28.2 C
Jakarta

Pengajian PRA Kuncen Ceper Bahas Peran Perempuan

Baca Juga:

KLATEN, MENARA62.COM — Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Kuncen Ceper menggelar pengajian akbar bulanan di Gedung Desa Kuncen Ceper, Klaten, Jawa Tengah, Ahad (20/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat ukhuwah sekaligus meningkatkan kapasitas perempuan dalam menjalankan peran di keluarga dan masyarakat.

 

Pengajian yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.30 WIB itu menghadirkan Direktur Sekolah Vokasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Ir. Suranto, ST, MM, MSi, IPU, sebagai pembicara.

 

Sekitar 600 jamaah, baik warga Aisyiyah Kuncen maupun masyarakat umum, mengikuti kegiatan tersebut.

 

Ketua PRA Kuncen Ceper, Hj. Widiatmini, SH, dalam sambutannya mengajak jamaah menjaga keikhlasan dalam berorganisasi. Menurut dia, keluarga harus menjadi pusat keteladanan sekaligus ruang untuk meningkatkan ilmu dan kualitas diri.

 

Ia juga mendorong jamaah memperkuat ukhuwah dan saling mendukung dalam berbagai kegiatan Aisyiyah agar keberadaan organisasi semakin memberi dampak bagi masyarakat sekitar.

 

“Jadikan organisasi sebagai ruang untuk belajar, memperkuat ukhuwah, dan menjadi perempuan yang mandiri serta bermanfaat bagi masyarakat,” pesan Widiatmini.

 

Senada, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kuncen Ceper, Aditya Arief Kurniawan, S.Pd., M.Pd., mengajak jamaah mempertahankan semangat berorganisasi dan meningkatkan kepedulian terhadap keluarga maupun lingkungan.

 

“Jadikan setiap kegiatan sebagai ladang ibadah dan pengabdian. Semoga PRA semakin solid, aktif, dan mampu melahirkan kader perempuan yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta bermanfaat bagi umat dan masyarakat,” ujarnya.

 

Bahas Empat Peran Strategis Perempuan

 

Dalam kajiannya, Suranto membahas peran, tugas, dan tanggung jawab perempuan di era global dalam perspektif Islam.

 

Materi disampaikan dengan pendekatan fun learning dan active learning. Suasana pengajian dibuat interaktif, inovatif, kreatif, menyenangkan, namun tetap berbobot.

 

Penyampaian materi juga diselingi sulap edukasi yang disesuaikan dengan tema kajian. Metode tersebut membuat jamaah lebih antusias mengikuti materi hingga akhir.

 

Suranto menekankan keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun generasi dan masyarakat yang baik. Dari keluarga, menurut dia, lahir manusia yang mengenal Allah, memiliki akidah yang lurus, berakhlak mulia, dan siap menjalankan amanah kehidupan.

 

Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki posisi strategis karena menjalani berbagai fase kehidupan, antara lain sebagai anak, istri, dan ibu.

 

Sebagai anak, perempuan memiliki kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Hal itu dapat diwujudkan melalui sikap hormat, kasih sayang, tutur kata yang baik, menjaga nama baik keluarga, membantu orang tua ketika membutuhkan, serta mendoakan mereka.

 

Ketika menjadi istri, perempuan memiliki amanah sebagai pendamping hidup dan mitra dalam membangun keluarga. Relasi suami istri, kata Suranto, perlu dibangun atas dasar kasih sayang, tanggung jawab, saling menghormati, dan kerja sama dalam kebaikan.

 

Sementara sebagai ibu, perempuan memiliki peran besar dalam pendidikan generasi. Ibu menjadi salah satu pendidik pertama yang memperkenalkan iman, akhlak, adab, dan nilai kehidupan kepada anak.

 

“Karena itu, seorang ibu dituntut menjadi teladan dalam ibadah, ucapan, sikap, dan kebiasaan sehari-hari,” kata Suranto.

 

Perempuan Juga Punya Peran dalam Dakwah

 

Selain peran dalam keluarga, Suranto juga menekankan pentingnya kontribusi perempuan dalam dakwah.

 

Menurut dia, dakwah tidak selalu dilakukan melalui ceramah. Keteladanan, pendidikan, penguatan keluarga, hingga pelayanan sosial juga menjadi bagian penting dari dakwah.

 

Dengan ilmu, akhlak, dan kelembutan, perempuan dapat mengajak kepada kebaikan sekaligus berkontribusi mencegah kemungkaran.

 

Dakwah, lanjutnya, dapat dimulai dari keluarga sebelum berkembang ke lingkungan masyarakat yang lebih luas. Karena itu, perempuan didorong untuk terus belajar, aktif berorganisasi, dan berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

 

Antusiasme jamaah terlihat dari respons mereka setelah mengikuti kajian. Salah seorang jamaah, Ir. Afiqoh Ahmalia Fahmi, ST., MT., menilai materi yang disampaikan memberikan semangat untuk kembali memperdalam Al-Qur’an.

 

“Pesan yang disampaikan ustaz sangat mendalam dengan gaya jenaka. Tidak mengantuk dan penuh humor,” ujarnya.

 

Pengajian akbar bulanan PRA Kuncen Ceper tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan rutin, tetapi menjadi ruang pembelajaran dan penguatan kader perempuan agar semakin aktif berkontribusi bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!