28.2 C
Jakarta

Kajian Nurussalam Tekankan Ibadah Harus Berdampak

Baca Juga:

SUKOHARJO, MENARA62.COM — Sekitar 300 jamaah mengikuti Kajian Ahad Pagi di Masjid Nurussalam, Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (20/9/2026). Kajian tersebut mengajak umat Islam meningkatkan semangat beribadah sekaligus mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kajian yang berlangsung pukul 06.00–07.30 WIB itu menghadirkan Direktur Sekolah Vokasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Ir. Suranto, ST, MM, MSi, sebagai pembicara.

 

Ratusan jamaah putra dan putri dari Trangsan dan Luwang mengikuti tausiyah dengan saksama. Materi dikemas secara ringan dan interaktif, diselingi humor serta sulap edukasi yang membuat suasana kajian lebih hidup.

 

Ketua Kajian Ahad Pagi, Ustaz Agus Sholeh, S.Ag., sebelum kajian dimulai mengajak jamaah menjaga semangat dan motivasi dalam mempelajari Al-Qur’an serta sunah.

 

Menurutnya, semangat mengkaji ajaran Islam perlu terus dijaga agar ilmu yang diperoleh dapat membawa kemaslahatan bagi diri sendiri maupun umat.

 

Al-Qur’an Bukan Sekadar Dibaca

 

Dalam tausiyahnya, Prof. Suranto mengingatkan jamaah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

 

Ia mengangkat pesan dalam QS Shad ayat 29 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang penuh keberkahan agar manusia menghayati ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran darinya.

 

Menurut Suranto, ayat tersebut menjadi dorongan agar umat Islam tidak berhenti pada aktivitas membaca Al-Qur’an. Kandungannya perlu dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan.

 

“Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi dipahami, dihayati, dan diamalkan sehingga memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, umat, dan lingkungan,” jelasnya.

 

Ia juga mengingatkan QS Al-Hijr ayat 9 tentang jaminan Allah SWT terhadap kemurnian Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat tuntunan mengenai akidah, ibadah, akhlak, hukum, serta berbagai pelajaran kehidupan.

 

Karena itu, nilai-nilai Al-Qur’an semestinya menjadi pedoman seorang Muslim dalam berpikir, berbicara, mengambil keputusan, bekerja, hingga membangun hubungan sosial.

 

Tiga Fondasi Kehidupan Muslim

 

Suranto menjelaskan kehidupan seorang Muslim dapat dibangun melalui tiga fondasi, yakni akidah yang lurus, ibadah yang benar, dan amal saleh yang memberikan dampak.

 

Akidah menjadi dasar yang menguatkan keteguhan seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sementara ibadah merupakan tujuan penciptaan manusia sebagaimana ditegaskan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56.

 

Ibadah, kata dia, tidak terbatas pada ritual seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Aktivitas kehidupan juga dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai tuntunan agama.

 

“Ibadah yang benar semestinya tercermin dalam akhlak dan perilaku. Seseorang yang dekat dengan Allah diharapkan semakin jujur, amanah, peduli, dan bermanfaat bagi sesama,” tuturnya.

 

Karena itu, kesalehan pribadi perlu berjalan beriringan dengan kesalehan sosial. Wujudnya antara lain kepedulian terhadap keluarga, orang tua, anak yatim, kaum dhuafa, lansia, dan masyarakat yang membutuhkan.

 

Jamaah Diajak Rajin Muhasabah

 

Suranto juga mengajak jamaah melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Setiap Muslim perlu melihat kembali apakah ilmu dan ibadah yang dijalankan sudah memberikan perubahan dalam kehidupan.

 

Ukuran keberhasilan ibadah, menurut dia, bukan semata-mata banyaknya aktivitas keagamaan, tetapi sejauh mana ibadah tersebut membentuk akhlak mulia dan melahirkan manfaat nyata.

 

Pesan tersebut mendapat respons positif dari jamaah.

 

Ustaz Adi, salah seorang peserta kajian, menilai materi yang disampaikan relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Menurut dia, Al-Qur’an perlu semaksimal mungkin diamalkan sebagai pedoman hidup.

 

“Materi yang disampaikan Prof Suranto sangat cocok dengan keadaan kehidupan kita saat ini. Al-Qur’an semaksimal mungkin harus diamalkan sebagai pedoman hidup,” ujarnya.

 

Sementara itu, jamaah lainnya, Wahono, menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Ia berharap pengamalan Al-Qur’an dapat membentuk kesalehan yang tercermin dalam perilaku, kepemimpinan, pergaulan, hingga aktivitas perdagangan.

 

Dengan demikian, kajian Ahad Pagi di Masjid Nurussalam tidak hanya menjadi ruang menambah pengetahuan keislaman, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong jamaah menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an menjadi amal dan kemanfaatan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!