyiyah Kukuhkan Korps Mubalighat

Baca Juga:

SEMARANG, MENARA62.COM – Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah menggelar Pengajian Ramadhan 1447 H sekaligus Pengukuhan Korps Muballighat dan Korps Instruktur Baitul Arqam ‘Aisyiyah Jawa Tengah, Ahad (22/6/2026), di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Kegiatan ini mengusung tema “Perempuan Berkemajuan: Memperkokoh Fikih, Ketahanan Keluarga, dan Spiritualitas di Era Digital.”

Acara dilaksanakan secara luring dan daring. Peserta luring diikuti jajaran PWA Jawa Tengah beserta pimpinan majelis dan lembaga, sedangkan peserta daring melalui Zoom diikuti 35 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-Jawa Tengah.

Ketua PWA Jawa Tengah, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., menegaskan bahwa pembentukan dan pengukuhan dua korps tersebut merupakan langkah strategis dan mendesak dalam menjawab dinamika zaman.

“Pengukuhan Korps Muballighat dan Korps Instruktur Baitul Arqam ini mendesak dilakukan. Pertama, karena kemajuan teknologi yang sangat pesat. Kedua, kita memerlukan organisasi yang terstruktur agar program berjalan lebih optimal. Ketiga, kebutuhan akan muballighat yang mumpuni semakin meningkat,” ujarnya.

Menurut Eny, percepatan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi digital pasca-Musyawarah Wilayah 2022 menuntut program yang lebih dinamis, progresif, dan adaptif. Karena itu, korps ini diharapkan mampu menjadi penggerak dakwah yang responsif terhadap kebutuhan zaman.

Ia menambahkan, ke depan korps serupa akan dibentuk di tingkat kabupaten/kota untuk memperluas jangkauan pembinaan hingga komunitas terkecil di tingkat desa dan ranting. “Korps ini akan mem-backup komunitas di wilayah masing-masing agar dakwah semakin luas dan menyentuh akar rumput,” katanya.

Selain pengukuhan, kegiatan juga diisi dengan pengajian pimpinan sebagai respons atas berbagai fenomena sosial yang mendesak untuk dikaji lebih mendalam.

Salah satu isu yang disorot adalah meningkatnya frekuensi bencana alam. PWA Jawa Tengah menilai pentingnya penguatan fikih kebencanaan agar syariat Islam lebih adaptif terhadap realitas, berlandaskan Al-Qur’an, hadis, serta kajian ilmiah yang relevan.

Di sisi lain, kemajuan teknologi informasi juga menjadi perhatian utama. Eny menekankan pentingnya literasi digital bagi kader ‘Aisyiyah agar dakwah semakin inklusif dan menjangkau masyarakat luas, tidak terbatas pada komunitas internal.

“Teknologi memungkinkan dakwah menjangkau seluruh Indonesia bahkan dunia. Karena itu, ibu-ibu ‘Aisyiyah harus menguasai literasi digital agar pesan dakwah tersampaikan dengan efektif kepada anak-anak, remaja, hingga perempuan dewasa,” tuturnya.

Penguatan ketahanan keluarga turut menjadi fokus pembahasan. Fenomena pernikahan dini, pernikahan siri, persoalan kesehatan mental remaja, hingga maraknya pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) dinilai berdampak serius terhadap kualitas hidup perempuan.

Menurut Eny, praktik pernikahan siri berpotensi memarginalkan perempuan jika tidak disikapi dengan kesadaran hukum dan perlindungan hak yang memadai. Karena itu, penguatan kompetensi, harga diri, dan kemandirian perempuan menjadi agenda penting dalam dakwah ‘Aisyiyah.

Melalui kegiatan ini, PWA Jawa Tengah berharap lahirnya korps muballighat dan instruktur yang solid, profesional, dan adaptif, sehingga mampu memperkokoh fikih, ketahanan keluarga, serta spiritualitas perempuan di tengah tantangan era digital. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!