BANDUNG, MENARA62.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan agama tetap memiliki masa depan di tengah modernisasi, sekularisasi, dan pesatnya perkembangan teknologi. Menurutnya, agama justru harus mampu beradaptasi dan menghadirkan nilai nyata bagi kehidupan masyarakat.
Hal itu disampaikan Haedar saat menghadiri peluncuran buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama karya Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga Kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Senin (5/10/2026).
Haedar mengapresiasi karya tersebut sekaligus menyampaikan selamat atas milad ke-74 Dadang Kahmad. Ia menilai Dadang memiliki kapasitas kuat dalam membahas masa depan agama karena pengalaman panjangnya sebagai sosiolog dan akademisi yang mendalami kajian agama.
Menurut Haedar, perubahan zaman tidak otomatis membuat agama ditinggalkan. Tantangan terbesar justru bagaimana umat beragama menerjemahkan nilai-nilai agama agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
“Agama tetap memiliki masa depan jika mampu beradaptasi dengan perubahan dan menghadirkan nilai yang nyata dalam kehidupan masyarakat,” kata Haedar.
Tiga Langkah Agar Agama Tetap Relevan
Haedar mengajak umat Islam, termasuk warga Muhammadiyah, melakukan tiga langkah penting agar agama tetap memiliki daya jawab di tengah perubahan zaman.
Pertama, menjadikan agama sebagai kanopi suci dalam kehidupan modern. Menurut Haedar, masyarakat modern semakin rasional dan hidup berdampingan dengan teknologi yang berkembang pesat.
Dalam situasi tersebut, agama dibutuhkan untuk memberikan arah sekaligus menjawab kegersangan spiritual yang dapat muncul di tengah kehidupan modern.
Kedua, menghadirkan agama di tengah generasi muda. Haedar menilai masa depan agama sangat dipengaruhi kemampuan organisasi keagamaan memahami karakter, cara berpikir, dan kebutuhan generasi muda.
Ia mencontohkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menjangkau generasi muda yang rasional karena menawarkan kepastian dalam penentuan waktu keagamaan.
Ketiga, menjadikan agama sebagai solusi atas persoalan masyarakat.
Menurut Haedar, agama tidak boleh berhenti pada ajaran normatif. Nilai agama harus mampu memberikan jawaban terhadap persoalan baru yang muncul akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI.
“AI begitu digdaya. Bisa tidak agama seperti itu? Jangan sampai manusia menjadi rendah diri di hadapan teknologi yang sebenarnya diciptakan manusia,” ujar Haedar.
Ia menegaskan agama harus hadir untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat. Karena itu, warga Muhammadiyah didorong terus memperluas wawasan dan tidak berhenti pada pemahaman agama secara normatif.
Muhammadiyah Diminta Rajin Membaca Masa Depan
Haedar juga mendorong Muhammadiyah memperbanyak kajian mengenai masa depan. Kemampuan membaca perubahan dinilai penting agar organisasi dapat menyiapkan respons sebelum tantangan berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Ia juga mengingatkan bahwa keberagamaan pada akhirnya harus tercermin dalam perilaku sosial. Nilai agama akan kehilangan makna apabila ucapan tokoh dan umat beragama tidak sejalan dengan tindakan.
“Kalau tokoh dan umat beragama kurang baik, dibungkus apa pun, ya kelihatan tidak baik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat Ahmad Dahlan menilai buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama dapat menjadi bahan refleksi bagi Muhammadiyah dalam membaca tantangan masa depan.
Menurut Ahmad Dahlan, gagasan Dadang Kahmad memberikan inspirasi bagi Muhammadiyah Jawa Barat untuk memperkuat gerakan sekaligus menyiapkan langkah strategis menghadapi perubahan.
“Buku ini mengilhami dan menginspirasi kami di Muhammadiyah Jawa Barat. Sekaligus menjadi warning bagi kita semua,” ujar Ahmad Dahlan.
Ia mengatakan gagasan dalam buku tersebut sejalan dengan visi Muhammadiyah Jawa Barat untuk terus berkemajuan sekaligus memiliki arah yang jelas dalam menghadapi masa depan.
PWM Jawa Barat, lanjutnya, akan terus mendorong langkah strategis agar Muhammadiyah tetap relevan dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, serta berbagai tantangan baru.
Ahmad Dahlan menegaskan Muhammadiyah tidak cukup hanya mempertahankan apa yang telah berjalan. Organisasi harus mampu membaca perubahan, merumuskan respons, dan menghadirkan gerakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Peluncuran buku tersebut turut dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad beserta keluarga, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, Sekretaris PP Muhammadiyah Izzul Muslimin, serta jajaran PWM Jawa Barat.
Hadir pula Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Azrul Tanjung, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujung Berung Tatang Zakaria, Sekjen MUI Pusat Amirsyah Tambunan, Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Muchlas Rowi, serta sejumlah rektor perguruan tinggi Muhammadiyah.
Dari lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, hadir Ketua Senat Mahmud, Rektor Rosihon Anwar, Direktur Pascasarjana Ahmad Sarbini, dan Dekan Fakultas Ushuluddin Wahyudin Darmalaksana.
Para pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah Jawa Barat serta pimpinan majelis dan lembaga PWM Jawa Barat juga hadir dalam acara tersebut. (*)

