SOLO, MENARA62.COM – Ejekan yang dianggap sekadar candaan bisa menjadi awal persoalan serius bagi siswa yang sedang beradaptasi dengan lingkungan baru. Fenomena itu menjadi perhatian tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kemitraan Internasional Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id.
Tim tersebut meraih pendanaan Hibah Internal 2026 melalui program “Pendampingan Psikososial Integratif Berbasis Tazkiyatun Nafs untuk Reduksi Bullying Verbal Siswa Transisi di MITTIS Selangor, Malaysia.”
Program ini menyasar siswa Tingkatan 1 di MITTIS Selangor yang tengah mengalami masa transisi dari sekolah rendah menuju sekolah menengah berasrama.
Ketua tim pengabdian, Dr. Triono Ali Mustofa, S.Pd.I., M.Pd.I., mengatakan masa transisi menjadi periode penting karena siswa tidak hanya menghadapi perubahan jenjang pendidikan, tetapi juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan membangun identitas diri.
“Bullying verbal cukup sering muncul pada siswa Tingkatan 1 yang sedang beradaptasi dari sekolah rendah ke sekolah menengah berasrama. Pada fase ini, siswa sedang membangun identitas diri, mencari penerimaan teman sebaya, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru,” kata Triono, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut perlu ditangani sejak awal agar ejekan, olok-olok, atau candaan negatif tidak berkembang menjadi pola relasi sosial yang tidak sehat.
Karena itu, tim UMS tidak hanya menggunakan pendekatan psikososial, tetapi mengintegrasikannya dengan nilai-nilai Islam melalui konsep tazkiyatun nafs dan psikologi perkembangan.
Pendekatan tersebut diarahkan agar siswa tidak sekadar memahami bahwa bullying merupakan perilaku yang salah. Mereka juga diajak mengenali emosi, mengendalikan diri, menjaga ucapan, membangun empati, serta menghargai orang lain.
“Keunikannya terletak pada integrasi antara psikologi perkembangan dan nilai-nilai Islam. Siswa tidak hanya diberi pemahaman bahwa bullying itu salah, tetapi juga diajak mengenali emosi, mengendalikan diri, menjaga ucapan, membangun empati, dan menghargai orang lain,” ujar Triono.
Ia menambahkan, perubahan perilaku diharapkan tumbuh dari kesadaran diri siswa, bukan semata-mata karena takut terhadap aturan sekolah.
Diukur dari Perubahan Sikap Siswa
Untuk mengetahui efektivitas pendampingan, tim akan melakukan pengukuran melalui pre-test dan post-test, observasi selama kegiatan, serta refleksi siswa.
Aspek yang diukur meliputi pemahaman tentang bullying verbal, perubahan sikap, kemampuan berempati, komunikasi positif, regulasi emosi, hingga kesadaran dalam menjaga perilaku terhadap teman sebaya.
Tim berharap pendekatan tersebut tidak berhenti pada kegiatan pengabdian, tetapi dapat dikembangkan menjadi model pendampingan yang relevan bagi berbagai lembaga pendidikan.
Model tersebut berpotensi diterapkan di madrasah, pesantren, sekolah berasrama, maupun sekolah umum. Namun, penerapannya tetap perlu menyesuaikan budaya sekolah, karakter siswa, serta kebutuhan masing-masing lembaga.
Tim pengabdian terdiri atas Dr. Triono Ali Mustofa, S.Pd.I., M.Pd.I.; Fiska Puspa Arinda, S.Psi., M.Psi.; Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A.; dan Maharsi Shobabiya, S.Pd.I., S.Psi., M.Psi.
Program ini juga melibatkan lima mahasiswa MPAI UMS, yakni Tamam Sholahudin, S.Pd.; Abil Fida Muhammad Qois Al Hadi, S.Pd.; Adinda Cantika Rini, S.Pd.; Nizar Naufal, S.Pd.; dan Namira Salsabila, S.Pd.
Melalui program tersebut, tim menargetkan terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih aman dan positif bagi siswa MITTIS Selangor. Dalam jangka panjang, pendekatan berbasis psikososial dan nilai Islam itu diharapkan dapat menjadi alternatif penguatan karakter sekaligus pencegahan bullying di lingkungan pendidikan.
“Target jangka panjangnya adalah membangun lingkungan sekolah yang aman, positif, dan mendukung perkembangan karakter siswa,” kata Triono. (*)

